Janji Yang Kau Ingkari

Janji Yang Kau Ingkari
37. Mengikuti alur


__ADS_3

"Hari ini begitu menyenangkan, terima kasih sudah mengajakku jalan-jalan dan meluangkan waktu bersamaku," ucap Adisti yang begitu tulus pada sepupunya.


Saat ini keduanya sedang bersantai di ruang keluarga. Setelah tadi selesai membersihkan diri, mereka langsung menikmati makanan dan kini bersantai. Para pekerja juga sudah ke kamar masing-masing.


"Ketahuan 'kan kamu kalau selama ini selalu sibuk saja dengan pekerjaan, tidak memanjakan diri dan refreshing! Sudah aku katakan berkali-kali, kamu boleh sibuk bekerja, tapi jangan lupa kesehatanmu juga. Kenapa kamu tidak pernah mendengarkan apa kata-kataku dan lebih mempercayai kata-kata Mak Lampir itu," gerutu Vira yang tampak sangat kesal.


Adisti senang melihat sepupunya yang kembali cerewet seperti dulu. Dia sungguh kehilangan momen kebersamaan seperti ini. Dulu setiap kali Adisti merasa lelah, selalu menemui Vira dan mengajak sepupunya jalan-jalan, tetapi sejak hubungan mereka tidak baik, keduanya pun saling menjauh. Bahkan tidak saling berkomunikasi lagi.


Hingga akhirnya Vira mengikuti papanya untuk tinggal di luar kota. Sejak saat itu Adisti merasa kesepian. Namun, untuk menghubungi kembali sepupunya dia merasa malu dan lebih memilih menyibukkan diri dengan kegiatan. Hanya sesekali saja wanita itu pergi bersama dengan Arsylla, itu pun kalau temannya yang mengajaknya. Jika Adisti yang mengajak, Arsylla tentu saja menolak dan mengatakan jika dirinya sibuk.


"Oh ya, kapan sidang perceraian kamu dimulai?"


"Nggak tahu. Mungkin dalam minggu ini, aku tidak begitu mengurusi hal itu. Aku sudah menyerahkan semuanya pada pengacara. Terserah mau bagaimana yang penting selesai."


"Memangnya kamu nggak mau datang? Kamu 'kan penggugat?"


"Nggak lah, aku mungkin datang saat pengadilan memutuskan untuk menerima gugatan tersebut. Sekarang malas, terlalu ribet pasti ada saja yang memperlambat jalannya sidang."


"Terserah kamulah! Semoga saja semuanya berjalan lancar," tukas Vira yang kemudian teringat seseorang. "Mengenai Yasa, apa kamu tidak ingin kembali padanya?" godanya dengan menaik turunkan alisnya.


Adisti memutar bola matanya malas. Sungguh saat ini dia tidak ingin membahas tentang laki-laki mana pun, terutama orang-orang yang pernah ada dalam hidupnya. Dia hanya ingin hidup tenang tanpa gangguan dari siapa pun. Apalagi dari seseorang yang pernah menorehkan luka.


"Apa kamu tidak bisa tanya yang lain saja? Aku sedang tidak ingin membahas tentang mereka."


"Tapi, Dis, kamu har—"


"Aku sudah lelah, Vir. Jangan sampai membuat mood-ku jadi buruk. Aku sudah mencoba untuk melupakan semuanya jadi, sekarang kamu tidak usah membahasnya lagi."

__ADS_1


Vira menghela napas pasrah. "Baiklah, terserah kamu. Aku mau ke kamar dulu, mau istirahat. Tubuhku capek banget."


Adisti hanya mengangguk sebagai jawaban. Vira pun segera menuju kamar tamu yang saat ini sudah menjadi kamarnya, sementara Adisti masih terdiam di ruang keluarga. Tidak ada yang salah dengan apa yang dikatakan oleh Vira, dia memang seharusnya memberi waktu pada Yasa untuk menjelaskan semuanya. Hanya saja ini sudah terlalu lambat, lagi pula itu juga sudah tidak penting lagi.


Entah bagaimana nanti jalan hidupnya, Adisti akan mencoba untuk menerima semuanya dengan ikhlas. Semoga saja berjalan tanpa ada hambatan yang berlebihan. Tidak mau terlalu memikirkan masalah yang ada, wanita itu pun kembali ke kamar, dia perlu mengistirahatkan tubuhnya yang sudah sangat lelah.


***


Sudah beberapa hari Vira tinggal bersama dengan adik saya dia juga ikut membantu sepupunya itu bekerja di butik tidak ada tanpa tanda Edwin menghubunginya. Hal itu tentu saja membuat Vira kesal karena menganggap papanya tidak membutuhkan dirinya malah meminta dia untuk menjaga Adisti.


Saat sedang sarapan ponsel Adisti berdering, ada panggilan masuk dari Pak Gunawan, yang meminta agar wanita itu datang ke perusahaan. Hari ini ada pertemuan dengan seluruh pemegang saham dan dirinya diminta untuk datang karena dia juga termasuk di dalamnya. Padahal Adisti sudah menyerahkan semuanya pada Pak Gunawan, tapi pria itu menolak karena sekarang ada pemilihan pemimpin baru.


"Jadi aku pergi ke butik sendiri nih?" tanya Vira pada Adisti saat sepupunya itu selesai berbicara.


"Iya, aku harus ke perusahaan Om Gunawan. Nggak tahu ada apa. Biasanya juga aku nggak pernah terlibat urusan perusahaan atau lainnya," sahut Adisti sedikit kesal. Dia juga sangat tidak suka berurusan dengan perusahaan, apalagi saat harus dengan tumpukan dokumen. Urusan butik saja terkadang sudah membuatnya lelah.


"Oh ya, semalam papa kamu hubungin aku, katanya nomornya kamu blokir? Dia sudah hubungin kamu tapi nggak bisa-bisa."


"Habisnya aku kesel sama papa, gak nyariin aku," sahut Vira dengan cemberut.


"Bukan nggak nyariin, tapi memang dia sengaja nggak mau hubungin kamu. Takutnya kangen sama kamu, sudah sebaiknya kamu buka blokirannya, terus hubungi papamu, kasihan dia sendiri nggak ada temennya atau enggak suruh saja datang ke sini. Aku juga kangen sama Om Edwin."


"Papaku lebih tua daripada kamu, seharusnya kamu yang datang ke sana berkunjung, bukan malah orang tua yang suruh datang ke sini."


"Kalau itu mah nanti juga ke sana. Kalau sekarang aku lagi ada kerjaan."


"Tahu deh, orang yang paling sibuk," cibir Vira.

__ADS_1


"Bukan begitu, kamu mah nyari perkara saja. Sudahlah! Biar nanti aku hubungi Om Edwin sendiri. Sekarang ayo! Aku anterin kamu ke butik dulu. Aku juga ada keperluan sebentar di sana. Nanti baru aku ke kantor Om Gunawan. Lagian meeting-nya juga agak siang." Vira pun mengangguk dan mengikuti Adisti.


***


"Tumben banget aku harus datang, Om? Biasanya semuanya aku serahkan sama Om. Kenapa sekarang aku harus datang ke sini secara langsung?" tanya Adisti saat bertemu dengan Gunawan. Dia datang lebih awal jadi, lebih memilih untuk menemui Gunawan terlebih dahulu.


"Ini memang kesepakatan semua pemegang saham. Meskipun orang itu memiliki saham satu persen dia harus mendatang hari ini karena mulai sekarang, setiap kali ada proyek baru semua pemegang saham akan diikutsertakan secara langsung tidak boleh diwakilkan, kecuali ada halangan tertentu, sedangkan kamu tidak ada apa-apa, seat juga jadi, lebih baik kamu datang sendiri," sahut Gunawan sambil memeriksa berkas yang ada di depannya.


"Lagian, Om, tidak ada yang tahu kalau aku juga salah satu pemegang saham. Semuanya tahunya kalau Om yang punya saham itu jadi, kenapa bukan Om saja sendiri yang datang dan mengakui kalau saham itu punya Om."


"Eh! Mana bisa begitu. Semua pemegang saham di perusahaan ini sudah ada datanya, mana mungkin tidak tahu. Kamu saja yang tidak pernah terjun ke perusahaan jadi, mana tahu. Padahal semua juga sudah tercatat di pembukuan."


Adisti menghela napas, memang dirinya yang tidak tahu apa pun tentang bisnis yang dimiliki oleh Gunawan. Butik yang dimilikinya pun semuanya murni miliknya sendiri, tanpa ada bantuan orang lain. Semuanya murni miliknya sendiri, bahkan untuk supplier kain pun dia selalu membayar di awal karena tidak ingin ada masalah dengan siapa pun di kemudian hari, kecuali jika itu berhubungan dengan fashion show atau pagelaran dan sejenisnya, pasti dia akan langsung menerima.


"Jadi nanti meetingnya membahas apa saja? Apa yang harus aku lakukan?"


Gunawan pun menjelaskan secara rinci pada Adisti mengenai pemilihan pemimpin baru. Semua pemegang saham berhak menentukan pilihannya. Nanti akan ada dua atau tiga orang yang akan dicalonkan. Peserta meeting semuanya ada sekitar dua puluh orang.


"Kalau kamu mau mencalonkan diri juga tidak apa-apa, semua orang berhak mencalonkan diri."


"Nggak ah! Saham saya 'kan kecil, Om. Lagi pula aku juga tidak tertarik dengan perusahaan."


"Aku 'kan tadi sudah bilang semua orang berhak mengajukan diri, lagi pula saham kamu itu termasuk besar."


"Enggak mau, Om. Aku nggak tertarik, nanti aku pilih Om saja. Om mencalonkan diri lagi, kan?"


Gunawan mengangguk, matanya memandang kosong ke depan. "Om terlalu berat jika harus menyerahkan kepemimpinan perusahaan ini pada orang lain. Meskipun perusahaan ini bukan Om sendiri yang mendirikan, tapi bersama dengan ayahmu dan Hendra, tetap saja Om tidak rela jika jatuh ke orang yang salah. Apalagi sekarang ada pemegang saham baru yang merupakan anak dari orang yang berselisih dengan Om."

__ADS_1


__ADS_2