
"Papa dan Mama pasti akan menerimamu. Kamu sudah mengenal mereka, tidak akan sulit untuk semakin mengenal lagi," ucap Yasa.
"Tapi aku tetap takut jika kedua orang tuamu tidak setuju. Kita sudah lama tidak bertemu, pasti ada perasaan berbeda dengan dulu," jawab Adisti dengan rasa tidak percaya dirinya.
"Bagaimana kalau besok aku jemput kamu dan kita ke rumah kedua orang tuaku, biar kamu nggak berpikir yang tidak-tidak mengenai mereka."
Adisty menatap tajam ke arah Yasa dan berkata, "I–iya, tapi nggak harus besok juga, kan? Aku juga perlu menyiapkan diri."
"Menyiapkan diri apa lagi? Tidak perlu repot. Kamu datang dengan apa adanya dirimu saja, pasti sudah membuat kedua orang tuaku bahagia."
Adisti berusaha menolak permintaan Yasa. Namun, pria itu meyakinkan bahwa semuanya akan baik-baik saja nanti, tidak akan ada yang berani menyakitinya. Jika ada pun sudah pasti akan berurusan dengan dia. Hingga akhirnya Adisti mengiyakan saja, tapi wanita itu juga perlu waktu untuk menyiapkan hati dan mentalnya.
Yasa pun memberinya waktu selama satu minggu. Minggu depan barulah mereka akan menemui kedua orang tua Yasa. Keduanya tidak ingin terlalu lama menunda rencana baik, takut jika nanti malah akan gagal. Pria itu juga takut jika Adisti berubah pikiran.
***
Sementara itu, Bryan yang ada di rumah sedang mencari lowongan pekerjaan lewat ponselnya. Setiap hari pria itu selalu berusaha. Namun, sampai detik ini tetap saja belum ada panggilan kerja. Padahal sudah banyak dia mengirim lamaran kerja di beberapa perusahaan. Bryan juga memiliki pengalaman kerja, tetapi kenapa mereka semua seolah enggan memberinya pekerjaan.
__ADS_1
Pria itu berpikir apakah mungkin ini ada hubungannya dengan Adisti? Apakah mungkin mantan istrinya sudah menyebarkan berita buruk tentang dirinya pada para pemimpin perusahaan, hingga membuat dia susah untuk mencari pekerjaan.
Sahna sendiri setiap hari selalu marah-marah pada sang suami karena tidak bisa memenuhi keinginannya. Tidak seperti dulu yang hanya tinggal berkata saja pasti sudah terpenuhi. Sekarang semuanya serba sulit, untuk memenuhi ngidamnya saja Bryan tidak mampu menurutinya.
"Setiap hari Mama selalu melihat kamu dan Sahna bertengkar. Apa kalian tidak bisa hidup tenang di rumah ini? Mama sampai pusing mendengarnya," cerca Mama Lusi pada Bryan.
"Mama juga pasti sudah mendengar apa yang Sahna katakan jadi, aku tidak perlu menjelaskan lagi."
Mama Lusi menarik napas dalam-dalam dan membuangnya kasar. "Kalau tahu istrimu akan seperti ini, Mama juga tidak akan pernah mau menyetujui pernikahan kalian. Dibandingkan dengan Adisti, Sahna sama tidak ada apa-apanya. Selama di sini menjadi istrimu, Adisti selalu menjalankan tugasnya dengan baik. Bahkan saat datang ke rumah Mama pun dia juga memperlakukan Mama dengan baik selayaknya orang tua sendiri. Adisti juga tidak malu untuk mengerjakan pekerjaan rumah. Saat Mama sakit pun dia yang menemani Mama, membuatkan Mama bubur, sementara Sahna, dia jarang sekali masuk dapur bahkan bisa dihitung pakai jari. Itu pun hanya untuk mengambil minuman atau makanan. Padahal dulu sebelum menikah dia sering membawakan Mama makanan, bahkan terkadang juga membantu Mama masak di rumah. Sekarang kenapa berbeda sekali?"
"Sekarang Sahna 'kan sedang hamil, Ma. pasti itu juga karena bawaan bayi. Bukankah Mama kemarin sering mengatakan hal seperti itu?"
"Mama tenang saja, nanti kalau anakku sudah lahir pasti Sahna juga akan berubah. Pasti jiwa keibuannya akan muncul. Sekarang dia masih hamil, masih belum perhatian, apalagi selama ini dia juga selalu dimanja oleh kedua orang tuanya. Saat bersamaku sebelumnya juga apa pun keinginannya aku selalu berusaha mewujudkannya. Sekarang kehidupan kita seperti ini jadi, pasti dia sedikit terkejut. Butuh beberapa waktu untuk menyesuaikan diri," lanjut Bryan yang sebenarnya bertolak belakang dengan apa yang dia rasakan.
Bryan tidak tahu apakah nanti Sahna bisa berubah atau tidak. Saat ini yang ada di kepalanya adalah bagaimana caranya agar bisa mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang tinggi. Dia ingin bisa kembali dengan kehidupannya yang dulu. Meskipun rasanya sangat tidak mungkin, tetapi Bryan masih tetap berusaha agar bisa mendapatkan pekerjaan.
Pintu rumah Bryan diketuk oleh seseorang dari luar, segera Mama Lusi membukanya. Wanita itu cukup terkejut saat mendapati Arsylla yang datang. Rasa kesal dan ingin balas dendam sudah menyelimuti hati, sebisa mungkin dia meredamnya.
__ADS_1
"Oh rupanya kamu yang datang. Ke mana saja selama ini? Setelah membuat kehidupan putraku hancur berantakan, kamu seenaknya saja meninggalkannya begitu saja. Kamu yang seharusnya bertanggung jawab penuh dengan apa yang terjadi pada putraku."
"Tante ini bicara apa sih! Apa yang terjadi pada Bryan itu tidak ada sangkut pautnya denganku. Dia sendiri yang sudah menentukan kehidupannya. Dia juga sudah besar, aku hanya memberi saran, semua keputusan ada padanya," sahut Arsylla dengan santai.
"Kamu—"
Mama Lusi hampir saja menampar wajah Arsylla. Namun, dengan sigap gadis itu menangkap pergerakan tangan wanita paruh baya yang ada di depannya. Arsylla bukan orang yang lemah, mana mungkin mau ditindas oleh orang lain.
"Tante mau apa? Mau memukulku? Jangan samakan aku dengan menantu Tante, yang akan menerima apa pun perlakuan Tante. Saya datang ke sini hanya ingin bertemu dengan Bryan, ada sesuatu yang ingin saya bicarakan dengannya."
"Untuk apa lagi kamu menemuinya? Kedatanganmu itu hanya membawa malapetaka untuk keluargaku. Sebaiknya kamu segera pergi dari rumah ini!" hardik Mama Lusi sambil melototkan matanya.
"Saya tidak akan pergi sebelum menemui Bryan. Sekarang katakan padanya aku sedang menunggu di sini."
"Tidak akan aku biarkan kamu bertemu dengan putraku. Sebaiknya kamu segera pergi dari sini! Kehidupan kami sudah sangat menderita, saya tidak mau semuanya semakin bertambah runyam."
"Ma, siapa yang datang? Kenapa berisik sekali?" tanya Bryan sambil berjalan ke arah depan.
__ADS_1
Dia tadinya duduk di ruang keluarga, saat mendengar suara keributan dari luar, pria itu yakin jika sang mama tengah berdebat dengan tamunya. Sudah cukup lama Mama Lusi ke depan. Takut ada masalah yang serius membuat pagar. Sampai sekarang belum kembali juga.
Bryan beralih ke arah depan dan ternyata di sana memang sudah ada Arsylla. "Ada apa kamu ke sini? Setelah apa yang terjadi padaku kamu pergi begitu saja. Sekarang kamu berdiri di depanku tanpa rasa bersalah sedikitpun. Entah hatimu itu terbuat dari apa. Aku merasa bodoh karena sudah percaya padamu begitu saja."