
Bryan pun terpaksa mencari makanan sendiri di dapur karena sang istri benar-benar tidak mau menyiapkan makanan untuknya. Ternyata saat di dapur tidak ada lauk sama sekali, hanya ada nasi yang berada di magic com. Pria itu pun mencoba membuka lemari pendingin dan di sana hanya ada telur, tidak ada yang lainnya. Dia memutuskan untuk membuat nasi goreng.
Bryan pernah memasaknya bersama dengan Adisti. Wanita itu pernah mengajarinya karena saat itu dia akan pergi ke luar kota dan tidak ingin sang suami makan sembarangan. Pria itu tersenyum, teringat begitu banyak perhatian yang diberikan oleh mantan istrinya. Hanta dirinya saja yang selama ini kurang bersyukur.
Saat Bryan sedang sibuk dengan nasi gorengnya. Sahna datang karena sudah dari tadi wanita itu mencium bau harum masakan dari dapur. Tidak menyangka jika suaminya bisa masak juga.
"Kamu lagi masak apa, Mas?" tanya Sahna sambil melongokkan kepalanya. "Wah! Nasi goreng ya! Masak yang banyak ya, Mas. Aku juga lapar."
Bryan semakin kesal pada sang istri. Dari tadi dia meminta wanita itu menyiapkan makanan, tetapi tidak mau. Sekarang giliran dirinya yang masak seenaknya saja meminta bagian. Jika tidak ingat ada bayi dalam perut Sahna, Bryan sudah memberinya pelajaran.
"Aku tadi memintamu untuk masak, tapi kamu nggak mau. Sekarang kenapa kamu malah minta aku untuk membuatkan nasi goreng untukmu juga? Seharusnya ini menjadi tugasmu."
"Mas, kamu ingat 'kan aku ini lagi hamil. Aku mudah capek dan aku sekarang juga lagi ingin makanan itu. Sudah, nggak usah banyak protes. Sebaiknya segera selesaikan, aku sudah lapar."
Bryan hanya menggelengkan kepala, berdebat dengan Sahna hanya akan menguras tenaga.
***
"Bu, ada orang yang sepertinya sedang memata-matai rumah Anda," ucap Roni—orang kepercayaan Adisti—yang dulu pernah ditugaskan dalam mencari tahu pernikahan Bryan. Keduanya berbicara lewat sambungan telepon.
"Memata-matai rumahku? Apa kamu tahu siapa pelakunya dan apa motifnya?" tanya Adisti.
"Saya kurang tahu, tapi dari pengamatan saya mereka orang hebat. Bahkan mereka juga meretas CCTV yang ada di rumah Ibu."
Adisti terkejut, ada perasaan takut yang dia rasakan. Biasanya jika ada yang mengancam keselamatannya, Roni yang akan menyelamatkannya. Kali ini sepertinya sulit karena lawannya ternyata lebih hebat.
"Kira-kira siapa pelakunya, sampai seberani itu?"
"Saya kurang tahu, kemungkinan dia bukan berasal dari kota ini. Saya akan segera mencari tahu tentang pelaku. Mudah-mudahan mereka memiliki sisi kelemahan, tapi Anda juga tetap harus waspada. Jika ingin ke mana-mana selalu bawa Alex bersama Anda. Oh ya! Saya lihat di rumah Anda masih ada Tuan Edwin dan putrinya, apa benar?"
__ADS_1
"Iya, sebenarnya tadi pagi mereka mau pulang, tapi om Edwin merasa tubuhnya kurang sehat jadi kepulangannya itu ditunda dulu."
"Oh begitu, apakah mungkin ini ada hubungannya dengan Pak Edwin atau putrinya? Apa mereka sedang ada masalah atau yang lainnya?"
"Apa seperti itu? Aku juga kurang tahu karena memang tidak pernah bertanya urusan Om Edwin. Vira juga tidak pernah bercerita apa pun, apalagi masalah pekerjaan. Apa mungkin orang itu musuh Om Edwin?"
"Ada kemungkinan seperti itu, Bu, tapi kita tidak bisa menyimpulkannya begitu saja. Kita masih harus mencari bukti-bukti yang lainnya."
"Aku serahkan semuanya padamu. Jika kamu sudah mengetahui pelakunya, segera hubungi aku secepatnya."
"Baik, Bu, nanti akan saya usahakan untuk mencari tahu siapa mereka."
Adisti mematikan sambungan telepon, berpikir kira-kira siapa yang ingin berbuat jahat dengannya. Mungkin juga orang itu ingin berbuat baik, tapi apakah mungkin dalam keadaan yang tegang seperti ini.
"Apa ada orang lain yang diawasinya selain aku? di rumah ini juga ada Om Edwin dan juga Vira, tapi apa mungkin mereka yang akan menjadi yang sasaran? Rasanya tidak mungkin. Semoga saja Roni bisa mengetahui motif mereka secepatnya. Apalagi Om Edwin dan Vira juga besok akan kembali besok," gumam Adisti dalam hati.
Saat Adisti berada di taman seorang diri, tiba-tiba Edwin datang menghampiri keponakannya. Pria itu ingin bercerita banyak hal dengan Adisti. Sudah sangat lama mereka tidak berbicara berdua.
"Aku hanya belum mengantuk jadi, lebih baik duduk di taman saja."
Edwin ikut duduk di samping Adisti, ingin menikmati dinginnya angin malam.
"Kenapa Om juga tidak tidur? Om harus jaga kesehatan."
"Sama seperti kamu, Om juga tidak bisa tidur," jawab Edwin dan mengembuskan napas pelan. "Om ingin minta maaf padamu. Om belum mengatakan maaf dengan benar. Walaupun Om orang tua tapi, jika salah tetaplah salah jadi, Om minta maaf padamu karena sudah bekerja sama dengan Bryan untuk menculik kamu."
"Aku sudah melupakan hal itu. Aku juga sudah tidak lagi mempermasalahkannya. Aku tahu saat itu Om hanya sedang kesal, aku sangat mengerti hal itu. Sekarang sebaiknya tidak usah bahasa hal itu lagi. Semuanya juga sudah lewat."
Edwin mengangguk dan mencoba mencari topik pembicaraan lain. "Bagaimana pekerjaanmu?"
__ADS_1
"Alhamdulillah baik, Om. Semuanya bisa terkendali."
"Apa setelah menikah nanti kamu tetap akan bekerja atau di rumah saja sebagai ibu rumah tangga?"
"Aku belum memikirkannya, tapi Yasa bilang dia tidak akan melarangku jika tetap ingin bekerja. Aku juga tidak mungkin meninggalkan butikku begitu saja. Lihat nanti saja, Om."
"Apa pun yang menjadi pilihanmu harus tetap dengan izin suamimu. Om yakin jika Yasa bisa menjagamu dengan baik."
"Amin, doakan saja yang terbaik untuk pernikahan kami nanti."
"Om akan selalu mendoakan kalian. Jika ada sesuatu yang kurang persiapan pesta segera hubungi Om. Bagaimanapun juga Om ini orang tuamu juga."
"Om tenang saja. Om juga pasti sudah tahu bagaimana Yasa, dia pasti bisa menyelesaikan semuanya dengan baik."
"Dia memang tidak diragukan lagi," gumam pria itu pelan.
"Oh ya, mengenai perjodohan Vira bagaimana?"
Om menunduk sejenak sambil membuang napas pelan. "Kamu pasti sudah mendengarnya dari Vira, kan? Ternyata Om salah menilai orang. Om sangat merasa bersalah pada Vira, seharusnya memang tidak memaksakan kehendak padanya, tapi jika tidak memaksanya, kapan dia akan menikah. Mungkin sampai Om meninggal pun dia tetap akan sendiri."
"Om jangan bicara seperti itu. Mungkin Vira dan laki-laki itu memang tidak berjodoh. Semoga nanti ada pria baik yang akan menikahi Vira. Percaya saja pada takdir."
Keduanya pun berbincang banyak hal, hingga tanpa sadar waktu sudah semakin larut dan memutuskan untuk kembali ke kamar masing-masing.
Paginya Edwin dan Vira benar-benar pulang ke rumahnya. Sebenarnya Adisti masih ingin mereka ada di sini, tetapi dia tidak bisa menahannya. Apalagi saat Om Edwin bilang masih ada tanggung jawab yang menanti jadi, wanita itu pun hanya bisa merelakan saja.
Adisti sendiri bersiap akan pergi ke butik bersama dengan Alex. Sebenarnya Yasa tadi pagi sudah menghubunginya dan ingin menjemput wanita itu. Namun, Adisti menolak karena tidak ingin terlalu merepotkan tunangannya itu. Lagi pula sudah ada Alex yang sudah digaji.
Saat di perjalanan perasaan Adisti mulai tidak enak. Dia merasa ada sesuatu yang akan terjadi, tetapi entah itu apa. Wanita itu hanya bisa berdoa semoga dirinya dan Alex baik-baik saja. Tiba-tiba saja sopir menginjak rem dengan cepat, membuat Adisti terdorong ke depan dan membentur kursi di depannya.
__ADS_1
"Ada apa, Alex?"