
"Bryan dan mamanya itu benar-benar manusia tidak tahu malu, ya! Bisa-bisanya mereka datang ke sini dan berkata seperti itu. Benar-benar urat malunya sudah putus, seharusnya dia itu tahu diri dan tidak datang lagi ke rumah ini. Andai saja membunuh orang tidak berdosa, sudah aku lakukan dari tadi," gerutu Vira yang begitu kesal dengan suami dari sepupunya itu. Berbagai sumpah serapah keluar dari bibir sepupunya itu.
"Sudahlah, Vir, kamu tidak usah menggerutu begitu. Anggap saja mereka orang yang tidak kita kenal dan sedang ingin mencari masalah. Nggak penting juga kan menanggapi ucapan pria itu, yang ada nanti tekanan darah kamu naik dan itu tidak baik untuk kesehatan," sahut Adisti dengan santai.
"Bagaimana bisa aku pura-pura tidak tahu, dia itu sudah benar-benar buat aku kesal. Ingin sekali aku bejek-bejek itu muka wanita tua yang tidak tahu diri. Sudah bau tanah, nggak ada tobat-tobatnya. Dia sudah berumur, tapi tidak sadar diri."
Adisti hanya menggelengkan kepala melihat tingkah sepupunya yang memang selalu seperti itu, mudah terpancing emosinya. "Sudah, sebaiknya sekarang kamu mandi sana? Dinginkan kepala kamu itu, biar tidak meledak," ujar Adisti yang kemudian berlalu dari sana.
Vira mencebikkan bibirnya melihat tingkah sang sepupu. Entah kenapa bisa dia memiliki sepupu seperti itu, yang selalu saja cuek dengan hal-hal seperti ini. Seharusnya sebagai istri yang tersakiti Adisti lebih agresif, tapi ini malah pasrah begitu saja. Kalau gadis itu yang sudah menjadi Adisti pasti sudah dia bejek-bejek sampai tak berbentuk.
Enak saja setelah apa yang dilakukan mereka bisa hidup tenang, tapi percuma juga marah-marah Adisti juga terlihat biasa saja, tidak ada niat untuk membuat hidup mereka lebih sengsara lagi. Mungkin juga dirinya yang tidak tahu.
Sementara itu, Adisti yang berada di kamar juga begitu kesal. Sampai detik ini dia sudah cukup baik untuk tidak membuat hidup mereka lebih sengsara lagi, tapi sepertinya mereka semakin menguji kesabarannya. Jika sampai Bryan mempersulit persidangan, sepertinya dirinya harus melakukan hal yang sedikit kejam. Terserah mereka mau bilang apa. Asalkan Adisti bisa lepas dari Bryan, akan dia lakukan apa pun, sudah cukup muak juga dengan tingkah pria itu.
***
Pagi-pagi sekali Bryan sudah siap dengan tampilannya yang begitu rapi. Sahna yang melihat itu pun merasa aneh karena dari kemarin sang suami tidak mengatakan apapun jika dirinya hari ini akan pergi.
"Kamu mau ke mana, Mas? Apa kamu sudah dapat pekerjaan?" tanya Sahna.
"Tidak," jawab Bryan singkat yang semakin membuat Sahna penasaran.
"Kalau kamu tidak bekerja, lalu mau ke mana rapi begitu? Jangan bilang kalau kamu mau menemui mantan istrimu itu."
__ADS_1
Segera Bryan menatap ke arah istri keduanya itu dengan tajam. "Dengar, ya! Adisti itu istriku, bukan mantan. Kamu jaga mulutmu agar tidak salah berbicara kalau tidak ...."
"Kalau tidak apa? Aku tidak salah bicara, kan? Apa bedanya sekarang atau nanti? Bukankah dia sudah mengajukan perceraian? Sebentar lagi juga sudah menjadi mantan istri. Oh ... aku baru ingat kalau hari ini adalah sidang perceraianmu kamu mau datang ke sana ya? Aku doakan semoga perceraian kamu segera terlaksana," ucap Sahna dengan tersenyum yang dibuat semanis mungkin.
Bryan menatap tajam ke arah Sahna. Namun, wanita itu tidak menghiraukan dan memilih berlalu menuju ruang makan. Lebih baik dia menikmati sarapan dengan tenang, sebelum mertua dan suaminya membuat mood-nya buruk dan tidak berselera makan. Sahna sudah cukup muak dengan tingkah mereka.
Semakin hari dia semakin dibuat kesal oleh sang suami. Alih-alih hidup bahagia setelah menikah dengan Bryan, nyatanya kini sama saja seperti kehidupannya sebelumnya, bahkan jauh lebih menderita. Kalau tahu akan seperti ini, mana mau dirinya menikah dengan Bryan. Apalagi harus dijadikan istri kedua.
Arsylla sendiri sampai detik ini tidak lagi bisa dihubungi, lebih tepatnya nomornya sudah diblokir, tapi percuma juga sepupunya itu kehidupannya sama mirisnya seperti dia. Tidak ada yang baik-baik saja setelah semuanya terbongkar. Ternyata pengaruh Adisti begitu besar bagi Bryan dan Arsylla, yang tidak Sahna mengerti, bagaimana mungkin mereka mengkhianati orang memiliki pengaruh begitu besar.
Seandainya dirinya yang menjadi Arsylla, sudah pasti dia akan selalu mengikuti perintah Adisti. Bahkan jadi kacungnya pun tak apa, selama Adisti bisa memenuhi semua keinginannya. Tidak seperti dirinya yang harus menikah dengan Bryan dan sekarang malah tidak mendapatkan apa-apa. Sah a menghela napas panjang, mengingat nasib buruk yang sedang dialaminya.
"Enak sekali kamu, tidak mau masak, tapi setelah semua siap kamu enak-enakan menikmatinya lebih dulu tanpa menunggu yang lain. Seharusnya kamu itu tahu diri, kamu di sini cuma numpang, seharusnya kamu melakukan pekerjaan yang lain. Kalaupun tidak bisa memasak, setidaknya bersihkan rumah ini. Jangan hanya bisanya ongkang-ongkang kaki saja dan perintah sana-sini," hardik Lusi yang baru keluar dari kamarnya.
"Hei! Kamu dengar aku berbicara tidak? Aku sedang bicara denganmu!" teriak Lusi dengan berkacak pinggang.
"Bisa diam nggak sih? Aku ini sedang makan, lebih baik Mama makan saja, enggak usah ribet-ribet."
"Tanpa kamu suruh juga aku akan makan karena ini aku yang masak. Kamu sebagai seorang istri harusnya tahu diri. Pokoknya aku nggak mau tahu kamu harus membersihkan seluruh rumah sampai bersih. Tidak ada bantahan."
"Ma, aku sedang hamil, mana bisa mengerjakan semua itu. Badan aku sudah capek membawa perutku yang besar ini," sahut Sahna beralasan.
Dari kecil wanita itu selalu dimanja oleh kedua orang tuanya, mana mungkin dia mau melakukan pekerjaan itu, lebih tepatnya tidak bisa dan tidak mau. Kenapa tidak memakai pembantu saja? Malah dipulangkan kemarin, itu juga dengan gaji yang masih kurang.
__ADS_1
"Kamu itu cuma beralasan saja. Aku juga pernah hamil, tapi tidak seperti dirimu."
"Ya jelas beda dong, Ma. Yang aku kandung ini, benih berkualitas dia harus dimanja dan diperlakukan lebih istimewa.
"Apanya yang berkualitas? Semenjak kehadiran kamu dan bayi kamu itu, hidup kami jadi lebih sengsara. Berbeda dengan dulu, apa pun yang aku minta semuanya bisa dengan mudah aku dapat. Sekarang semuanya hilang begitu saja karena kamu pembawa sial."
Mendengar apa yang dikatakan sang mertua membuat Sahna kesal, dia mengepalkan tangannya dengan begitu kuat. Selama ini tidak ada seorang pun yang menghinanya seperti ini, tetapi sekarang berani-beraninya Lusi berkata seperti itu.
"Mama pikir aku tidak? Aku juga sudah kehilangan semuanya. Aku kehilangan masa mudaku, seharusnya saat ini aku bisa bersenang-senang, tapi lihatlah sekarang karena menikah dengan putra Anda, hidup saya jadi sengsara seperti ini. Ke mana-mana tidak bisa karena perutku sudah membesar. Aku sekarang juga sudah tidak bisa berbelanja lagi karena putramu sudah tidak bekerja dan tidak memberiku uang. Aku menyesal sudah menikah dengan putramu!" serunya dengan geram.
"Oh, jadi kamu menyesal sudah menikah denganku?" tanya Bryan yang baru saja keluar dari kamarnya, seketika membuat wajah Sahna memucat.
Namun, dia terlalu gengsi jika harus mengalah pada Bryan. Wanita itu pun mencoba untuk terlihat seperti orang yang angkuh. "Memang kenapa? Benar 'kan apa yang aku katakan? Kamu sudah tidak memberiku uang. Jangankan memberiku uang untuk kebutuhanku, untuk kebutuhan kamu sendiri saja kamu tidak punya. Untuk pergi ke mana-mana juga harus naik ojek. Bahkan dulu saat bersama dengan kedua orang tuaku, aku masih bisa bersenang-senang dan pergi ke mana pun sesuka hatiku."
Bryan semakin emosi karena Sahna menganggap apa yang dia lakukan selama ini tidak ada artinya. Padahal sudah terlalu banyak yang pria itu berikan.
"Apa kamu lupa dengan apa yang sudah aku lakukan selama ini? Aku selalu menuruti semua keinginanmu, hanya akhir-akhir ini aku tidak memberimu uan, tapi kamu sudah bertingkah."
"Memang akhir-akhir ini, tapi apa kamu lupa jika rumahku sekarang sudah diambil oleh istri pertamamu? Kamu juga sebagai seorang suami tidak bisa tegas dalam menghadapi istrimu. Seharusnya kamu bisa mengambilnya lagi."
"Apa kamu tidak ingat kalau rumah itu diambil oleh perusahaan sebagai ganti uang kantor yang sudah aku ambil? Semua uangnya juga sudah kamu nikmati."
Sahna tertawa mengejek. "Aku menikmatnya? Apa tidak salah? Ibumu juga ikut menikmatinya jadi jangan hanya menyalahkan aku sendiri."
__ADS_1