Janji Yang Kau Ingkari

Janji Yang Kau Ingkari
87. Penawaran atau lamaran


__ADS_3

Suasana gedung di mana tempat resepsi pernikahan Yasa dan Adisti terlihat begitu ramai. Seluruh keluarga semuanya hadir, hanya satu dua saja yang tidak datang. Hidangan bermacam-macam tersedia. Keduanya memang sengaja mempersiapkan banyak makanan karena tidak ingin tamu merasa tidak nyaman. Apalagi sampai kelaparan karena makanannya tidak sesuai selera. Sekarang semua bebas memilih kesukaannya.


Kedua pasangan pengantin baru duduk di atas panggung yang sudah disediakan. Pemain band juga memainkan alat musiknya, turut memeriahkan acara malam ini. Pembawa acara juga memandunya hingga acara berjalan dengan lancar. Para tamu yang hadir satu persatu memberi ucapan selamat, tidak lupa juga membawa kado entah itu berupa amplop atau bingkisan.


"Apa kamu lelah? Apa tidak sebaiknya kita istirahat saja?" tanya Yasa saat melihat Adisti mulai memijat kening. Sepertinya wanita itu sudah merasa pusing.


"Tidak apa-apa, aku hanya sedikit pusing, tapi aku masih bisa menahannya. Kamu tidak perlu khawatir," jawab Adisti sambil tersenyum karena memang begitulah kenyataannya.


Kalau dia pergi dari pelaminan, apa yang akan orang katakan nanti. Itu sama saja tidak menghormati para tamu, biarlah wanita itu menahan sedikit rasa sakit di kepalanya. Lagipula Adisti juga ingin menikmati acara malam ini. Yasa yang melihat senyum di wajah sang istri pun tidak memaksanya lagi.


Mungkin Adisti masih ingin menikmati acara malam ini. Dia sendiri juga masih berada di pesta ini dan menyambut para tamu dari kalangan teman dan juga kerabat.


Sementara itu Vira dari tadi menempel pada papanya. Dia tidak mau jauh-jauh dari Edwin, apalagi saat ini di meja mereka juga ada Rio. Itu pun karena Edwin yang meminta, itu jugalah yang membuat Vira tidak ingin pergi dari sana, takut nanti papanya akan membicarakan hal-hal yang aneh dengan asisten itu.


Sedari tadi gadis itu sudah mengkode papanya untuk pergi dari meja ini agar dirinya juga bisa leluasa bergerak dan pergi ke mana pun. Dia juga sudah merindukan kerabatnya jauh, yang kebetulan hari ini hadir, tetapi Edwin sama sekali tidak peduli malah mengatakan kalau Vira boleh pergi dari sana. Tentu saja gadis itu menolak. Di depannya saja Edwin bicara yang macam-macam tentangnya, bagaimana kalau dia pergi. Sudah dipastikan rahasianya pasti akan diceritakan juga pada asisten itu.

__ADS_1


"Nak Rio, sudah punya kekasih atau tunangan atau mungkin istri?" tanya Edwin.


"Saya belum menikah, Pak. Kalau mengenai kekasih saya juga tidak punya. Saya masih belum memikirkan hal ke arah sana. Pernikahan itu sangat ribet sekali."


"Kenapa kamu berpikir seperti itu? Bukankah setiap laki-laki dan perempuan itu semuanya sudah ditakdirkan berpasang-pasangan. Apa kamu akan selamanya hidup sendiri? Rasanya itu tidak mungkin, kan? Ya ... meskipun kehidupan kamu sudah sangat mapan, tapi sebagai seorang laki-laki pasti membutuhkan seorang wanita yang setiap hari bisa menemaninya ,menyiapkan kebutuhan kamu sehari-hari, juga memerlukan teman tidur dan menghangatkan ranjangmu setiap malam atau jangan-jangan kamu suka 'jajan' di luar sana?" Edwin menatap pria di depannya, menunggu jawaban yang semoga sesuai dengan keinginannya.


Meskipun kata-kata Edwin sedikit menyinggungnya. Namun, Rio sebisa mungkin untuk tetap tersenyum. Dia tahu jika pria yang ada di depannya hanya sekadar bertanya saja, tidak ada niat menyinggung atau sejenisnya.


"Ya, Anda benar. Mungkin suatu saat saya akan membutuhkan seorang wanita, hanya saja saat ini saya belum memikirkannya. Mengenai 'jajan' di luar, Alhamdulillah saya bukan pria yang hanya mengutamakan hawa nafsu saja. Sampai saat ini saya juga belum melihat ada seorang wanita yang membuat saya benar-benar tertarik dan ingin memilikinya. Sejujurnya saya iri dengan Tuan Yasa, dia mencintai wanita yang sama dari dulu. Padahal selama ini dia dikelilingi wanita cantik dan hebat, ada juga anak seorang pengusaha, tapi Tuan Yasa sama sekali tidak tertarik, malah lebih tertarik dengan mantan yang sudah jelas sudah pernah menikah. Setelah saya pikirkan kembali mungkin itulah yang namanya cinta, tidak memikirkan bagaimana keadaan dan kondisi, perasaan itu tetap sama tidak berubah, bahkan tumbuh lebih besar lagi. Saya juga ingin merasakan hal seperti itu. Sayangnya sedari dulu saya tidak memiliki kekasih."


Vira tertegun mendengar penuturan dari Rio, yang bisa memikirkan hal sampai sejauh itu. Dia saja tidak pernah memikirkan apa alasan sepupunya dan Yasa bersatu kembali. Hanya saja gadis itu ingin Adisti bahagia. Vira sendiri juga memiliki mantan kekasih. Namun, kenangan di dalamnya tidak seindah kisah cinta yang romantis.


"Apakah mau berumah tangga juga, mengikuti jejak Yasa?" Edwin dengan menatap serius ke arah asisten Yasa.


Rio juga menatap pria yang ada di depannya dengan wajah bingung. "Maksud Anda apa, Pak?"

__ADS_1


"Tidak ada maksud apa-apa, saya hanya bertanya saja, apakah kamu mau membangun sebuah rumah tangga menyusul atasanmu itu?"


Rio mengangguk, mencoba berpikir positif jika pria yang ada di depannya hanta sekadar bertanya. Tadi dia sudah berpikir yang tidak-tidak, berpikir jika Edwin menginginkan dirinya menikahi Vira. Akan tetapi, setelah dipikirkan rasanya itu tidak mungkin. Siapa dirinya hingga berpikir terlalu jauh ke arah sana.


"Untuk saat ini saya belum terpikirkan, tapi entah tidak tahu sampai kapan. Mungkin besok saya sudah akan menikah juga tidak tahu, tidak ada yang tahu jalan takdir bukan?" Rio meminum minumannya dengan tenang.


Edwin menganggukkan kepala dengan pandangan yang masih fokus pada Rio. "Iya, kamu benar. Apa kamu tidak ingin mempertimbangkan putri saya?" tanya Edwin seketika membuat Vira melototkan matanya pada sang papa.


Begitu juga dengan Rio yang hampir tersedak minumannya. Pria itu pun bergantian menatap ke arah anak dan bapak itu, tidak menyangka akan mendapatkan penawaran yang sama sekali tidak pernah dia pikirkan.


"Papa, apa-apaan sih! Kenapa bertanya seperti itu?" tanya Vira dengan berbisik.


Gadis itu begitu geram dengan papanya, dia sangat kesal dan merasa harga dirinya telah dijatuhkan begitu saja. Seharusnya sebagai wanita dia yang menerima pernyataan seperti tadi, tetapi sekarang papanya malah menawarkan dirinya pada seorang pria.


Rio pun dibuat bingung, bagaimana bisa dia mendapat penawaran seperti itu. Bukankah sama saja seperti sebuah lamaran, tetapi bagaimana bisa pihak wanita yang melamarnya lebih dulu. Rio juga tidak sepengecut itu. Jika memang ada wanita yang sudah dia taksir, sudah pasti dirinya akan melamarnya lebih dulu.

__ADS_1


Namun, sebagai seorang laki-laki dia pun menghargai keputusan Edwin. Seorang ayah pasti menginginkan yang terbaik untuk sang putri, tetapi juga berkaca sendiri dalam dirinya tidak ada hal yang spesial, kenapa pria itu justru memilih dirinya.


"Apa yang Anda maksud itu Nona Vira?" tanya Rio.


__ADS_2