
"Pemegang saham baru? Siapa, Om? Kenapa Om bisa berselisih dengan dia? Apa Om pernah bermasalah dengannya?" tanya Adisti.
"Sebenarnya bukan dengan dia, tapi lebih tepatnya dengan Faisal—ayahnya. Dulu Om dan Faisal terjadi kesalahpahaman," jawab Gunawan tanpa melihat lawan bicaranya.
"Salah paham tentang apa, Om?"
"Saat itu aku datang ke rumah mereka karena memang istrinya itu teman adikku. Saat itu istrinya di rumah sendirian, sedangkan suaminya bekerja. Aku sedang emosi jadi yang ada di kepalaku saat itu adalah bagaimana caranya agar bisa menemukan adikku. Aku langsung saja menggeledah rumahnya tanpa bertanya. Aku sangat khawatir dengan adikku, tapi ternyata saat sampai di dalam rumah di sana tidak ada siapa pun. Bertepatan juga Faisal tiba-tiba pulang dan salah paham, dia begitu marah karena melihat keberadaanku di rumahnya."
"Apa Om tidak menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi?"
"Sudah. Aku berusaha menjelaskan kedatanganku ke sana untuk apa. Namun, kecemburuan membutakannya hingga membuatnya sangat marah dan berpikir yang tidak-tidak. Saat itu Om merasa bersalah, seharusnya tadi tidak langsung masuk ke dalam rumah begitu saja, tapi karena emosi, aku tidak memikirkan akibatnya. Saat itu juga Faisal menceraikan istrinya begitu saja tanpa mau mendengar penjelasan istrinya maupun penjelasanku. Rasa bersalahku semakin besar karena sudah menghancurkan rumah tangga orang lain. Aku juga sempat meminta tolong pada papamu untuk bisa bertemu dengan Faisal. Papamu juga seorang pengusaha, pasti tidak sulit bagi papamu untuk berbicara dengannya, tapi ternyata dia tetap tidak mau mendengarkan, sampai akhirnya mereka benar-benar bercerai. Aku bahkan sampai bersujud di depan Faisal agar mereka tidak bercerai dan menghukumku dengan berbagai cara, tetapi dia tidak mau mendengar dan tetap pada keputusannya."
"Istrinya tidak berusaha menjelaskan?"
"Sudah, tapi percuma. Aku mendatangi mantan istrinya saat mereka pisah rumah. Aku memohon maaf karena aku semuanya jadi berantakan seperti ini, tetapi dia memang wanita yang baik dia bahkan tidak marah sedikit pun. Justru mengatakan jika ini memanglah takdir yang harus dia jalani. Aku sempat menawarkan diri untuk menikahinya, tapi dia menolak karena baginya pernikahan adalah sebuah ikatan yang suci, bukan sebuah permainan. Satu minggu sekali terkadang aku datang ke rumahnya untuk membantu perekonomian wanita itu, bagaimanapun aku tidak mau lepas tanggung jawab sampai dia benar-benar menemukan laki-laki yang bisa dia cintai dan menikah. Namun, justru aku menemukan kebenaran bahwa ternyata selama ini dia mengidap penyakit kanker otak yang tidak diketahui oleh siapa pun."
"Astaghfirullah." Adisti menutup mulutnya, tidak tahu harus berkata apa.
"Rasa bersalah yang aku rasakan semakin besar, akhirnya sebagai penebus rasa bersalah aku membayar semua biaya perawatan. Awalnya dia menolak, tapi dengan paksaanku akhirnya dia mau menerima. Saat mengantarnya ke rumah sakit, kami bertemu dengan mantan suaminya dan marah. Dia salah paham mengira bahwa aku sudah menikahi istrinya. Saat itu om ingin menjelaskan padanya bahwa dia salah paham, tapi istrinya menolak dan membiarkannya saja. Dia tidak mau jika sampai suaminya tahu mengenai penyakitnya. Dia memohon padaku agar tidak mengatakan kepada siapa pun tentang sakitnya dan aku pun setuju. Sampai akhirnya dia benar-benar meninggal karena memang penyakit yang dia derita sudah stadium akhir. Dia tidak mampu melewatinya."
"Jadi sampai saat ini orang itu belum tahu tentang kebenarannya dan masih salah paham sama Om?" tanya Adisti yang tiba-tiba penasaran dengan jalan cerita hidup orang lain, padahal sebelumnya dia tidak seperti itu.
"Sepertinya begitu dan mungkin juga dia tidak tahu kalau mantan istri sudah meninggal."
__ADS_1
"Ternyata masih ada juga wanita yang sebaik dia. Meskipun sudah dicampakkan dan diusir oleh suaminya, tetap saja masih memikirkan tentang suaminya," gumam Adisti yang masih bisa didengar Gunawan.
"Dia memang wanita yang baik, tidak ada yang bisa menandingi kebaikannya selama ini."
"Apa itu juga yang membuat Om sampai detik ini tidak menikah? Bahkan Om memilih sendiri seumur hidup tanpa adanya pernikahan."
Gunawan menatap wanita di depannya dengan tajam, seolah tidak membenarkan apa yang dikatakan. "Siapa yang memberitahu kamu?"
"Kalau kamu itu bukan rahasia lagi, Om. Semua orang juga tahu kalau Om tidak pernah menikah, bahkan sekarang anak saudara-saudara Om memperebutkan harta warisan Om, kan?"
Gunawan tidak memberi jawaban pada anak sahabatnya itu. Namun, dalam hati dia membenarkan hal tersebut. Akhir-akhir ini semua keponakannya berebut berbuat baik padanya, hingga membuat pria itu muak dengan kepura-puraan mereka.
"Aku jadi penasaran siapa laki-laki yang sudah menjadi rival Om saat ini, yang ternyata juga sudah memiliki saham di perusahaan."
"Kalau kamu ketemu juga pasti akan jatuh cinta sama dia. Dia orangnya ganteng," timpal Gunawan dengan menatap wanita di depannya.
"Buktinya, kamu juga salah memilih suami dan akhirnya diselingkuhi juga," cibir Gunawan yang tidak ingin kalah.
"Ya ... anggap saja saat itu aku sedang buta dan kali ini aku tidak akan lagi terbujuk rayuan gombal para laki-laki."
"Maksud kamu apa? Jangan bilang kalau kamu memutuskan untuk tidak menikah lagi?"
"Memang benar seperti yang Om pikirkan. Aku sudah memutuskan untuk tidak menikah lagi. Aku ingin hidup sendiri saja. Jika menyenangkan kenapa harus merepotkan diri dengan sebuah ikatan yang akan menyakiti diri sendiri."
__ADS_1
Gunawan menggelengkan kepala, tidak habis pikir dengan apa yang ada di kepala Adisti. "Tidak semua laki-laki memiliki sifat yang sama seperti suamimu. Di luar sana masih banyak orang yang memiliki hati yang baik."
"Aku tahu, Om. Buktinya ada papa dan juga Om yang memiliki hati baik, yang hanya mencintai satu wanita seumur hidupnya," sahutnya sambil melirik sebentar ke arah pria itu.
"Kamu sok tahu! Memangnya Om mencintai siapa?"
"Om 'kan belum menikah, Om pasti mencintai wanita itu, kan? Jangan mengelak, mata Om saat menceritakan tentang wanita itu terlihat ada sebuah sinar yang keluar dari sana. Bibir itu juga melengkung dengan sempurna."
"CK, kamu sok puitis. Sudah! Sebaiknya ayo kita pergi ke ruang meeting! Pasti saat ini di sana sudah banyak orang yang sudah hadir. Om juga sudah selesai dengan berkas-berkasnya."
"Iya, Om. Nanti Om harus tetap mendaftarkan diri sebagai pemimpin karena aku hanya akan memilih Om, tidak ada yang lainnya."
"Iya," sahut Gunawan yang kemudian berjalan keluar dari ruangannya, diikuti oleh Adisti di belakangnya.
"Oh ya, anak rival Om namanya siapa? Siapa tahu nanti aku bisa waspada di dalam," tanya Adisti di sela langkah mereka.
"Om kurang tahu siapa nama anaknya, tapi yang jelas dia dari keluarga Raharja. Pasti nanti juga ada nama keluarganya di belakang."
Adisti mengangguk saja karena dia juga tidak begitu tahu nama-nama pengusaha. Begitu sampai di depan ruang meeting, Gunawan menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya secara perlahan. Gunawan memberi anggukan pada asistennya dan segera pria itu masuk ke sana diikuti oleh Adisti.
Begitu kaki mereka melangkahkan masuk ke dalam, wanita itu begitu terkejut saat mendapati seorang laki-laki yang duduk di salah satu kursi pemegang saham. Dia tidak menyangka akan bertemu di tempat ini. Tanpa sadar kedua tangan Adisti mengepal dengan kuat, sungguh dirinya belum mempersiapkan diri sama sekali untuk menghadapinya, tetapi kenapa tiba-tiba pria itu hadir di sana. Orang itu adalah Yasa—mantan kekasih yang dulu pernah ada dalam hatinya—dan sekarang dia coba untuk menghindarinya. Panggilan dari Gunawan membuyarkan lamunan Adisti, membuat wanita itu melanjutkan langkahnya dan duduk di samping Gunawan.
"Ada apa?" tanya Gunawan dengan berbisik.
__ADS_1
"Tidak ada apa-apa, Om. Hanya sedikit gugup saja. Ini pertama kalinya aku ikut meeting seperti ini," jawab Adisti berbohong.
Tidak mungkin juga dia mengatakan yang sebenarnya. Berbagai pertanyaan ada di kepalanya bagaimana bisa pria itu ada di sini. Segera dia tepis agar tidak mengganggu pikirannya.