
Kata orang jika tidak ingin berurusan dengan orang yang tidak kita sukai, lebih baik menghindarinya. Itulah yang saat ini dilakukan oleh Adisti. Namun, usahanya terasa sia-sia, saat orang yang ingin dia hindari justru malah selalu saja ingin dekat dengannya, bahkan seolah mencari kesempatan untuk bisa lebih dekat dengannya. Hal tersebut tentu saja membuat Adisti kesal karena usahanya terasa sia-sia.
Apalagi di saat semua tentang kehidupannya belum benar-benar jelas. Entah kini dirinya disebut seorang istri atau janda. Adisti tidak ingin namanya jelek. Di luaran sana pasti akan selalu ada orang yang selalu mencari kelemahan tentang dirinya, entah itu keluarga suaminya atau dari rival bisnisnya.
Begitu Adisti memasuki butik, terlihat seorang pria sedang tersenyum ke arahnya. Siapa lagi kalau bukan Yasa yang sedang melihat baju-baju yang bergantung di sana. Wanita itu memutar bola matanya malas. Dia sangat tahu apa tujuan dari pria itu yang berdiri diantara deretan gaun. Mana mungkin membeli gaun, untuk apa juga. Mungkin saja benar untuk diberikannya pada Arsylla atau wanita lainnya.
Adisti berniat untuk berlalu menuju ruangannya, biar pegawai lain saja yang melayani. Namun, Yasa segera menghadang langkah wanita itu. Kedatangannya ke sini untuk berbicara dengan Adisti, mana mungkin melepaskannya begitu saja. Si pemilik butik pun mencoba untuk tetap tersenyum meskipun dalam hati dia sangat kesal.
"Selamat pagi, Tuan Yasa, silakan Anda melihat-lihat pakaian yang ada di sini. Di sebelah sana juga ada kemeja dengan berbagai motif. Kalau Anda ingin membelikan seseorang gaun juga bisa, pegawai saya akan menemani Anda. Saya harus ke dalam, ada pekerjaan yang masih harus segera saya selesaikan," ucap Adisti dengan tersenyum dipaksakan.
"Tapi sayangnya aku ingin berbicara denganmu. Ada sesuatu hal yang ingin aku bicarakan mengenai kejadian semalam."
Mendengar apa yang dikatakan oleh Yasa, membuat Adisti penasaran juga dan akhirnya mengizinkan pria itu untuk mengikutinya ke dalam ruang tamu. Entah apa yang sudah ditemukan oleh Yasa. Dia sendiri belum mencari tahu soal kejadian semalam, juga belum sempat menghubungi Leo.
Naina yang tadi mendengar pembicaraan keduanya pun sebenarnya juga penasaran. Namun, itu bukan urusannya. Dia yakin jika Adisty dan pria itu pasti bisa mengatasi masalah tersebut dengan cepat.
"Ada masalah apa semalam, Naina? Kenapa pria tadi bilang seperti itu?" tanya Nadia begitu atasannya dengan pria tadi masuk ke dalam ruangan. Sedari tadi dia juga mencoba menguping pembicaraan mereka.
Sementara itu, Naina masih berdiri di tempatnya sambil menatap ke ruangan yang digunakan untuk menerima tamu. "Aku juga tidak tahu bagaimana kejadian sebenarnya, tapi kata ibuku, kalau semalam ada rampok yang mencegat Bu Adisti di jalan dan kemudian ada yang menolongnya, itu saja. Aku tidak tahu lebih detailnya, bahkan mobil Bu Adisti juga ada yang rusak. Makanya sekarang pakai mobil yang satunya."
"Tapi Bu Adisti nggak apa-apa, kan? Aku lihat dia sepertinya baik-baik saja."
__ADS_1
"Ya, untungnya dia tidak apa-apa. Cuma ada bagian tangannya saja yang memar, tadi aku sudah bujuk Bu Adisti untuk mengajaknya ke rumah sakit, tapi beliau menolak. Mudah-mudahan sih tidak apa-apa."
Nadia membuang napas kasar. Adisti memang selalu seperti itu, tidak mau merepotkan orang lain meskipun sahabatnya. Akan tetapi, dia bersyukur karena atasannya baik-baik saja. Adisti juga bisa ilmu bela diri, tetapi kalau perampok yang menghadang jumlahnya banyak, pasti akan kalah.
***
Sementara itu, Adisty dan Yasa sudah berada dalam satu ruangan. Keduanya sama-sama masih terdiam, bingung harus memulai pembicaraan dari mana. Hingga akhirnya Adisti lebih dulu membuka suara.
"Bukankah tadi kamu bilang ingin membicarakan sesuatu tentang kejadian semalam? Kenapa sekarang diam saja? Aku masih banyak pekerjaan jadi, tidak bisa membuang waktu."
"Apa jika yang aku bicarakan tidak ada hubungannya dengan kejadian tadi malam, kamu tidak ingin bicara denganku? Apa sebegitu bencinya kah kamu padaku?" tanya Yasa dengan perasaan terluka.
"Maaf, Tuan Yasa, tapi sepertinya Anda salah paham. Saya sudah bilang sebelumnya kalau saya ada pekerjaan jadi, saya harap Anda mengerti akan hal itu," sahut Adisti yang bersikap sesopan mungkin.
"Banyak pekerjaan atau tidak, aku rasa kamu akan selalu berusaha untuk menghindariku. Tidak adakah kesempatan bagiku untuk kembali bersamamu? Jauh di lubuk hatiku yang paling dalam, hanya ada namamu di sana. Kenapa sulit sekali untuk meyakinkan kamu."
"Semua pria juga pasti akan mengatakan hal yang sama seperti yang kamu katakan, tapi aku tahu itu hanya bulan saja jadi, kalaupun kamu bicara panjang lebar aku rasa tidak akan ada untungnya. Keputusanku sudah bulat. Saat ini aku hanya ingin fokus pada apa yang harus aku kerjakan saja. Mengenai jodoh biarlah Tuhan yang mengaturnya, tapi jika bertanya padaku, aku sama sekali belum memikirkan atau bahkan kemungkinannya aku tidak akan pernah menikah lagi. Aku tahu di dunia ini tidak semua laki-laki memiliki hati dan sikap yang sama. Entah kenapa semakin aku ingin meyakinkan hatiku dengan kalimat tersebut, justru yang aku temui adalah laki-laki yang tidak bisa diandalkan. Percuma saja hidup bersama jika nantinya tidak bisa saling membahagiakan."
Asha mencoba untuk menampilkan senyumnya meski hatinya merasa sedih.
Yasa tidak tahu harus berkata apa lagi untuk meyakinkan Adisti, bahwa dirinya benar-benar telah berubah dan ingin kembali bersama dengannya. Akan tetapi sepertinya keputusan wanita itu benar-benar kuat. Yasa juga tidak bisa memaksanya, bukan berarti pria itu menyerah menghadapi Adisti yang ternyata tidak mudah. Akan dia pikir lagi bagaimana caranya agar wanita itu benar-benar yakin, bahwa hanya dirinyalah pria yang pantas bersanding dengan Asha.
__ADS_1
"Sepertinya sudah tidak ada lagi yang ingin Anda katakan jadi, sebaiknya Anda meninggalkan tempat ini," pungkas Asha yang ingin agar pria itu segera pergi.
"Tunggu dulu! Seperti yang aku katakan tadi, aku ingin membicarakan mengenai kejadian semalam. Aku sudah mendapatkan nama pelaku dari kejadian semalam."
"Maksud kamu apa? Apa ada seseorang yang dengan sengaja ingin menculikku begitu?"
"Tanpa aku beritahu pun aku rasa kamu pasti sudah tahu. Apalagi dengan sikap para preman yang semalam. Kalau mereka perampok, sudah pasti mobilmu yang mereka bawa bukan kamu, tapi mereka sepertinya lebih tertarik padamu."
Asha memikirkan apa yang dikatakan oleh Yasa. Para preman itu memang sama sekali tidak meminta apa yang dia miliki, bahkan tas yang isinya beberapa barang berharga pun tidak mereka sentuh sama sekali. Mereka justru lebih tertarik untuk membawanya pergi dari sana. Bahkan saat itu ada yang mengatakan untuk tidak menyakitinya.
Namun, setelah memikirkannya kembali, apa tujuan mereka menculiknya? Apakah mungkin meminta tembusan dengan harga yang lebih mahal? Memikirkannya semakin membuat banyak prasangka.
"Apa kamu sudah tahu siapa pelakunya?"
"Sudah, tapi aku tidak tahu apakah kamu percaya atau tidak jika memang orang itu yang sudah berniat menculikmu."
"Memang siapa?" tanya Adisti yang begitu penasaran dengan pelaku penculiknya. Entah kenapa dia merasa jika kejadian semalam tidak sesederhana itu.
"Dia adalah bagian dari masa lalumu. Yang menculikmu adalah orang suruhan mantan suami dan mantan mertuamu."
"Apa!" pekik Adisti yang begitu terkejut. "Itu tidak mungkin. Menyewa preman tentu membutuhkan uang, memang dari mana mereka uang untuk menyewa para preman itu? Apalagi aku lihat mereka jumlahnya banyak," lanjutnya.
__ADS_1
Yasa mengangkat kedua bahunya acuh. "Terserah kamu mau percaya atau tidak. Mengenai dari mana dia membayar para preman, aku tidak tahu. Yang jelas anak buahku menemukan sebuah transaksi pembayaran yang dilakukan oleh Bryan dan kepala preman kemarin."