Janji Yang Kau Ingkari

Janji Yang Kau Ingkari
51. Peringatan


__ADS_3

Adisti masih terdiam di ruangan tadi, sementara Yasa sendiri sudah pulang setelah mengatakan semuanya pada wanita itu. Adisti masih memikirkan dari mana Bryan mendapatkan uang untuk membayar para preman. Rasanya sangat sulit dipercayai.


Saat sedang kebingungan, pintu ruangan diketuk oleh seseorang dari luar. Adisti yang sudah tersadar dari lamunannya pun segera berjalan menuju pintu. Dia baru ingat jika masih berada di ruang khusus tamu. Dirinya juga harus kembali ke ruangan untuk mengerjakan pekerjaan yang sudah menumpuk.


Begitu membuka pintu, ternyata di sana ada Nadia. Sepertinya gadis itu sangat khawatir pada atasannya. Dia pun segera bertanya pada atasannya. "Apa Ibu tidak apa-apa?"


"Saya tidak apa-apa. Memangnya apa yang terjadi?"


"Tidak ada, Bu. Hanya saja saya khawatir. Tamu Ibu sudah pergi, tapi Ibu nggak keluar keluar."


"Tidak apa-apa, saya hanya berpikir kenapa harus seperti ini?"


Nadia mengerutkan keningnya. "Maksudnya Ibu apa?" tanya Adisti sekali tidak mengerti maksud dari ucapan Adisti.


"Jangan terlalu dipikirkan, aku mau ke ruanganku dulu." Adisti tersenyum sambil menepuk pundak Nadia.


"Benar Ibu tidak apa-apa?"


Adisti menatap Nadia dengan saksama, dia merasa gadis itu terlalu banyak bertanya, tidak seperti biasanya. Sebelumnya Leo juga pernah mengatakan tentang dirinya yang harus hati-hati pada Nadia, apakah mungkin wanita yang ada di depannya ini juga terlibat dalam upaya penculikannya semalam? Mungkin dia harus menyelidikinya.


"Aku benar-benar tidak apa-apa, Nadia. Ya sudah, kembalilah bekerja. Aku juga akan kembali." Adisti tersenyum dan berlalu dari sana.


Saat ini di kepalanya berisi banyak sekali prasangka baik maupun yang buruk. Entahlah dia harus percaya pada siapa. Semua orang sepertinya ingin sekali menghianatinya. Begitu sampai di ruangan, Adisti segera menghubungi Leo dan mengatakan ingin meminta bantuan pria itu untuk menyelidiki orang yang ada di sekitarnya. Dia tidak ingin kecolongan lagi. Wanita itu akan menemukan orang-orang yang sudah berniat menghianatinya.

__ADS_1


"Ada apa lagi kamu menghubungiku? Bukanlah kemarin aku sudah memberikan laporan mengenai kecurigaanmu tentang Nadia? Kenapa sekarang menghubungiku lagi? Apakah terlalu banyak orang yang ingin menghianatimu? Atau kamu kurang puas dengan hasil penemuanku tentang Nadia?" tanya Leo yang berada di seberang telepon.


Adisti menepuk keningnya, dia bahkan sampai melupakan hal itu. Kemarin Leo memang menghubunginya dan mengatakan jika sudah memberikan laporan tentang Nadia. Namun, karena kesibukannya yang terlalu padat dia sampai melupakan hal itu dan tidak membuka laporan dari Leo. Adisti menggelengkan kepala, bagaimana bisa dirinya melupakan hal itu?


"Aku ingin memintamu untuk menyelidiki lagi tentang Bryan," ucap Adisti yang ingin menutupi kesalahannya. Dia tidak ingin dicibir lagi oleh Leo, pria itu sangat tahu bagaimana membuat dirinya terlihat bodoh.


"Bryan? Kenapa lagi dengan pria itu?"


Adisti pun menceritakan apa yang terjadi semalam, serta apa yang dikatakan oleh Yasa tadi. Entah kenapa dia sangat percaya pada Leo, mudah-mudahan saja pria itu juga bukan bagian dari para pengkhianat.


"Baiklah, nanti akan aku usahakan. Kebetulan aku juga masih menyimpan nomornya, tidak sulit untuk menyabotase ponselnya."


"Terima kasih. Nanti aku akan transfer ke rekeningmu."


"Terserah padamu saja."


Adisti pun mengakhiri panggilan. Dia menghela napas panjang, bingung dengan hidupnya semakin hari semakin rumit saja. Wanita itu merasa setiap hari selalu saja ada masalah yang datang, semoga dirinya bisa menyelesaikan semuanya dengan baik.


***


"Tuan, Apa Anda sudah mengatakan semuanya pada Nona Adisti?" tanya Rio saat mereka sedang dalam perjalanan menuju kantor.


"Menurutmu apa aku harus mengatakan semuanya? Termasuk siapa dalang yang sebenarnya di balik semua itu?" tanya Yasa balik.

__ADS_1


"Tentu saja, Tuan. Kenapa juga harus ditutupi? Bukankah Nona Adiba juga perlu tahu siapa dalang di balik semua itu?"


"Aku tahu Adisti bukan wanita yang bodoh, dia pasti akan menyelidikinya lagi. Aku tidak ingin dia sakit hati setelah tahu pelaku yang sebenarnya. Biarlah dia mengetahui semuanya sendiri dan mendapat bukti dari orang suruhannya."


Rio semakin tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Yasa. Apa salahnya jika Adisti mengetahui siapa pelaku sebenarnya? Wanita itu juga berhak mengetahuinya. Namun, entah kenapa dia mencurigai sesuatu jika atasannya tahu siapa pelaku itu. Ini kesalahannya juga karena tidak mencari tahu tentang asal usul lelaku tersebut.


Yasa menatap asistennya. Bertahun-tahun bersama tentu saja membuat mereka saling mengerti satu sama lain tanpa dijelaskan. "Jangan mencoba mencari tahu siapa pelakunya. Pekerjaan kita sudah cukup sampai di sini. Kamu cukup awasi Adisti dari jarak jauh, jangan sampai kejadian kemarin terulang lagi. Aku tidak ingin melihat dia terluka kembali."


Rio hanya diam menatap atasannya sepertinya saat ini ia sah dalam keadaan yang tidak baik-baik saja Entahlah tapi Rio juga tidak mau ikut campur dirinya sudah mencari tahu tentang kejadian yang menimpa dan dia rasa itu sudah cukup. mobil yang mereka tumpengnya Akhirnya sampai juga di perusahaan biasa berlalu menuju ruangannya diikuti oleh Rio di belakang tampak ekspresi keduanya datar para pegawai meyakini jika keduanya sedang ada masalah karena biasanya Rio akan menyapa beberapa pegawai yang berpapasan dengannya tapi kali ini ekspresinya sama seperti biasa dingin dan tak tersentuh Kamu dari mana saja ya sa Aku dari tadi mencarimu siapa harus hilang yang kebetulan satu lift dengannya. biasanya diam dengan pandangan lurus ke depan dia sama sekali tidak berniat menjawab sapaan dari arsila dia tidak suka berbasa-basi. Kok kamu diam saja sih Yang kamu lagi ada masalah ya tanya arah sirah lagi namun lagi-lagi Yasa hanya diam seolah menganggap juga sila tidak ada Roni yang berada di belakang ia sabun tidak berani mengeluarkan suara sebenarnya pria itu juga kesal pada arsila yang selalu saja mengganggu ketenangan atasnya namun dia tidak bisa berbuat apa-apa bagaimana yang pun juga wanita itu bisa bekerja di perusahaan ini juga karena atasannya yang memberi izin. Padahal Yasa bisa saja memberikan uang lebih tanpa memenuhi permintaannya, tapi lagi-lagi Rio tidak bisa berbuat apa-apa. Biarlah itu menjadi urusan atasannya sebagai seorang sekretaris, dia hanya bisa menuruti permintaan atasannya.


Pintu lift berdenting, Yasa berniat untuk segera pergi dari sana. Namun, baru beberapa langkah keluar dari lift, pria itu menghentikan langkahnya dan menatap ke arah asistennya.


"Rio, bukankah di perusahaan ini ada peraturan jika pegawai dilarang masuk ke lift khusus ini?" tanya Aji sambil menunjuk ke arah lift yang tadi dia gunakan.


Rio mengangguk sambil tergagap. "I–iya, Tuan."


"Lalu kenapa sekarang karyawan sudah mulai berani memakainya? Ini terakhir kali aku memperingati cara kerjamu, untuk ke depannya saya tidak mau melihat seorang karyawan masuk ke dalam lift ini. Lift ini hanya khusus untuk petinggi dan para tamu. Kamu harus menindak tegas mereka yang berani melanggar peraturan. Jika mereka melanggar pecat saja secara langsung, perusahaan tidak membutuhkan orang-orang yang merasa dirinya hebat."


Yasa berbalik menuju ruangannya, sementara Arsylla mematung di tempat. Dia tidak menyangka Jika pria itu akan mengatakan hal demikian. Dirinya juga tahu tentang peraturan itu. Namun, sejak pertama dia bekerja juga sudah berkali-kali dia naik lift ini. Selama itu juga Yasa tidak mempermasalahkannya, tetapi kenapa sekarang melarangnya untuk masuk.


Dari tatapan Pria itu tadi juga terlihat begitu berbeda. Arsylla yang penasaran pun menatap ke arah asisten Rio, barangkali pria itu mengetahui sesuatu hingga membuat rasa demikian.


"Kenapa menatapku seperti itu. Aku tidak perlu menjelaskan siapa yang dimaksud Tuan Yasa, kan? Kamu tentu mengerti jadi, aku harap kamu tahu diri." Rio segera berlalu meninggalkan wanita itu sendiri.

__ADS_1


__ADS_2