
"Bagaimana saksi?" tanya pak penghulu pada orang yang bertugas sebagai saksi pernikahan Adisti dan Yasa.
"Sah."
"Sah."
"Alhamdulillah."
Seorang ustaz kembali membacakan doa untuk pasangan pengantin agar pernikahannya sakinah, mawadah, warahmah dan selalu diberi keberkahan. Semua orang yang berada di ruangan itu merasa terharu sekaligus bahagia, akhirnya Yasa dan Adisti sudah resmi menjadi pasangan suami istri. Apalagi saat mengingat perjuangan Yasa yang begitu gigih hingga akhirnya bisa sampai di titik ini, sungguh membuat orang kagum.
Om Edwin mengusap sudut matanya agar air matanya tidak jatuh. Dia tidak ingin dihari bahagia keponakannya malah terlihat bersedih. Bagaimanapun juga Adisti sudah dianggap seperti putrinya sendiri. Tante Soraya sendiri sudah tidak bisa menahan air matanya. Wanita itu menangis tanpa suara di pelukan sang suami.
Dalam hati wanita itu berkata, "Kak, putrimu sudah menikah untuk yang kedua kalinya. Semoga saja ini adalah pernikahannya yang terakhir. Aku yakin pria pilihannya kali ini sudah tepat. Kamu tenanglah di sana, jangan khawatirkan putrimu lagi. Aku dan kak Edwin yang akan menjaganya."
Pasangan pengantin baru itu pun sungkem pada kedua orang tua Yasa, serta om dan tante dari Adisti, sebagai pengganti kedua orang tua pengantin wanita. Para orang tua memberi wejangan agar mereka selalu akur satu sama lain. Setiap masalah harus diselesaikan bersama-sama dan selalu menjaga komunikasi satu sama lain.
Tidak ada orang tua mana pun yang menginginkan kesedihan untuk anaknya. Mereka hanya bisa berdoa untuk kebaikan suami istri baru itu. Yasa dan Adisti senang karena banyak orang yang menyayanginya.
Para tamu pun menikmati hidangan yang sudah disediakan. Semua orang tampak bahagia. Apalagi Adisti dan Yasa juga orang yang baik, pasti banyak yang mendoakan. Sesekali tamu yang hadir mengucapkan selamat untuk pasangan pengantin baru.
__ADS_1
Setelah rangkaian acara selesai, satu persatu tamu mulai meninggalkan rumah Adisti. Mereka akan beristirahat sebelum nanti malam mereka juga harus hadir dalam resepsi pernikahan Adisti dan Yasa, yang akan digelar di sebuah hotel ternama. Sebagai seorang pengusaha tentu Yasa ingin sekali membuat acara besar-besaran. Namun, sang istri menolak.
Adisti hanya mengundang kerabat terdekat dan saudara saja. Meskipun begitu sudah pasti akan banyak sekali yang datang karena memang pengantin wanita orang yang baik dan mudah bergaul jadi, pasti temannya banyak.
"Adisti, ajak suami kamu ke kamar, pasti dia juga sudah lelah. Nanti malam juga kalian harus menjamu para tamu jadi, sekarang kalian berdua istirahatlah," perintah Tante soraya yang diangguki oleh Adisti. "Ingat, ya! Hanya istirahat, jangan melakukan yang macam-macam, malah nanti membuat kalian lelah. Nanti malam saja malam pertamanya," lanjutnya membuat Adisti melotot.
Bisa-bisanya tantenya berbicara seperti itu di depan banyak orang. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana keadaan wajahnya kini, yang pasti sudah memerah. Vira yang duduk di samping papanya sampai terkekeh. Memang dasar sepupu kurang ajar, bisa-bisanya menertawakan dirinya.
Adisti pun segera menarik tangan sang suami dan mengajaknya ke kamar. Kalau mereka masih berada di sana, bisa-bisa nanti keduanya akan menjadi bahan olok-olokkan para saudara. Padahal biasanya Tante Soraya yang paling bijak di antara semua orang, tetapi kenapa sekarang malah lebih parah dari yang lain.
"Jangan main tarik-tarik! Kamu nggak sabaran sekali, tahan dong! Masa sampai malam saja nggak tahan!" teriak Vira yang sama sekali tidak dihiraukan oleh Adisti.
Om Edwin yang berada di samping Vira pun segera memukul tangan putrinya. "Kamu ini masih kecil sudah bicara yang macam-macam. Memang kamu tahu apa yang dilakukan pasangan pengantin baru? Disuruh menikah saja tidak mau. Papa tidak mau ya sampai kamu terjerumus ke hal yang tidak-tidak karena sekarang kamu sudah mengerti hal-hal seperti itu."
"Kamu itu terlalu pemilih padahal sebenarnya sudah ada laki-laki seperti itu, hanya saja kamu yang tidak percaya diri karena laki-laki itu hebat," sahut Edwin tanpa melihat ke arah anaknya.
Vira menatap sang papa. Entah siapa yang dimaksud oleh pria paruh baya itu. Selama ini dia juga tidak dekat dengan siapa pun. Tidak pernah membicarakan pria juga.
"Maksud papa apa? Siapa yang hebat?" tanya Vira dengan kening mengerut.
__ADS_1
"Siapa lagi kalau bukan asisten Rio, dia orang hebat, kan?"
"Terus apa hubungannya sama aku? Papa jangan macam-macam!" seru Vira sambil menatap tajam ke arah sang Papa.
Dia benar-benar kesal saat ini. Dalam hati gadis itu curiga pada Adisti, kalau sepupunya itu mengatakan sesuatu pada papanya karena memang kemarin saat bercerita hanya ada mereka berdua.
"Siapa juga yang macam-macam. Papa hanya mengatakan yang sejujurnya. Lagipula apa yang Papa katakan itu memang benar. Asisten Rio adalah pria yang hebat, dia sudah memiliki usaha, tetapi tetap saja jadi asisten Yasa.
"Papa tahu sekali tentang dia," cibir Vira.
"Papa 'kan pernah ngobrol sama dia beberapa kali saat lamaran Adisti waktu itu."
Seketika Vira menatap papanya dan bertanya, "Memang benar dia memiliki usaha, Pa? Usaha apa? Kenapa tidak dijalankan sendiri?"
"Mengenai itu Papa tidak tahu. Kalau tidak salah usahanya itu restoran atau kafe, begitulah kurang lebih. Papa juga kurang begitu tahu."
Benarkah Rio sudah sehebat itu? Tapi kenapa kemarin Adisti tidak menceritakan apa pun. Apa mungkin sepupunya itu juga tidak mengetahui hal tersebut, entahlah. Mungkin saja memang seperti itu karena memang Adisti juga pernah mengatakan bahwa Yasa tidak memperkenankan dia bicara atau berdekatan dengan pria mana pun termasuk Rio.
Tidak mendapat sahutan dari Vira membuat Edwin melihat ke arah putrinya, tetapi gadis itu malah melamun.
__ADS_1
"Kenapa kamu malah melamun? Jangan bilang kamu saat ini sedang membayangkan bagaimana wajah tampan asisten Rio?" tegur Edwin yang sengaja ingin menggoda putrinya.
Dia sebenarnya juga tidak begitu mengenal asisten Rio, hanya saja apa salahnya jika sang putri mencintainya. Nanti dirinya yang akan mencari tahu tentang kehidupan asisten Rio, itu pun kalau Edwin bisa menembus pertahanan pria itu dilihat. Dari karakternya sepertinya akan sulit untuk mencari tahu tentang identitasnya, kecuali menantu barunya. Pasti dengan mudah dia bisa tahu semuanya dengan bantuan Yasa, tetapi dia juga tidak mungkin memanfaatkan keberadaannya. Biar saja dengan siapa putrinya dekat Edwin akan mendukung, asalkan pasangannya itu adalah orang baik dan bisa menghormati orang yang lebih tua