
"Dasar bos aneh untung ganteng..."gumam Leni. Leni langsung meminum minuman favorit Revan tersebut.
"Pak...jangan terlalu banyak minuman manis...saya lihat Anda hampir setiap hari minum itu..jika berlebihan tak baik untuk kesehatan Bapak..."kata Leni.
"Minuman ini bagiku ada sejarahnya Len....Menurutku minum Boba di pagi hari.bisa menjadi Mood Booster tersendiri untukku.." kata Revan.
"Terserah Bapak saja lah..saya hanya mengingatkan." kata Leni.
Mereka pun melanjutkan perjalanan ke kantor dengan kecepatan sedang. Sesampai di kantor, seperti biasa Leni langsung duduk di mejanya dan sudah disambut oleh tumpukan berkas yang harus diperiksa terlebih dahulu sebelum diserahkan ke Revan.
Dengan cepat, Leni memeriksa berkas berkas itu dan memisahkan antara yang sudah siap untuk ditandatangani sang Bos dengan yang masih belum siap. Untuk berkas yang belum siap,ia mengembalikan lagi pada staf yang bersangkutan. Sehingga si Bos tinggal menandatanganinya tanpa harus mengecek lagi satu persatu.
Saat waktu menunjukkan pukul 9, Leni masuk ke ruangan Revan, untuk mengingatkan pertemuanya dengan klien dari N-Group.
"Pak...tigapuluh menit lagi kita harus berangkat untuk tanda tangan kontrak kerjasama dengan N Group. Karena setelah jam makan siang kita harus segera melakukan fitting baju pengantin di tempat Nyonya Anne." kata Leni dengan senyum profesionalnya.
"Ok..baiklah..sepertinya kamu begitu bersemangat untuk pergi ke Butik Tante Anne?"kata Revan menggoda Leni.
"I..itu...saya hanya mengingatkan saja Pak..." kata Leni gugup.
"Ganti rokmu dengan celana panjang yang ada di lemari kamar pribadiku, aku sudah menyiapkannya untukmu.." kata Revan.
"Memang ada yang salah dengan rok saya Pak?" tanya Leni.
"Jangan banyak protes, aku hanya tak mau mereka melihat yang tak seharusnya dilihat..." kata Revan.
"Maksud Bapak?" tanya Leni yang tak mengerti.
"Aaaiisshhh...Leniiii...pokoknya ganti ya ganti...!" kata Revan yang sudah frustasi.
"Baiklah..saya ganti dulu Pak..."kata Leni sambil memanyunkan bibirnya.
"Dulu kalau pakai celana panjang katanya nggak bagus,ketinggalan jaman, makanya harus pakai rok biar menarik...giliran pakai rok malah disuruh ganti....ck..." kesal Leni.
Leni selesai mengganti roknya dengan celana panjang, tak lupa ia merapikan sedikit riasannya. Revan yang melihat Leni menyapukan bedak ke wajah mengernyitkan dahi.
"Sudah gitu aja Len..jangan dandan lagi..." kata Revan.
"Pak Bos kenapa sih..katanya harus menarik dihadapan klien.."kata Leni.
"Tanpa dandan pun mereka tahu kok kamu sekretaris saya..."jawab Revan sekenanya. Padahal ia tak mau jika Leni nampak cantik dihadapan orang lain. Leni hanya memanyunkan bibir saat Revan melarangnya men tuoch up make up minimalisnya.
"Mari kita berangkat Pak...." kata Leni sambil tersenyum manis, padahal hatinya benar benar kesal pada atasannya yang seenak udelnya sendiri.
"Hmmm...." jawab Revan.
__ADS_1
Mereka pun berangkat ke perusahaan tempat janji bertemu dengan klien mereka. Kali ini Revan pergi dengan membawa sopir perusahaan karena ia merasa malas jika harus menyetir. Revan menghentikan Leni saat Leni akan duduk di kursi depan samping supir.
"Leni...duduklah di sampingku..."kata Revan.
"Tapi Pak...."Leni sebenarnya masih merasa canggung bila harus duduk di samping Revan.
"Aku tidak menerima penolakan,duduk disini!" perintah Revan dengan nada sedikit tinggi.
"Baik Pak...." jawab Leni.
Sepanjang perjalanan, Revan terus memandangi wajah Leni di sampingnya. Lama kelamaan Leni yang merasa dipandangi oleh bosnya itu merasa risih.
"Pak Revan kenapa lihatin saya terus?" tanya Leni.
"Nggak apa apa..cuma pengen lihatin kamu aja..." jawab Revan
"Saya yang dilihatin kan jadi nggak enak sendiri Pak..."kata Leni.
"Orang ini mata punya saya...suka suka saya dong mau lihatin kamu..." jawab Revan enteng.
"Terserah bapak aja deh...iyain aja..biar cepet kelar..." kata Leni dengan perasaan kesal.
"Len..boleh saya bertanya?" tanya Revan.
"Bagaimana perasaanmu saat ini?Maksud saya kita kan mau menikah, bagaimana perasaanmu?" tanya Revan.
"Saya bingung Pak...."kata Leni.
"Nggak apa apa..kita jalani saja..walaupun saat ini kita masih belum saling mencintai, setidaknya kita harus belajar menerima satu sama lain..." kata Revan sambil menatap dalam mata Leni.
"Len...apa kamu masih punya keluarga selain ayah kamu?"tanya Revan
"Saya masih ada kakek dan nenek dari ibu saya Pak..."jawab Leni.
"Kita akan berkunjung besok. Sekalian saya ingin melamar kamu kepada mereka, karena tak mungkin saya mencari ayah kamu yang saat ini tak tahu ada dimana sekarang.Gimana?" kata Revan.
"Tapi mereka ada di luar kota pak..rumah mereka jauh berada di pedesaan..jauh dari keramaian.."jelas Leni. Karena khawatir Revan tak betah jika berada di desa yang bisa dibilang sangat pelosok.
"It's not problem for me...buatku di desa maupun di kota sama saja...semua ada plus minusnya sendiri...sudah sampai ayo kita turun.." Kata Revan. Tanpa terasa mereka sudah sampai di depan sebuah gedung pencakar langit, tempat mereka akan bertemu dengan kliennya.
Revan masuk ke gedung itu diikuti Leni yang berusaha mengimbangi langkah lebar Revan.
"Ayo Len kita sudah hampir terlambat,..."kata Revan menarik tangan Leni.
"I..iya Pak.."Leni sedikit tersentak saat tangan Revan menarik tangannya.
__ADS_1
"Maaf Pak..ini kantor...."lanjut Leni. Ia melepaskan genggaman tangan Revan. Karena saat ini mereka harus bersikap profesional.
"Maaf... mulai besok pakailah flat shoes saja agar kamu lebih nyaman saat berjalan." kata Revan.
"Iya Pak..." jawab Leni.
Mereka sampai diruang meeting perusahaan itu. Tanda tangan kontrak kerjasama pun berjalan dengan lancar. Kejeniusan Leni dalam menyampaikan presentasi membuat pemilik perusahaan N itu,dengan senang hati mengadakan kerjasama dengan REX Corp.
Setelah pertemuan dengan klien selesai, mereka kembali ke kantor untuk meeting mingguan. Entah mengapa Leni sedikit nyaman dengan semua perhatian perhatian kecil yang diberikan padanya hari ini. Ia begitu bersemangat mmenjalani semua pekerjaan yang diberikan boss sekaligus calon suaminya itu.
Saat jam makan siang tiba, telepon di meja Leni berdering.
"Len...kita makan siang di ruanganku, aku sudah memesankan makanan untuk kita." kata Revan di seberang.
"Iya..pak..saya segera kesana." jawab Leni. Lalu ia segera menutuo teleponnya dan bergehas menuju ruangan Revan.
Leni masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, ternyata Revan sudah menunggunya di sofa. Leni pun sedikit menundukkan kepalanya dan duduk di seberang Revan.
"Jangan bersikap formal jika hanya ada kita berdua..." pinta Revan.
" Tapi Pak..."
"Kita harus mulai membiasakan diri Leni....Ah ya..jangan memanggilku Bapak di luar jam kantor,...Panggil aku senyamanmu tapi jangan Bapak...oke?"kata Revan.
"Lalu...saya bingung harus memanggil apa...saya terlalu canggung kalau memanggil Anda dengan sebutan Oppa...."kata Leni.
"Panggil namaku juga tak apa..kita hanya terpaut 2 tahun kan?"kata Revan.
"Itu tak sopan...bagaimanapun Anda lebih tua dari saya Pak...." protes Leni.
"Bagaimana kalau saya panggil Mas Revan saja?" lanjut Leni.
"oke..kalau menurutmu itu membuat kamu lebih nyaman..."jawab Revan.
"Oke..Mmmas Revan.."
"Hmm...itu lebih baik..." kata Revan sambil terkekeh.
"Tapi kalau dikantor,saya tetap panggil bapak..karena bagaimanapun Mas adalah atasan saya di kantor..."kata Leni.
"Terserah kamu saja..." jawab Revan.
Tak lama kemudian, datanglah makanan yang mereka pesan. Leni dan Revan memakan makanan itu dengan sangat lahap. Dua porsi ayam bakar madu beserta kawan kawannya dan tak lupa 2 cup besar Bubble Tea menemani makan siang mereka.
"Bubble lagi...bubble lagi....apa nggak bosen tuh Pak Bos minum itu terus...."gumam Leni.
__ADS_1