
Beberapa hari di rawat di rumah sakit, kondisi Leni terus membaik. Hari ini, ia sudah diperbolehkan pulang. Selama Leni dirawat, Revan pulang hanya untuk mandi dan ganti baju. Selebihnya ia habiskan waktunya di rumah sakit.
Saat ia membantu merapikan barang barang Leni, Ia melihat Leni turun dari ranjangnya.
"Mau kemana Len?" tanya Revan.
"Mau mandi Pak...." jawab Leni.
Revan langsung menghampiri Leni dan membantunya.
"Bapak mau ngapain?" tanya Leni.
"Bantu kamu..akan sulit nanti kamu mandinya kalau masih pakai infus." kata Revan. Leni langsung menggelangkan kepalanya.
"sssaya bisa sendiri Pak..." kata Leni
"Yakin?"tanya Revan. Leni mengangguk cepat.
"Bisa gawat kalau pak Revan ikut ke dalam..memang gur cewek apaan?"batin Leni.
"Saya tunggu di depan pintu kamar mandi. Kalau kamu butuh apa apa langsung panggil saya."kata Revan.
"Oh ya jangan dikunci,kalau kamu kenapa kenapa saya bisa langsung menolongmu."lanjutnya.
"Iya Pak.."
Revan pun dengan sabar menunggunya di depan pintu. 30 menit berlalu tapi belum ada tanda tanda Leni keluar dari sana.Ia mulai khawatir.
"Len...sudah belum..?"panggil Revan.
" Len...leni...kamu nggak apa apa kan?"tetap tak ada jawaban.
Karena sudah sangat khawatir, Revan membuka pintu kamar mandi dan melihat Leni masih duduk di kloset dengan mata terpejam. Revan langsung berlari menghampiri Leni.
" Len...bangun....Leni!" panggil Revan sambil menepuk nepuk pipi Leni.
Leni terlihat menggeliat. Rupanya ia ketiduran di kamar mandi. Revan mendengus nafas lega campur kesal.
"Kamu tuh..bikin saya khawatir terus..aku kira kamu pingsan. Ternyata malah tidur di kamar mandi."gerutu Revan sambil membopong Leni.
Sesampainya di ranjang, Revan baru sadar kalau ternyata Leni masih setengah te***jang. Ia belum memakai celananya.
__ADS_1
"Ya ampun...kenapa aku harus melihatnya lagi sih....." gerutu Revan.
Ia langsung mengambil celana Leni yang bersih dan memasangkannya. Dengan susah payah, ia menahan gejolak kelelakiannya. Ia memasangkan celana Leni dengan sangat hati hati. Tapi tak sengaja ia menyentuh pintu goa yang baru saja ia obrak abrik beberapa hari yang lalu.
Leni yang merasa tidurnya terganggu menggeliat. Ia mengerjap ngerjapkan matanya.
" Perasaan aku tadu di kamar mandi tapi kenapa jadu ada di kasur?"batin Leni. Lalu ia merasakan sesuatu di bawah tubuhnya. Saat ia melihat ke bawah.
"Aaaaaakkkkhhhhh.....apa yang Bapak lakukan?!"teriak Leni.
"Len saya hanya...." Kata revan yang bwlum menyelesaikan ucapannya.
" Hanya apa Pak?Belum cukup Anda merebut mahkota saya?!Saya sudah tak lebih dari perempuan kotor Pak....hiks hiks....hiks...." teriak Leni sambil menangis.
"Maafkan saya Len...sepenuhnya saya akan bertanggung jawab...saya akan menikahi kamu..percayalah.." kata Revan dengan penuh penyesalan.
"Bapak mau menikahi saya dengan embel embel tanggung jawab?untuk berapa lama Pak..?1 tahun 2 tahun? Saya bukan perempuan bodoh yang ada di novel novel itu Pak...Walaupun saya hanyalah wanita kotor dan miskin,saya masih punya harga diri! Saya tidak mau mempermainkan sebuah pernikahan demi laki laki seperti bapak!" kata Leni yang tak bisa menahan emosinya lagi.
"Len....walaupun saat ini saya belum mencintai kamu..setidaknya izinkanlah saya belajar mencintaimu...saya bukan laki laki yang suka mempermainkan pernikahan...maafkan saya Len..kalau malam itu saya bisa menahan diri mungkin kamu masih baik baik saja saat ini."kata Revan sambil menangkup wajah Leni. Leni mencari cari kebohongan di mata Revan, namun sekali lagi tak ada sedikitpun kebohongan di sana.
"Biarkan saya sendiri dulu Pak...saya masih ingin menenangkan diri." kata Leni sambil memalingkan wajah. Air matanya masih saja terus mengalir.
"Baiklah...jika itu maumu..nanti ada sopir yang akan menjemputmu. Aku pergi dulu." kata Revan sambil menepuk bahu Leni.
"Mom..Ayah..." kata Revan.
"Kamu mau kemana? Leni masih di dalam kan?" tanya Eric.
"Iya Yah...aku hanya ingin cari udara segar sebentar." jawab Revan.
Eric dan Yoo Ra yang paham dengan ekspresi anaknya menduga asa sesuatu diantara Revan dan Leni. Tapi mereka tak ingin ikut campur atas masalah mereka berdua. Eric hanya menepuk bahu Revan untuk memberinya semangat. Revan hanya tersenyum tipis.
"Mom akan ke dalam dulu..." kata Yoo Ra.
"Sayang...apa kamu akan disitu terus?" tanya Yoo Ra pada Eric.
"Kamu duluan Sayang...nanti aku menyusul." kata Eric.
Eric mengajak Revan untuk duduk di bangku taman di rumah sakit itu. Mereka pun duduk berdua layaknya seorang sahabat. Eric yang paham puteranya sedang galau, menyodorkan rokok untuk puteranya itu.Revanpun mengambil 1 batang rokok dan menyulutnya.
" Ayah masih sering merokok?" tanya Revan.
__ADS_1
"Jarang...hanya sesekali.."jawab Eric.
"Hm....aku kira sejak serangan jantung yang terakhir ayah benar benar berhenti..Akan lebihbbaik kalau ayah benar benar menghentikan kebiasaan itu Yah..." kata Revan.
Eric hanya tersenyum menanggapi kata kata anaknya itu.
"Bagaimana kabar Reval Yah...dia tak ingin meneruskan kuliahnya disini saja?" tanya Revan.
" Ah..ternyata masih ingat juga kalau punya adik..." kata eric sambil terkekeh.
"Isshh..walaupun kami jarang bertemu, tapi bagaimanapun dia tetap adikku Yah..." kata Revan.
"Sepertinya Reval masih betah di London,mungkin setelah lulus SMA dia juga meneruskan kuliahnya disana. Anak itu benar benar sama seperti kakaknya"sindir Eric.
"Biarkan saja dia Yah..mungkin dengan seperti itu dia bisa menemukan jati dirinya. Aku dan Reval memiliki sifat yang cenderung mirip tapi entah mengapa kami berdua memang tak pernah akur...hehe..."kata Revan.
"Apa ayah boleh bertanya padamu?"tanya Eric.
"Iya...ayah mau bertanya tentang apa?" kata Revan.
"Apa kamu mencintai Leni?"tanya Eric. Sejenak Revan terdiam.
"Untuk saat ini belum Yah..tapi aku akan belajar menerima dan mencintainya Yah..."jawab Revan. Eric tersenyum, karena menurutnya Revan sebenarnya sudah mulai mencintai gadis itu,tapi dia yangvtak menyadarinya.
"Berusahalah..dan bekerjalah lebih keras, karena Leni sepertinya hampir sama seperti ibumu. Tidak mudah ditaklukkan. Hanya saja Leni memang mempunyai otak yang sangat luar biasa. Kamu akan sangat beruntung memiliki istri seperti dia." kata Eric.
"Darimana ayah tahu...?"tanya Revan.
"Kau lupa siapa ayahmu ini Son?" kata Eric.
----------------
Sementara itu, di kamar tempat Leni dirawat, dua orang wanita beda generasi sedang asyik mengobrol. Saat ini hubungan mereka sudah tak ada kecanggungan sama sekali. Yoo Ra menyayangi Leni sudah seperti puterinya sendiri.
"Wah..puteri Mom sekarang sudah bisa diajak keliling Korea...kapan kapan kalau Reval pulang ke sini kita liburan ke Korea ya sayang...Mom kangen kampung halaman..." kata YooRa yang kagum dengan kemampuan bahasa Korea Leni yang sudah sangat lancar.
"Ini semua berkat Pak Revan Mom...beliau yang menyarankan Leni untuk ikut kursus bahasa Korea..."kata Leni.
"Lhoh..manggilnya kok masih Pak..tak boleh seperti itu sayang..."kata Yoo Ra sambil mengerutkan dahinya.
"Maaf Mom...mungkin karena terbiasa manggil di kantor." kata Leni.
__ADS_1
"Mulai sekarang panggil calon suamimu Revan Oppa...tidak boleh Pak..Tuan..atau yang sejenisnya..mengerti sayang..?" kata YooRaa. Leni hanya mengangguk ragu.