
Setelah Revan selesai sarapan, ia dan Mbah Purwo segera berangkat mencari sahabat sang kakek yang mempunyai usaha jual beli tanah dengan menggunakan mobil Jeep milik Mbah Purwo. Tanpa perhitungan yang alot, akhirnya Revan pun menemukan sebidang tanah dengan luas sekitar 2 hektar seharga 1 milyar rupiah yang tak jauh dari kebun Mbah Purwo yang lain. Ia langsung melakukan pembayaran jual beli tanah tersebut secara cash. Tentu saja Mbah purwo menjadi heran dengan cara Revan yang menurutnya grusa grusu saat membeli tanah.
" Le...apa Mbah kakung boleh bertanya padamu?"tanya Mbah Purwo.
"Boleh Mbah..memang Mbah mau tanya apa?" tanya Revan balik.
"Sebenarnya kamu itu siapa?Maksud Mbah...kamu kok bisa langsung Gasdor gitu beli tanahnya. Nggak pakai nawar atau segala macam. Sebenarnya harga yang ditawarkan Mbah Dipo tadi menurut Kakung sedikit kemahalan. Dan kamu langsung bayar jebret tanpa nunda nunda." tanya Mbah Purwo penuh selidik.
" Hehe..Mbah....siapapun saya yang penting saya hanya mau membuat Leni bahagia Mbah...lagi pula saya beli tanah itu juga buat masa depan saya dengan Leni. Masalah kelebihan harganya, saya anggap itu ongkos buat yang sudah susah susah menawarkan kesana kemari. Karena yang saya lihat kualitas tanahnya juga bagus." Jelas Revan dengan sangat yakin.
"Mbah Kung itu cuma pengen cucu cucu mbah nanti bisa hidup layak dan bahagia,..karena jujur mbah sedikit trauma dan takut kalau hidup Leni sama seperti ibunya..." kata Mbah purwo.
"Memang kenapa dengan Ibunya Leni Mbah?"tanya Revan.
"Sinta, Ibunya Leni, menikah dengan laki laki yang menurut mbah kung tidak pantas disebut manusia..." cerita Mbah Purwo. Revan hanya diam menunggu kakek Leni itu melanjutkan ceritanya.
"Sikapnya sangat kasar,bahkan tak segan main tangan dengan anakku. Mbah utimu, sejak awal sudah melarang Sintia berhubungan dengan Togar. Tapi mungkin memang benar kata orang. Cinta itu buta dan tuli. Tak peduli sekeras apapun mbah kakung dan utimu melarang, mereka tetap menjaga hubungan yang tak baik itu. Hingga akhirnya mereka memilih kawin lari." sedikit demi sedikit Revan paham mengapa kehidupan Leni dan Mbah utinya sangat berbeda.
"Leni sebenarnya mempunyai seorang kakak perempuan. Tapi Togar membawa pergi bayi itu entah kemana. Dan mengabarkan bahwa anak itu telah meninggal pada Sintia. Entah apa yang ada di pikiran Togar sampai ia rela membuang darah dagingnya sendiri."
" Mbah Kung tahu bayi Sintia masih hidup. Karena Mbah Kung selama ini memang selalu mengawasi Sintia dari jauh, tanpa sepengetahuannya. Namun secara ajaib, keberadaan kakak Leni, tiba tiba hilang seperti ditelan bumi. Bahkan Mbah Kung tak tahu anak itu sekarang masih ada atau tidak."
"Tak lama setelah anak itu dinyatakan " meninggal" Sintia hamil lagi dan lahirlah Leni." kata Mbah Purwo.
" Mbah apa Revan boleh meminta foto ayah Leni kalau masih ada?"pinta Revan
"Untuk apa le?"tanya mbah Purwo.
" Mencari tahu Mbah...Revan janji cepat atau lambat Revan pasti mengetahui dimana saudara Leni." kata Revan meyakinkan mbah Purwo.
"Siapapun kamu sebenarnya, Mbah cuma pesen, tolong bahagiakan Leni. Jangan sampai anak itu seperti ibunya. Mbah nggak rela." kata mbah purwo dengan mata yang sudah berkaca kaca.
"Revan Janji Mbah...." janji Revan
" Mbah kakung akan pegang janjimu."
__ADS_1
Sesampainya di rumah, mereka sudah disambut oleh Mbah Fatma dan Leni yang sedang menikmati hembusan angin di teras rumah.
"Loh sudah dapat to Pak tanahnya?" tanya Bu Fatma pada suaminya.
" Sudah Bu..luasnya 2 hektar malah langsung dibayar 1 M lunas sama putumu lanang (cucu laki lakimu) ini". kata Mbah Purwo dengan antusias.
"O..yo wes syukur lek ngono Pak..." jawab Mbah uti dengan santai. Begitu pun Leni yang tidak terlihat kaget.
"Loh..kok nggak ada yang kaget?" tanya Mbah Purwo keheranan.
"Lah nggak ada yang bikin kaget kok disuruh kaget." kata Mbah Uti.
" Kok iso?" tanya Mbah kakung.
"Putumu lanang ki juragan gede Pak...Bos e Leni di kantor sana. Yang punya perusahaan. Jadi kalau uang segitu lha yo dianggap duit receh sama Revan.."jelas Mbah Uti. Mbah Purwo langsung menatap Revan. sedangkan sang terdakwa hanya cengar cengir tanpa rasa bersalah.
"Ooooo....bocah sableng tenan kowe Le...wong tuwo mbok apusi..."kata Mbah Kakung sambil memukulkan topi koboinya.Revan hanya terkekeh menanggapi pukulan Mbah Purwo. Kemudian dengan gemas kakek itu langsung memijit keras tengkuk Revan yang membuatnya kabur seketika sambil tertawa.
siang itu, Leni mengajak Revan berkeliling desa menggunakan motor matic milik kakeknya.Revan yang menyetir sedangkan Leni di belakang berpegangan erat di pinggang Revan. Sedari pagi, banyak tetangga yang hanya sekedar ingin tahu siapa laki laki dengan tingkat ketampanan super yang ada di rumah mereka. Tentu saja itu membuat Leni jengah akan kehadiran mereka.
"Mau kemana dulu Len..." tanya Revan sedikit berteriak.
"Terserah mas Revan...yang penting jauh dari rumahnya Mbah..." jawab Leni.
"Loh kan aku nggak tahu daerah sini Len..." kata Revan.
"Kita cari minum di minimarket dulu Mas..." kata Leni.
Mereka pun turun di depan sebuah minimarket untuk membeli minum dan beberapa makanan ringan. Dan benar saja, ketika Revan masuk minimarket itu, seketika Revan menjadi pusat perhatian karena ketampanannya. Entah mengapa Leni begitu kesal. Dengan cepat ia mengambil minuman dingin dan beberapa makanan ringan.
Saat berada di samping Revan, ia langsung mengalungkan tangannya di lengan kekar Revan.
"Kenapa nggandengnya sambil monyong gitu sih?" tanya Revan sambil mencubit bibir monyong Leni.
"Nggak sadar juga?" tanya Leni semakin kesal.
__ADS_1
"Emang kenapa?" tanya Revan pura pura tidak peka.
"Itu tuh Pak Bos jadi pusat perhatian. Lain kali kalau keluar pake motor, jangan lupa pake masker topi sama kacamata item!" kata Leni dengan nada ketus tapi masih tetap menggandeng Revan.
"Nyonya cemburu?" goda Revan.
"Kegantengan banget sih Anda?"kesal Leni.
" Kan emang ganteng..kamu sering yang sering bilang sama aku.." untung bos ganteng..." gitu kan?" ledek Revan.
"Ih...dasar punya Bos kok narsis amat ya..."gerutu Leni.
"Aku denger loh Len..."kata Revan dengan senyum menggodanya. Yang membuat perempuan di minimarket itu teriak histeris saat melihat senyum Revan.
"Ayo cepet bayar...disini udah zona merah...!" kata Leni sambil menarik Revan menuju kasir.
Revan langsung mengeluarkan semua belanjaan mereka dari keranjang. Petugas kasir itu tak langsung menghitung malah bengong menatap pria tampan di depannya.
"Semuanya berapa Mbak..?" tanya Revan. Tapi petugas itu masih melongo.
" Mbak....Hello..."tanya Revan sambil melambaikan tangan di depan petugas kasir itu.
Leni yang sudah tak sabar langsung menggebrak meja kasir di depannya. Dan membuat petugas kasir terlonjak kaget dan jadi salah tingkah.
"Hoe..mbak..kalo kerja jangan sering ngelamun lihatin suami orang! ini total belanjaannya berapa?Ditanya dari tadi malah bengong bae.." omel Leni.
"Ma...maaf mbak semuanya seratus tiga pulub ribu, mau tambah apa lagi?" kata Petugas kasir itu masih salah tingkah.
"Gak!" jawab Leni dengan ketus.
"Maafin istri saya Mbak...dia lagi hamil muda, makanya ngomongnya ngegas terus..." kata Revan. Dan dibalas dengan tatapan tajam dari Leni.
"Istri dari hongkong?"gerutu Leni.
"Kan Mbaknya yang bilang saya suaminya..."kata Revan sambil menoel hidung Leni. Seketika wajah Leni langsung memerah dan ia segera cepat cepat meninggalkan Revan.
__ADS_1