Jebakan Cinta CEO Baru

Jebakan Cinta CEO Baru
Menggantikan posisi


__ADS_3

"Eh...kamu udah bangun, sayang? Sini...aku lagi ngobrol ngobrol sama Bi Siti..."kata Revan memanggil Leni untuk duduk di sampingnya.


"Malem Bi...Maaf Leni kecapekan tadi agak pusing..."kata Leni sambil tersenyum ke arah Bi siti.


"Iya Nyonya.. tidak apa apa...mau makan sekarang apa nanti? Biar bibi siapkan"tanya Bi Siti.


"Bibi istirahat aja...Aku bisa menyiapkan sendiri Bi...Bibi bisa nggak panggil Leni aja..jangan panggil Nyonya..Leni bukan nyonya besar Bi..."Kata Leni terkikik.


"Tuh kan Bi...Leni nggak bakal mau dipanggil gitu.." kata Revan menimpali.


"Hehe..tapi kan Bibi nggak enak Den..Panggil Mbak Leni aja kalau gitu..."kata bBi siti.


"Terserah Bibi..senyamannya aja..."kata leni.


"baik kalau gitu Bibi istirahat dulu, bahan bahannya sudah tersedia di kulkas Mbak...Den..."pamit Bi Siti.


"Iya Bi .."jawab mereka hampir bersamaan.


Sepeninggal mereka, Leni menatap Revan dengan tatapan tajam. Tentu saja tatapan dari sang ibu negara membuatnya sedikit bergidik.


"Mas...kamu kok bilang aku fitur lengkap emang aku hp?terus kalau aku rusak kamu buang, terus kalau bosen kamu tukar tambah sama yang baru gitu terus..hhmmmmmppptt....."Leni tak menyelesaikan kata katanya karena Revan lebih dulu menyambar bibir Leni dan memberikan l***tan.


"Udah ngomelnya?"tanya Revan.


"Mas Revan mau bikin aku sama Keiko kehabisan nafas?aku kan belum siap siap..."kata leni sambil mengerucutkan bibirnya.


"Emang kalau ciuman ada ritualnya siap siap?"goda Revan.


"Nyebelin!"ketus Leni.


Revan pun hanya terkekeh. Ia segera membuatkan susu untuk sang istri.

__ADS_1


"Kamu mau rasa apa sayang?"tanya Revan.


"Kayanya vanilla jahe aja Mas..aku agak mual.."kata Leni.


"Oke..tunggu sebentar."jawab Revan.


Setelah beberapa menit, susu pun siao, Leni langsung meminumnya sampai tandas. Revan pun menyerahkan vitamin untuk sang istri.


"Mas..habis ini mau ngapain?"tanya leni setelah menyelesaikan ritual minum obatnya.


"Mau selesaikan tanda tangan berkas yang tadi siang Len..mau temani?"tanya Revan. Leni pun mengangguk dengan semangat. Mereka pun naik menuju ruang kerja Revan di lantai dua. Tak lupa Leni membawa beberapa camilan dan potongan buah.


"Mas...mau aku bantu?"tanya Leni yang beberapa kali melihat Revan mengerutkan dahinya.


"Nggak apa apa sayang...kamu rebahan aja disitu."jawab Revan


Bukannya menurut, karena rasa penasarannya yang tinggi, Leni pun bangkit dan menghampiri Revan ia pun langsung paham dengan apa yang membuat Revan mebgerutkan dahinya.


"Kayanya kita harus tinjau lokasi proyek langsung Mas..karena untuk kontur wilayah, bangunannya nggak akan kuat kalau kita pakai anggaran segini. Jangan langsung ditanda tangani."kata Leni.


"Lebih baik tambahin tapi aman daripada segitu tapi kita keluar duit terus terusan ke depannya."kata Leni dengan yakin.


"Kita harus tinjau lokasi langsung untuk mendapat hasil yang sesuai."lanjutnya.


Revan memang sedikit kerepotan setelah direktur keuangan di perusahaannya dipecat karena kasus Mark Up dan korupsi, sedangkan ia belum mendapat ganti yang cocok untuk posisi tersebut. Keberadaan Leni memang sangat membantu Revan saat ia seperti ini.


"Yang..kamu ada pandangan nggak siapa yang cocok menggantikan direktur keuangan yang lama?"tanya Revan. Sebenarnya ia ingin menunjuk Leni, namun kondisinya yang sedang hamil, tak memungkinkan Revan untuk memperkerjakan istrinya itu. Lagipula Leni juga tak mungkin mau.


"Kalau boleh, aku sanggup menggantikan posisi itu tapi hanya sementara Mas...Biar Yandra yang menggantikan posisisku sebagai asistenmu." kata Leni. Revanpun seketika terperangah.


"Kamu beneran mau Yank?"tanya Revan tak percaya.

__ADS_1


"Heem..boleh kan?"tanya Leni.


"Aku sebenarnya sempat kepikiran, tapi takut kamu nggak sanggup karena kecapekan nanti...ternyata kamu sendiri yang mengajukan.."kata Revan dengan nada yang sangat gembira.


"Aku cuma pengen bantu kamu Mas...akubkasihan lihat kamu begitu frustasi ketika kamu tahu direktur keuanganmu sudah keterlalun" kata Leni jujur .


"Terimakasih sayang..makasih banyak Sweety..."kata Revan. Sembareberi pelukan Leni.


"Sama sama Mas..."kata Leni.


Tak lama kemudian ponsel Revan berdering.


"............"


"Apa?!bagaimana bisa kabur?kenapa baru bilang sekarang!""tanya Revan setengah berteriak.


"......"


"Baik aku segera kesana sekarang."kata Revan penuh emosi.


Leni yang melihat wajah Revan yang merah padam seperti menahan amarah langsung menghampirinya.


"Ada apa Mas?"tanya Leni.


"Len..aku pergi dulu...aku baru dapat kabar, tadi siang Felix,pamannya Jess yang kemarin ditangkap polisi, kabur..aku mau ke markas anak buah Vino untuk mencari tahu..kamu nggak apa apa kan, kalau aku tinggal sebentar?"kata Revan sambil mengecupi seluruhbwajah Leni.


"Tapi Mas hati hati ya...ingat istri lagi hamil..."kata Leni yanv sudah kembabg kempis seperti akan menangis.


"Iya..pasti..segeralah istirahat..biar pekerjaanku dilanjutka besok lagi."kata Revan.


"iya Mas..beneran hati hati..."pesan Leni.

__ADS_1


"Iya..iya...ibu negara tenang aja...."kata Revan terkekeh sembari ngecup kening Leni..Ia pun meninggalkan Leni di ruang kerjanya sendirian.


Sepeninggal Revan Leni pun kembali ke kamarnya. Ia juga sudah merasa ngantuk dan memutuskan untuk beristirahat.


__ADS_2