
Tengah malam itu, Justin datang ke apartemen Revan. lebih tepatnya, Apartemen yang ia hadiahkan untuk mantan asisten pribadinya di rumah sakit. Ia dipanggil Revan untuk memeriksa kondisi Leni yanv tiba tiba pingsan.
"Harusnya loe panggil dokter Lisa, bukannya gue yang spesialis bedah. Bengek loe.."umpat Justin.
"Habis gue panik Just...baru masuk ruang kerja gue langsung pingsan."kata Revan yang terus memoerhatikan Justin yang sedang memeriksa Leni.
"Lagian kelamaan kalau nunggu dokter Lisa, rumahnya jauh. Kalo loe kan nggak nyampe 10 menit udah sampe."lanjut Revan.
"Ck...bilang aja biar gratisan..."jawab Justin dengan nada datar.
"Eh...enak aja, gue CEO loh..masa minta gratisan..emang loe mau dibayar berapa,Gue transfer sekarang!"tanya Revan yang kesal.
"Bayarin gue pake secangkir kopi buatan loe..kangen gue ma kopi bikinan loe..."kata Justin di balas dengan decihan oleh Revan.
"Leni kenapa?" tanya Revan.
"Bini loe nggak apa apa. Tensinya sedikit rendah kayanya kecapean. Emang loe main abis main berapa ronde?" tanya Justin sambil memasangkan IV di punggung tangan Leni. Setelah selesai mereka berdua pun keluar dari kamar menuju dapur untuk mengobrol.
"sebenarnya ini yang mau gue tanyain...Bini gue kok jadi aktif ya semenjak hamil?"kata Revan.
"Maksudnya?"tanya Justin mengernyitkan dahi.
"Ya..itu..minta terus.."jawab revan pelan.
"Hormon...itu bawaan kehamilan. tapi saran gue mending jangan sering sering dulu. Janinnya masih rentan banget..kalau udah 4 bulan ke atas nggak apa apa. Apalagi kalau udah trimester akhir malah disarankan.Loe tanya dokter lisa aja lah yang lebih ahli."jawab Justin.
"Nah kalau istri yang minta, terus kalau nggak diturutin ngamuk..gimana?"tanya Revan.
__ADS_1
"Itu sih..derita elo.."kata Justin sambil menyesap kopi buatan Revan.
"Ck.....by the way..gimana Jess?"tanya Revan.
"Masih tetep. Tapi tadi siang sedikit ada respon kalau diajak ngomong. Tapi ya gitu masih diem terus."jawab justin seketika menunduk.
"Loe yang sabar ya Bro...yakin loe pasti bisa melewati semuanya."kata Revan memberikan semangat pada sahabat yang ia anggap seperti kakaknya itu.
"Iya..makasih...maaf gue terus ngrepotin elo buat kasus Jess. Dan karena elo juga, kita tahu kalau Papanya Jess punya saudara kembar."kata Justin dengan tulus.
"Iya sama sama.. Tenang bro..kalau ada masalah apapun jangan sungkan buat datang ke gue,gue dengan senang hati bakal bantuin."kata Revan.
"Eh..gue mau pamit dulu,besok pagi infusnya udah bisa dilepas. Loe bisa kan lepas sendiri?masih ingat kan caranya yang gue ajarin dulu? Oh ya..terus kalau misalnya besok ada flek yang keluar, segera bawa ke rumah sakit. Tapi kalau nggak ada berarti Leni baik baik aja. "tanya Justin.
"Siap mantan bos..masih ingat kok..gue kan cerdas..."kata Revan.
"Hehe..kan udah ada yang bantuin sekarang."kekeh Revan.
"Inget bini loe lagi hamil,jangan disuruh kerja rodi. Gue aduin loe sama Mommy Yoo Ra biar tambah lebar tuh telinga."ancam Justin.
"Udah pulang sono...bosen lama lama liatin muka loe terus" kata Revan yang kesal.
Sepeninggal Justin, Revan pun segera masuk ke kamar. Ia memandangi Leni yang tengah terlelap dengan infus di tangannya. Tadi ia memang tersadar,namun kembali tertidur setelah Justin menyuntikkan obat yang membantunya beristirahat.
"Keiko...yang pinter ya sayang..jangan buat Bunda kecapean..ayah khawatir kalau bunda sampai sakit..."kata Revan sambil mengelus perut Leni.
Hampir semalaman Revan tak memejamkan matanya. Ia tertidur saat jam menunjukkan pukul 4 pagi. Merasa ada pergerakan, Revan pun terbangun dengan mata yang masih berat.
__ADS_1
"Len..kamu udah bangun?"tanya Revan dengan suara serak.
"Eh..maaf mas Revan jadi terbangun..aku cuma mau ke kamar mandi."kata Leni.
"Aku antar ya...."kata Revan yang masih berusaha membuka matanya yang terasa lengket.
"Aku bisa kok Mas...kamu istirahat aja."jawab leni.
"No..aku antar,,tangan kamu masih di infus gitu. Sekalian aku memastikan sesuatu."jawab Revan yang tidak menerima penolakan.
Revan pun mengantar Leni sambil memegang tabung infus yang terhubung dengan punggung tangannya.
"Mas Revan ikut masuk?"tanya Leni.
"Iya...aku mau memastikan sesuatu semoga nggak terjadi."kata Revan
"Apa Mas?"tanya Leni.
"Flek..kata Justin semalam, kalau ada flek di CD kamu, kita harus ke rumah sakit."kata Revan.
"Oh...tapi kan aku bisa lihat sendiri Mas...jangan bilang kamu mau curi kesempatan."kata leni.
"Iya..eh nggak lah...aku cuma memastikan aja Len..kamu nggak percaya?" kata Revan gugup.
"Tatapan matamu tak bisa bohong tuan...."kata Leni.
(Kalau di novel author yang sebelumnya, bahasa yang digunakan Justin formal. Kalau disini, dari awal kan alurnya santai,jadi di novel ini semua percakapan author pake bahasa yang nggak formal. Biar cenderung lebih ringan aja.)
__ADS_1