Jebakan Cinta CEO Baru

Jebakan Cinta CEO Baru
Sidak lapangan


__ADS_3

Mereka tiba di lokasi proyek 1 jam kemudian, mandor yang sebelumnya tidak mengetahui kedatangan 2 Big Bosnya terlihat sangat terkejut. Mandor itu segera menyuruh bawahannya mengambilkan helm pengaman warna putih dan rompi proyek untuk Revan dan Eric. Revan dan Eric pun menerimanya.


"Terimakasih..bagaimana pekerjaannya..Lancar? "tanya Eric dengan nada bicara yang tenang tapi dengan tatapan mata yang mengintimidasi, membuat mandor itu gugup.


"La..lancar Tuan...."jawab mandor itu.


"Revan...periksa bagian gudang bersama Thompson. Pastikan bahan bahan konstruksi berkualitas bagus, karena saya tak ingin gedung ini mencelakakan orang dikemudian hari. Bukan begitu Pak Mandor?"tanya Eric.


"I..iya Tuan...sebenarnya tanpa di cek pun saya selalu memastikan bahwa kualitas bahan konstruksi tetap yang utama."kilah mandor itu untuk menutupi kegugupannya. Eric yang sudah berpengalaman berhadapan dengan orang seperti mandor itu, langsung tahu bahwa sang mandor juga ikut terlibat mark up bahan konstruksi hingga perusahaannya mengalami kerugian cukup besar.


"Tinggal cari bukti"batin Eric.


"Hmm...begitu ya..tapi mungkin putera saya juga ingin mengetahui keadaan di gudang Pak Mandor..apa anda keberatan?jika keberatan, saya bisa panggil putera saya kembali."kata Eric dengan nada yang tenang tapi penuh intimidasi.


"Oh..tidak...tidak...Tuan..silahkan kalau Tuan Muda Revan ingin mengecek ke gudang..saya sama sekali tidak keberatan."Kata Mandor itu semakin gugup.


Sementara itu, Revan dan Thompson yang sudah sampai di gudang, mulai mengecek bahan bahan bangunan yang tersedia. Jika dilihat sekilas, tumpukan semen dan bahan lainnya sama sekali tidak mencurigakan. Namun bukan Revan namanya kalau percaya begitu saja. Ia menyuruh salah satu pekerja untuk membongkar tumpukan tersebut. Awalnya pekerja itu takut, namun setelah Revan meyakinkan dan memberinya sejumlah uang untuk tutup mulut, Pekerja itupun mau bekerja sama.


Dan benar dugaan Revan, di balik tumpukan barang berkualitas bagus itu, ternyata tersembunyi barang barang yang kualitasnya jauh di bawah standar. Revan pun mengambil foto barang tersebut untuk dijadikan bukti.


"Tinggal cari dalang dibalik semua ini."batin Revan.


Setelah mendapatkan yang ia cari, Revan pun keluar dari gudang tersebut. Namun sebelumnya ia menyurih pekerja itu untuk mengembalikan semuanya seperti semula. Agar tidak ada kecurigaan.


"Sudah selesai Son?"tanya Eric ketika Revan telah kembali.


"Sudah Dad...kita bisa pulang sekarang."kata Revan dengan sikap yang tenang namun menakutkan.


"Baiklah...kalau begitu kami permisi pulang dulu, selamat berkerja Tuan Tuan..."kata Eric.

__ADS_1


Mereka pun mengantar kepergian dua big boss itu sampai di dekat mobilnya.


"Bagaimana dengan hasil investigasimu Son?"tanya Eric.


"Seperti yang kita duga Dad..namun cara mereka sungguh bodoh, jadi aku bisa langsung memperoleh buktinya. Tinggal kita cari tahu dalang di balik ini semua."jawab Revan.


"Hmm......bagus...Thompson,kamu sudah tahu tugasmu kan?" kata Eric pada orang kepercayaan anaknya itu.


"Saya mengerti tuan Besar..."jawab Thompson.


"Kami tunggu laporan darimu."kata Eric.


"Baik Tuan..."jawab Thompson.


Mereka pun memutuskan kembali lagi ke kantor karena hari sudah mendekati jam makan siang. Saat di perjalanan, Revan mampir di sebuah restoran untuk membeli makan siang untuk 4 orang. Karena Yoo Ra saat ini berada di kantor Revan untuk menemani Leni.


Tepat jam makan siang Eric dan Revan sampai di kantor dengan menenteng 4 kotak berisi makan siang untuk dirinya, Leni dan kedua orang tuanya. Ia langsung menuju lift yang dikhususkan untuk pemilik perusahaan.


"Masih sibuk Len? Mommy mu kemana?"tanya Eric.


"Dad....maaf sampai nggak tahu kalian sudah datang. Mommy sedang istirahat di kamar Dad..tadi katanya migrainnya kambuh.."kata Leni. Eric yang mendengar istrinya sedang tak sehat, langsung masuk ke kamar pribadi Revan.


"Ada masalah apa Len...?"tanya Revan.


"Aku dari tadi tuh ngitung2 laporan keuangan yang tadi diantar bagian keuangan Rex Carlton. Aku hitung berkali kali tapi tetap selisih antara pemasukan dan biaya operasional hotel. Padahal kalau aku lihat dari daftar pengunjung dan sewa bulan ini kita mengalami kenaikan yang lumayan tinggi dari pada bulan bulan sebelumnya. Harusnya pendapatan kita meningkat, tapi kenyataannya saat ku hitung ulang, kita ada beberapa yang malah minus.Aneh kan Mas?" ungkap Leni.


"Hmmm....aku paham..nanti kita bicarakan lagi ya..sekarang waktunya makan siang..aku sudah kelaparan Len..."kata Revan sambil membuka bungkusan yang tadi ia beli. Ia juga menyiapkan makan siang untuk Leni.


"Mas..kok malah kamu yang nyiapin makan siang?harusnya kan itu tugas aku?"tanya Leni bingung.

__ADS_1


"Kamu selalu bantu aku dalam segala hal Len..sekarnag giliran aku yang bantu kamu."kata Revan.


"iihhh....so sweet banget sih..."goda Leni setelah ia selesai membereskan pekerjaannya.


"Aku dari dulu emang sudah Sweet kamu aja yang telat nyadar..."kata Revan dengan cuek.


"Obat narsisnya lupa nggak diminum ya Bapak...?"kata Leni memasang wajah cemberut.


"Lupa..Len panggil Mommy sama Daddy..kita makan bareng pasti lebih nikmat."kata Revan.


"Iya Mas..."jawab Leni seraya menuju ke ruang pribadi Revan.


"Mom Dad..kita makan siang dulu yuk..."kata Leni mengajak kedua calon mertuanya itu.


"Iya sayang...sebentar Mommy mau cuci muka dulu biar agak segar. Yang..kamu duluan gih..nanti aku nyusul."kata Yoo Ra.


"Iya..aku keluar dulu..jangan lama lama Yang..kasihan anak anak."kata Eric.


Setelah mereka berempat berkumpul, mereka pun makan siang bersama kecuali Valine, karena selama berada di Indonesia, Valine lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah atau berkumpul bersama teman teman lamanya.


Setelah makan siang, Revan dan Leni langsung berangkat ke rumah sakit. Sedangkan Eric masih tinggal di kantor dan Yoo Ra labgsung pulang ke rumah karena kondisinya yang sedang tak sehat. Revan dengan posesifnya terus menggandeng Leni. Tentu hal ini menjadi perhatian yang besar. Kebanyakan dari mereka, terutama kaum hawa merasa iri saat melihat Revan dan Leni berjalan bergandengan di kantor. Hal ini membuat Leni tak nyaman.


"Mas...lepas tangannya dong"kata Leni.


"Kenapa Hm?"tanya Revan.


"Banyak yang lihat...nggak enak sama yang lain."jawab Leni.


"Biarin Len lagian mereka semua sudah tau kamu calon istri aku..."kata Revan.

__ADS_1


"Terserah Mas deh"kesal Leni.


Revan menyuruh Leni untuk menunggu di depan gedung sedangkan ia langsung berlari kecil menuju parkiran khusus petinggi perusahaan. Tak lama kemudian, mobil sport warna merah itu pun mendekati Leni. Dan mereka langsung menuju ke rumah sakit temkatbRevan bekerja dulu.


__ADS_2