Jebakan Cinta CEO Baru

Jebakan Cinta CEO Baru
Rencana untuk hari tua


__ADS_3

"Sebelumnya, mohon maaf jika saya sudah lancang Mbah Kakung. perkenalkan nama saya Revan, Mbah. saya teman kerja Leni di kota. Kami mohon maaf karena kedatangan kami sangat mendadak. Sebetulnya kedatangan saya kemari memang ada perlu. Kedua orang tua saya akan kesini untuk melamar Leni." Kata Revan yang lebih dulu menjawab pertanyaan Mbah Fatma.


Revan sengaja tak menyebutkan kalau ia adalah seorang CEO di perusahaan ayahnya, karena ia tak mau kakek dan nenek Leni akan canggung jika Leni akan menikah dengan Bosnya.


"Oo...jadi itu to tujuannya...kalau Mbah Kakung sama Uti, terserah sama Leninya saja, yang penting pasangan Leni kelak bisa membimbing Leni ke jalan yang lebih baik. Dan ada sama Leni saat suka maupun duka. Itu saja pesan Mbah..Leni ya cuma begini adanya. Dia bukan anak orang kaya yang mau apa apa tinggal minta terus keturutan.."kata Mbah Kakung dengan bijaksana.


" Iya Mbah....saya mengerti...walaupun saya belum lama kenal dengan Leni, tapi saya yakin Leni gadis baik baik. Makanya saya mantab untuk melamarnya" kata Revan.


Tak berapa lama kemudian, Leni keluar membawa baki berisi 2 cangkir kopi panas untuk kakek dan Revan dengan sepiring singkong yang baru digoreng neneknya.


"Mas Revan..kopinya...Ini ada singkong goreng masih anget...kayanya mbah ngukus singkongnya tadi sore." kata Leni. Revan yang tak pernah makan singkong goreng sedikit menautkan alis. Ia sering melihatnya dijajaka n di pinggir jalan kota tapi tak pernah membelinya sekalipun.


"makasih Len...." kata revan.


" Aku siapkan kamarmu dulu Mas..." Kata leni sembari meninggalkan Revan dan Mbah kakungnya.


"Kalau di desa ya jajannya cuma seperti ini Le...langsung cabut dari kebun sendiri..." kata Mbah Purwo sambil terkekeh. Laki laki tua berperawakan Indo Belanda itu seperti paham dengan keheranan Revan.


" Iya Mbah Kung...saya sering lihat di kota,biasanya dijual di pinggir jalan, tapi nggak pernah beli.."kata Revan sambil mencomot sepotong singkong goreng.


"Enak Mbah....ternyata enak sekali...baru kali ini saya coba....hehe..." kata Revan setelah merasakan singkong goreng itu.


"Habiskan...di belakang masih banyak..kalau kurang besok kita cabut lagi di kebun..." kata Mbah Purwo sambil terkekeh.


Obrolan mereka berlanjut, kini Revan tahu siapa Kakek dan Nenek Leni. Kakeknya seorang pensiunan perwira TNI Angkatan Udara berpangkat kolonel sedangkan neneknya dulunya seorang bidan desa. Obrolan mereka berlangsung hingga saat Leni memberitahukan bahwa kamar yang ditempati Revan sudah siap, Revan pamit untuk beristirahat.


"Mas, ini kamar yang selalu ku tempati saat berkunjung kemari, maaf kalau kamarnya sempit dan jelek." kata Leni.


"Nggak apa apa.Len....aku sudah biasa tidur di kamar yang kecil, di loteng pun pernah waktu masih di London. Jangan pikir aku hanya hidup enak saja...Oh ya kamu tidur dimana kalau aku disini?." kata Revan.


"Aku pengen tidur bertiga dengan Mbah Uti dan Kakung...aku masih kangen dengan mereka mas...." kata Leni.

__ADS_1


" Ya sudah...aku istrahat dulu. Kamu juga buruan tidur,besok pagi kita jalan jalan keliling desa.." kata Revan.


Leni pun menjawab hanya dengan anggukan dan pergi ke kamar sebelah. Revan masuk ke kamar Leni. kamar berukuran sekitar 3 x 4 itu di dominasi dengan warna putih. Kamar itu tertata rapi dan sangat bersih walaupun jarang di tempati. Karena Nenek Leni adalah tipikal orang yang sangat menjaga kebersihan. Revan membaringkan tububnya di kasur busa yang ada di kamar tersebut. Tak berapa lama kemudian ia sudah tertidur pulas.


Pagi hari sekitar pukul 5, Leni terbangun. Sebenarnya ia masih sangat mengantuk. Tapi karena ia tak mau buang buang waktunya yang hanya sedikit di desa, Leni langsung mencuci wajahnya dan menuju dapur untuk membantu neneknya memasak.


"Lho..sudah bangun to Nduk?"tanya Mbah Fatma dengan senyumnya yang sangat teduh.


"Iya Ti...aku nggak mau buang buang waktuku disini untuk tidur, kan Minggu sore harus pulang lagi ke Ibu kota.. Leni mau ajak Mas Revan jalan jalan keliling kampung Ti..." kata Leni.


"Masmu tadi sudah bangun...kayaknya dia ikut Kakungmu ke kebun..." kata Mbah Fatma dengan logat jawanya yang kental.


" Biar saja Ti...biar dia tau gimana hidup di desa...heheh..." kekeh Leni.


"Kalau Uti lihat,kayaknya calon Suamimu itu bukan orang biasa Nduk...tutur bahasanya sangat sopan dan seperti sangat berpendidikan..beda sama ayahmu dulu...orangnya kasar nggak tahu sopan santun..untung kamu nggak kayak dia" kata nenek Leni dengan hati hati.


"Sebenarnya, Mas Revan itu..bos Leni di kantor Ti...Ayahnya Mas Revan pemilik perusahaan tempat Leni bekerja..."jawab leni sedikit ragu karena ia khawatir neneknyabakan kaget.


"Mas Revan memang gitu Ti....dia nggak mau menunjukkan posisi dia sebenarnya, karena takut kalau orang yang bersama dia jadi canggung kalau tahu siapa dia..Kalau soal orang tua mas Revan, mereka sudah tahu semua tentang Leni..mereka juga sudah menerima Leni." jelas Leni yang membuat raut muka neneknya menjadi lega kembali.


"Besok sore ayah dan ibunya Mas Revan datang kesini untuk melamar Leni Ti...." kata Leni pada neneknya.


"Iya..berarti sore nanti Uti mau cari orang buat bantu masak masak di rumah, nggak mungkin kan kalau ada tamu dari jauh nggak dijamu dengan baik...apa lagi mbahkung mu juga salah satu tetua di sini..apa kata tetangga nanti..." kata Nenek Fatma sambil tersenyum.


"Maaf ya Ti...kalau kedatangan Leni kemari malah membuat repot Uti..." kata Leni merasa bersalah.


" Yo nggak to Nduk...malah Uti seneng banget, akhirnya cucu perempuanku sudah ada yang ngelamar..bos besar lagi...ibumu pasti bangga sama kamu..." kata Nenek Fatma sambil mengelus wajah putih Leni.


Mereka pun melanjutkan kembali acara masak bersama. Pagi ini Mbah uti dan Leni memasak, ikan goreng beserta sambal lalapan dan sayur bening bayam dan labu siam yang kebetulan adalah hasil kebun di belakang rumah.


...----------------...

__ADS_1


Sementara itu, Revan yang sedang membantu kakek memanen tanaman kapulaga di kebun belakang sudah bermandikan keringat. Revan yang selama ini hanya berperang menggunakan laptop dan berkas berkasnya, kesulitan untuk terjun langsung ke kebun. Beberapa kali ia mengusap peluh yang terus bercucuran di wajah tampannya.


"Capek Le..?" tanya Mbah Purwo.


"Lumayan Mbah Kung..ini baru pertama kali saya ke kebun langsung...tapi disini sangat menyenangkan udaranya masih bersih dan segar...jadi capeknya nggak terasa" jawab Revan dengan jujur.


"Disini memang belum banyak polusi seperti di kota kota dan lagi udaranya cukup dingin, jadi walaupun kita kerja berkeringat, sebentar saja sudah sejuk lagi...iya kan?" kata Mbah purwo.


"Iya Mbah..."kata revan yang manggut manggut mengiyakan.


Mereka melanjutkan obrolan tentang tanaman yang baru saja mereka panen. Revan cukup terkejut saat mendengar harga jual tanaman kapulaga milik Kakek Leni. Karena harga komoditas tersebut cukup fantastis, terbesit keinginan Revan untuk membeli sebidang tanah untuk ditanami salah satu jenis tanaman obat tersebut. Ia pun langsung menyampaikan pada Mbah Purwo. Dan orang tua itu setuju.


Tak lama kemudian, Datanglah Leni membawakan Minuman dingin untuk mereka.


"Len..duduk sini bentar.." kata Revan.


"Ada apa Mas?" tanua Leni penasaran.


"Ada yang ingin aku bicarakan..Aku ingin membeli sebidang tanah untuk ditanami kapulaga seperti punya Mbah Kung, karena harganya lumayan tinggi disini...kan lumayan Len buat investasi." usul Revan.


"Aku setuju setuju aja...tapi kamu nggak bisa ngurus sendiri lho Mas..."kata Leni.


"Iya aku tahu..aku nyuruh orang buat ngurus lahan disini. Nanti jual beli maupun bayar orangnya biar Mbah kakung ngatur. Jadi kita bisa tiap bulan kesini.Lagipula aku pengen kalau tua nanti hidup di desa kaya Mbah Kakung sama Uti..." kata Revan dengan pandangan menerawang.


"Aku ngikut saran mas Revan aja...." kata Leni dengan senyum manisnya.


"Kalau begitu, setelah sarapan nanti, kakung mau cari tanah yang mau kamu beli Van..jadi nggak kelamaan...dapat barang langsung beres..." kata Mbah Purwo dengam mantab.


"Mbah Kung mau pergi sendiri?" tanya Revan.


"Kamu mau ikut?Kowe sing nggowo montor e yo Le...(kamu yang nyetir ya Nak..)" kata mbah Purwo.

__ADS_1


"Iya Kung... Saya bersih bersih dulu...." kata Revan.


__ADS_2