
Tak ada percakapan sama sekali saat perjalanan pulang ke rumah, Leni dan Revan sama sama tenggelam dalam pikiran mereka masing masing.
Sesampainya mereka di rumah,Yoo Ra dan Eric masih terlihat menonton televisi bersama. Leni dan Revan menyusul kedua orang tua itu.
"Belum tidur Mom...Dad...?" tanya Revan.
"Mommy mu masih semangat nonton sinetron...Daddy mana boleh ke kamar..bisa bisa Daddy harus tidur di luar...."kata Eric sambil melirik Yoo Ra.
"Jadi nggak ikhlas nih nemenin Mommy nonton....??" tanya Yoo Ra dengan tatapan matanya yang setajam silet.
"Ikhlas lah sayang.....apa sih yang nggak buat kamu?" rayu Eric pada istrinya.
"Cih....dasar bucin..."cibir Revan pada ayahnya.
"Awas aja kalau nanti habis nikah kamu bucin berat sama calon istrimu..." ketus Eric.
"Kamu nginep sini kan Van?" tanya YooRa tak memperdulikan perdebatan dua laki laki beda generasi itu.
" Iya Mom...Sudah lama aku nggak nginep sini..." jawab Revan.
"Dulu aja nggak pernah mau kesini..sekarang giliran ada Leni tiap hari kesini...coba dari dulu Leni disini..pasti Mommymu nggak usah repot repot bikin drama ikan terbang segala, cuma gara gara kangen sama kamu..." tukas Eric yang membuat Leni merona karena malu. Pernah Yoo Raa sampai berakting pura pura sakit agar Revan mau menginap di rumah orangtuanya.
"Kan Leni kerja sama aku...jadi wajar dong kalau aku jemput dia..."jawab Revan yang tak mau kalah.
"ck...bilang aja bucin...Bucin kok ngomong bucin..." cibir Eric.
"Mom...Dad..ada hal yang mau Revan dan Leni sampaikan pada kalian.."kata Revan dengan nada serius.
"Hal apa Son...?" tanya Eric yang penasaran.
__ADS_1
"Jangan bilang kalian mau membatalkan rencana pernikahan kalian...ingat tinggal minggu depan loh Van..jangan aneh aneh sama Mommy...kalau masih mau Mommymu ini hidup!" ancam Yoo Ra.
"Mommy dengar dulu..jangan keburu main ngancam dong..." kata Revan dengan nada kesal.
"Sebenarnya kami mau minta izin Mommy dan Daddy,besok sore Leni ingin mengunjungi kakek nenek Leni di luar kota bersama Mas Revan Mom..Dad.." kata Leni yang kali ini ia ikut bersuara.
"Iya..Mom selain itu aku ingin melamar Leni pada mereka, karena seperti yang kita tahu, Leni tak punya orang tua disini. Bahkan ayahnya pun kita tak tahu ada dimana sekarang." kata revan.Eric dan Yoo Ra mengangguk angguk mendengar penjelasan Revan.
"Kenapa besok sore?sekarang aja kalian berangkat, pakai Helikopter perusahaan atau Jet milik Mommy mu saja. Lisensi penerbangan kamu masih berlaku kan Van?Atau kalian mau sewa pilot?" tanya Eric. Revan memang bisa menerbangkan pesawat sendiri, Ia mendapat lisensi saat masih di London dulu.
" Aku pakai heli saja Dad..tapi aku sewa pilot..." jawab Revan enteng. Tapi tidak dengan Leni. Ia merasa akan sangat berlebihan jika menggunakan pesawat pribadi milik keluarga Revan.
"Dad...Mom..apa tidak berlebihan kalau pakai helikopter...tempat Kakek dan nenek Leni ada di pedesaan, lagipula hanya akan memakan perjalanan 1 jam jika menggunakan penerbangan komersial..akan sangat berlebihan jika harus bawa pesawat pribadi...."kata Leni.
"Sayang..kalau pakai penerbangan komersial pasti akan ribet check in dan segala macam, itu akan memakan banyak waktu, sedangkan kalian disana hanya sebentar. Apa tidak kasihan dengan kakek nenekmu yang sudah lama tidak bertemu denganmu?" kata Yoo Ra.
"Pakai Heli saja lebih cepat,tak usah pakai tiket. Seelah ini Daddy akan menghubungi pilotnya,kalian siap siap saja dan langsung ke atap perusahaan." kata Eric.
"Dasar anak nakal! Hari sabtu kami akan menyusul kalian sekalian bawa seserahan! Masa ngelamar anak orang cuma bawa manusianya aja..malu sama kucing!" teriak eric dari lantai bawah dan balas cubitan oleh Istrinya.
Malam itu juga, Leni dan Revan berangkat ke kota Malang, tempat tinggal kakek dan nenek Leni. Tak lupa Leni mengingatkan Revan untuk membawa jaket tebal kareba udara disana lumayan dingin. Desa tempat tinggal kakek dan nenek Leni lumayan jauh dari kota. Sehingga mereka nanti akan turun di sebuah lapangan udara milik anggota Militer yang jauhnya sekitar 45km dari tempat tinggal kakek dan nenek. Sebelum berangkat, Leni sudah menghubungi kakek dan neneknya terlebih dahulu. Setidaknya agar kedua orang tua itu tidak kaget melihat kedatangan Leni bersama seorang pria.
Dalam perjalanan, Leni sedikit tegang, karena baru kali ini ia naik heli. Melihat raut muka Leni yang tegang, Revan langsung paham, Ia menarik Leni ke dalam pelukannya dan satu tangannya menggenggam tangan Leni dengan erat.
"Tenanglah tak usah takut, nanti kamu akan terbiasa terbang denganku...." kata Revan. Leni tak menolak pelukan dari Revan karena pelukan itu membuatnya ia sedikit tenang.
Setelah sekitar satu jam perjalanan, akhirnya sampailah mereka di sebuah lapangam udara. Disana,ternyata kakek Leni sudah mempersiapkan mobil jemputan untuk mereka berdua. Terlihat seorang laki laki paruh baya menghampiri mereka.
"Mbak Leni sama Mas Revan to?" tanya laki laki itu.
__ADS_1
"Iya Pak..." jawab Leni.
"Monggo...sudah disewakan mobil sama Mbah Kakung.." kata Laki laki itu.
Selama diperjalanan Revan yang biasanua pendiam dengan orang yang baru dikenalnya, malah lebih antusias mengobrol dengan laki laki yang bernama Pak Nurhadi tadi, yang ternyata ia seorang RT di kampung halaman kakek Leni. Sedangkan Leni yang sudah kelelahan karena aktifitas seharian ditambah dengan perjalanan yang cukup jauh, langsung tertidur selama perjalanan.
Setelah hampir 2 jam perjalanan, melewati hutan dan berbukit bukit, akhirnya mereka sampai di halaman rumah Kakek dan Nenek Leni. Mereka sampai sekitar pukul 2 dini hari. Rumah itu tidak terlalu besar dan mewah. Tapi sangat asri dengan tanaman bunga dan pohon disekeliling rumah. Revan yang duduk di depan turun terlebih dahulu untuk membangunkan Leni.
"Len...bangun udah sampai..."Revan menggoyang goyangkan tubuh Leni. Leni yang merasa tidurnya terganggu menggeliat dan membuka matanya.
"Udah sampai Mas?" tanya Leni dengan suara yang serak.
"Udah dari tahun kemarin Len...kamu tidurnya kaya orang mati tau nggak..liat tuh Mbah udah nunggu kamu di depan rumahnya..." kata Revan sambil mengacak rambut Leni.
"Hah....apaan sih.." kata Leni sambil merapikan rambutnya yang masih acak acakan. Revanpun membantu Leni turun dari mobil. Mereka langsung menghampiri dua orang lansia yang sedari tadi sudah menyambut mereka. Leni langsung mencium punggung tangan kedua orang tua itu. Begitupula Revan.
"Leniii.....cucuku yang paling cantik...Piye kabarmu Nduk( Bagaimana kabarmu,Nak..?)" tanya Nenek Leni sambil memeluk Leni. Ia sedikit menunduk, karena memang Leni cukup tinggi.
"Baik Mbah Uti....Udah lama banget Leni nggak kesini...." Kata Leni yang belum melepas pelukannya dengan sang Nenek.
"Iya to..wong kamu kesininya sebelum ibumu meninggal..habis itu kamu nggak kesini lagi..Ayo masuk dulu..sudah malem nanti masuk angin." kata Nenek Leni sambil menggandeng cucu perempuan satu satunya itu. Sedang Revan masih malu malu.
"Ayo..Le..pinarak kene....(Ayo Nak masuk sini...)" kata Nenek mempersilahkan Revan yang membantu Pak Nurhadi dan kakek menurunkan barang barang Leni dan Revan.
"Iya Nek...." jawab Revan dengan sopan.
"Ini sedikit oleh oleh buat kakek sama nenek...." kata Revan.
"Kok yo repot repot..kami dikunjungi saja sudah sangat senang...oh ya..jangan panggil kakek sama nenek..Panggil saja sama seperti Leni, Saya Fatma panggil saja Mbah Uti. Ini suami saya Purwo panggil.saja Mbah Kakung." kata Mbah Uti sambil memperkenalkan suaminya yang duduk di sampingnya.
__ADS_1
"Kok pulang ndadak to Nduk...biasanya kalau pulang kesini kamu mesti 1 minggu sebelumnya sudah heboh..ini nggak ada kabar apa apa, tiba tiba njedus(muncul)"kata Mbah Kakung.
" Sebelumnya,.perkenalan nama saya Revan, Mbah. saya teman kerja Leni di kota. Kami mohon maaf karena kedatangan kami sangat mendadak. Sebetulnya kedatangan saya kemari memang ada perlu. Kedua orang tua saya akan kesini untuk melamar Leni."