
Sampai di rumah, Leni kembali memasang mode cemberutnya. Tampak motor KLX milik Loey yang ia beli beberapa hari yang lalu terparkir gagah di halaman rumah Revan dan Leni menandakan Loey dan Valine sudah menunggu mereka berdua.
"Loey..Val..udah lama sampe?"tanya Revan.
"Masih lima menitan disini...gue tengok kulkas loe jomblang kagak ada isi..laper nih..."keluh Loey.
"Ih....tuh perut apa karung sih Kak...kan baru aja makan di luar tadi..nih Val aja masih kenyang..."timpal Valine.
"Aku cuma pengen ngemil Honey...."jawab Loey.
"Nih baru belanja..."kata Revan sambil menenteng dua kantong plastik besar yang penuh dengan makanan ringan. Leni yang sedang kesal, meraih plastik berisi penuh dengan jajanan tersebut dan memasukkannya ke kulkas tanpa berbicara sepatah kata pun. Revan hanya menggeleng melihat tingkah istrinya yang kembali merajuk.
Loey bertanya pada Revan menggunakan isyarat mata. Namun Revan hanya mengendikkan bahunya.
"Ke ruang kerja kuy..."ajak Revan.
"Bentar..mau ambil amunisi dulu...biar perut gue nggak ngantuk!" kata Loey sambil menghampiri Leni dan Valine yang sedang memasukkan belanja dan menata martabak di piring yang sudah ia beli tadi.
"Sarap loe..dari dulu yang laper tuh mata bukan perut.Ya udah..duluan.."kata Revan meninggalkan ruang tengah menuju ruang kerjanya di lantai atas.
"Lagi marahan sama Revan, Dek?"tanya Loey.
"Nggak Mas...."jawab Leni.
"Kok dari tadi diem terus?Jangan marah marah mulu...kasihan tuh Si Junior.."kata Loey sambil mencomot sepotong martabak manis.
"Si Mommy lagi ngambek Kak...kayanya gara gara mantan Kak Revan tuh...?"kali ini Valine ikut menimpali setelah mendengar keluh kesah Leni secara singkat.
"Hah?yang bener Dek?siapa?"tanya Loey.
"Kak Ross .."jawab Valine mewakili Leni.
__ADS_1
"Kakaknya Upin Ipin?"tanya Loey bermaksud bercanda. Leni semakin memanyunkan bibirnya.
"isshhh...Kak..itu tuh yang ngebet banget jadi pacarnya kak Revan. Sampai ngaku ngaku ke semua orang kalau dia pacaran sama Oppa. Walaupun akhirnya pacaran sih..tapi cuma sehari doang."kata Valine yang ikut jengkel. Sedangkan Leni malah terlihat asyik memakan martabak yang telah ditata oleh Valine.
"Oh...Rosaa..?Ya ampun Dek...cewek modelan ulet bulu gitu kamu cemburu?Revan tuh nggak se gampang itu nggak suka sama cewe model kaya Rossa."kata Loey.
"Habis...aku tuh sebel lihat si Rossa Rossa itu peluk peluk Mas Revan..rasanya tuh pengen nguleg muka dia di cobek terus dijaaadiin rujak..!" kata Leni dengan berapi api dan mulut penuh dengan martabak.
"Val...kamu besok kalau hamil jangan kaya Leni ya...sereeeemmmm..."kata Loey seraya berlari naik ke lantai atas sambil membawa piring yang penuh dengan martabak manis.
"Yyyaaaaaannddddrrraaaaaaaa!!!!" teriak Leni yang semakin kesal.
"Udah Kak....jangan ditanggepin dua makhluk kaya mereka tuh..yang satu anak piyik karatan yang satu lagi macan belang kena santet jadi agak geser..."kata Valine yang seketika membuat Leni tertawa.
"Hahahha...bener kamu Dek...eh tadi kamu bawa apaan kok kayanya enak banget tuh....?tanya Leni seraya membuka bungkusan plastik yang dibawa Valine.
"Ini tadi aku beli sempol ayam di daerah Ahmad Yani itu kak...enak banget...tadi aku pisahin kok bumbu kacangnya, kalau kakak mau..."jawab Valine.
"Oh..yang The Pirates: Goblin Flag itu yah Kak...?"
"Yups...kayanya seru tuh Dek...kita nonton disini apa di kamar aja?"tanya Leni.
"Di kamar aja Kak...."jawab Valine.
Sementara itu, dua pria tampan sedang berkonsentrasi menyiapkan bahan untuk rapat akhir bulan esok hari. Rencananya, Loey dan Valine memang akan menginap di rumah Revan. Karena Valine yang meminta. Tak terasa hampir dua jam mereka berkutat di depan laptop masing masing. Bungkus bungkus snack yang menemani mereka bekerja, pun terserak. Sepiring penuh martabak manis pun telah habis tak tersisa. Revan dan Loey memang punya kebiasaan yang sama. Mereka tak bisa bekerja tanpa ngemil. Namun tak lupa membereskan sisa sisanya ketiks sudah selesai.
"Sip..udah beres semua..tinggal bikin softcopy nya."kata Loey sambil merenggangkan tangannya.
"Jangan lupa kirim file nya ke Kevin. Biar dia yang susun. Jadi gue tinggal terima beres dan tanda tangan aja..."kata Revan sambil memijit pangkal hidung mancungnya.
"Siap Bos....!" jawab Loey. Revan pun membersihkan sampah snack dan membuangnya ke tempat sampah, tak lupa ia juga menyapu kembali ruangan kerja tersebut.
__ADS_1
"Loe tadi ketemu Rossa?"tanya Loey.
"Hmm.....males banget gue sama dia..gara gara tuh Nini Kunti main peluk peluk, Leni ngambek nggak kelar kelar..mana dia pake nyebut mantan terindah lagi...IH GELAI!!"kata Revan sambil bergidik.
"Huahahahahha.....lagian loe juga..ngapain dulu pakai nerima dia segala...kan jadi bikin dia makin ngelunjak."kata Loey.
"Habis....capek gue diikutin kemana mana...jadi gue terima dia aja dengan satu syarat, kalau di sampai berbuat 1 kali kesalahan, hari itu juga putus dan nggak ada pakai acara minta balik lagi. Eh ternyata, nasib baik masih ada sama gue..inget kan mantan dia yang minta pertanggung jawaban gara gara kartu kreditnya overlimit habis dipakai Rossa buat belanja?,"tanya Revan.
"Iya iya..gue inget, Jackson yang sekarang jadi cewek itu kan?"Mereka berdua pun menghabiskan waktu hingga tengah malam. mulai dari membuka forum ghibah antar lelaki sampai mabar game favorit mereka.
Saat hampir pukul satu dini hari, baik Revan maupun Loey kembali ke kamar masing masing. Saat sampai di kamar, Revan melihat Leni dan Valine sudah tertidur dengan laptop yang masih menyala. Ia pun mengangkat Valine dan memindahkannya ke kamar lain.
"Loh...kok loe yang gendong Bro kenapa nggak manggil gue aja sih?"tanya Loey saat ia akan ke dapur mengambil minum.
"Biarin...lagi pula kalian kan belum resmi. Gue khawatir loe ngapa ngapain adek gue jadi biar gue aja yang gendong.."jawab Revan.
"Ck...dasar emak ayam. Posesifnya nggak ketulungan. Ya udah gue bantu bukain pintu."kata Loey sambil membukakan pintu kamar Valine.
Revan pun membaringkan Valine di ranjang berukuran Queen Size di kamar itu. Tak lupa ia menyelimuti tubuh adik kesayangannya itu. Dan mengecup keningnya, seperti yang selalu ia lakukan sejak kecil. loey yang melihat kasih sayang kakak beradik itu hanya tersenyum tipis. Dan meninggalkan mereka berdua.
Revan kembali ke kamarnya untuk beristirahat. Ia membaringkan tubuh lelahnya di samping Leni yang sudah tertidur pulas. Tak lupa ia mengecup lembut perut Leni dan dibalas tendangan kecil Revan Junior.
"Have a nice dream Keiko..."
"Have a nice dream too Daddy Keiko...."Jawab Leni sambil memejamkan mata.
"Hah....Kirain Bunda Keiko udah tidur tadi.."kata Revan seraya menghujani wajah Leni dengan ciuman bertubi tubi.
"Iihhhh....jenggot kamu tuh dicukur...geliiiiii"pekik Leni.
"Iya iya..tapi enak kan?"tanya Revan sambil memasukkan tangannya ke dalam daster Leni dan memainkan benda kenyal favoritnya.
__ADS_1