
Revan dan Eric memperhatikan dua wanita beda generasi itu sedang asyik makan ceker pedas berbalut bumbu warna merah menyala itu dengan sangat lahap. Revan dan Eric hanya bergidik geli melihat makanan yang menurut mereka tak layak konsumsi (padahal kalo kata Author enak pake banget 😋😋).
"Van...kita pulang bukannya disambut malah ditinggal makan sendiri..."gerutu Eric.
"Daddy mau?kalau mau biar Revan kasih tahu Mommy buat nyisain untuk Daddy..."kata Revan terkikik.
"Ogah..mending makan pake sambel bawang terus dikasih pete goreng, dari pada makan kaki ayam..."Kata Eric yang masih memperhatikan Leni dan Yoo Ra asyil mengobrol sambil makan. Sedangkan Revan hanya memutar bola matanya dengan malas.
"Kita samperin mereka yuk Dad...."kata Revan sembari menghampiri Leni dan Yoo Ra diikuti Eric dibelakangnya.
"Sweety...kamu belum tidur ini udah jam berapa, Hm..mau nambah lemak?"tanya Revan dengan nada yang dibuat selembut mungkin tapi menyiratka sebuah peringatan.
"Hehe...."Leni hanya terkekeh menanggapi Revan.
"Aku tadi bukannya sudah bilang...nyampe rumah langsung istirahat..eh malah ghibahin tetangga,bareng Mommy lagi...dosa tau.."kata Revan.
"Eh...Mas siapa yang ghibahin tetangga?orang Leni lagi ngobrol asyik sama Mommy sambil makan Ceker Korea yang bikin nagih..Mas mau?" goda Leni.
"Leni...."panggil Revan dengan tatapan tajamnya.
"I..iya mas..Leni masuk" kata Leni langsung pergi mencuci tangannya dan langsung ke kamarnya. Sedangkan Yoora memandang Revan dengan tatapan tak kalah tajam.
"Mom ku yang cantik....Leni lagi hamil Revan Junior...jadi Revan suruh cepet istirahat..."kata Revan yang sadar Ibunya yang dalam mode sudah hampir mengeluarkan tanduk devilnya.
"Tapi nggak usah gitu juga kali Van..kasihan Leni..orang hamil tuh jangan dimarah marah in..kalau Leni sampai Stress gara gara kamu, Mommy hukum kamu lari keliling di dalam kandang Macan punya Daddy kamu!mau...?" omel Yoo Ra.
"Hah..Mommy mau Revan jadi makan siangnya Rossi sama Pedrosa..? jangan dong Mom...Ntar kalau Mommy nggak punya anak ganteng lagi gimana..."rengek Revan.
"Bikin lagi lah...iya nggak Yang?"jawab Yoo Ra yang membuat Revan hanya bisa tepuk jidat.
"Yang..kok diem?" kata Yoo Ra sembari menoleh ke arah Eric yang ternyata sudah tidur di sofa, atau lebih tepatnya pura pura tidur karena tak mau mendengar omelan istri cantiknya itu.
"Yang...kok diem?udah bobok ya...?Ya udah nggak jadi bikin adek buat Revan kalau gitu..Mommy mau ke kamar aja, kamu tidur aja disini, kamarnya aku kunci dari dalam.." kata Yoo Ra yang mengetahui kalau suaminya itu pura pura tidur.
"Eh...sayang aku ikut..nggak enak kali tidur disini..."kata Eric yang langsung terbangun gara gara mendengar ucapan istrinya.
"Males..." jawab Yoo Ra sembari membiarkan Eric yang kelimpungan.
Revan yang melihat tingkah kedua orang tuanya yang terkadang kekanakan dan tak jelas seperti itu hanya geleng geleng kepala. Namun ada rasa bahagia dan syukur yang begitu besar. Karena ia merasakan keharmonisan sebuah keluarga yang mungkin tak didapat semua orang di luar.
__ADS_1
"Semoga kelak aku juga bisa merasakan seperti Mommy dan Daddy..."batin Revan dalam hati. Ia pun segera masuk ke dalam kamar tamu, yang ada di sebelah kamarnya yang sekarang ini ditempati Leni.
Ia merebahkan tubuhnya di kasur empuk berukuran queen size, memang tak sebesar kasur di kamarnya. Hampir setengah jam berlalu, kini sudah menunjukkan tengah malam. Revan belum juga dapat.memejamkan matanya.
Kruuuukkk.....
Bunyi perut Revan.
"Tengah malem kok laper sih..?" katanya pada diri sendiri.
Tak biasanya Revan merasa lapar ketika tengah malam seperti ini. Bahkan ia tak dapat menahannya. Ia pun keluar kamar. Pada saat bersamaan, Leni juga keluar dari kamar.
"Loh belum tidur Len....?" tanya Revan.
"Nggak bisa tidur Mas...mau ke dapur..Mas Revan sendiri?" tanya Leni.
"Eemmmmm.....sebenarnya..aku laper Len..." kata Revan malu malu, sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Kita bikin makanan Mas..aku juga laper...padahal tadi barusan makan sama Mommy..."kata Leni sambil terkekeh.
"Mungkin karena ada Revan Junior disini..jadi kamu gampang laper.." kata Revan sambil menunjuk perut Leni. Leni pun tersipu.
"Apa aja yang penting bisa buat ganjal perut.." jawab Revan.
"Salad buah aja ya...malem malem nggak baik kalau banyak makanan berat."kata Leni.
"Iya nggak apa apa..sebentar aku ambil laptop dulu Len..mau ngecek email laporan perkembangan proyek Mall di Semarang. Tadi sempat ada kendala di sana." kata Revan.
"Siap..." jawab Leni sambil meracik buah buahan dengan telaten namun cepat.
Tak lama kemudian, Revan pun kembali ke kitchen bar sambil membawa laptop berukuran kecil. Dan ia langsung fokus berkerja. Leni yang memperhatikan Revan yang kadar ketampanannya bertambah saat ia sedang serius, tak sengaaja menggores jari kirinya dengan pisau.
"aauucchhh...."pekik Leni.
"Len...."Revan yang terkejut dengan pekikan Leni langsung menghampirinya.
"Sshhhh......nggak apa apa Mas cuma luka kecil" kata Leni sambil terus memegangi tangannya yang mulai berdarah.
"Sini lihat.." kata Revan sambi menarik tangan Leni ia mengambil tissue dan sedikit menekan luka Leni dan mengangkat tangan Leni sampai di atas dadanya.
__ADS_1
"Biar darahnya nggak keluar lagi. Tunggu sebentar, aku ambil kotak obat dulu."kata Revan.
Tak lama kemudian Revan datang dengan membawa kotak obat. Dan melihat luka Leni. Darah yang keluar sudah berhenti, pelan pelan, Revan mengoles salep ke luka Leni.
"Ssshhhh.....auuu..."desis Leni karena terasa perih.Ia ingin menrik tangannya ketika revan mengoles salep itu. Tpi Revan tetap menahannya. Ia pun menutup luka gores itu dengan plester.
"Lukamu agak dalam Len..kalau besok masih keluar darah juga, kita ke rumah sakit ya..dijahit, biar nggak infeksi."kata Revan.
"Mas Revan...ini cuma luka kecil,udah biasa kalau buat emak emak....jangan berlebihan gitu deh.."protes Leni.
"aku cuma khawatir Len...." lirih Revan sambil menunduk. Leni menangkup pipi Revan.
Cup.
Leni mencium bibir Revan sekilas, seketika Revan melongo dan membuat wajahnya semakin menggemaskan buat Leni.
"Udah jangan bengong..bantuin bikin saladnya dong Mas..tanganku masih perih.."kata Leni sambil mencubit pipi Revan.
"Eh..oh..i..iya...."jawab Revan gugup karena baru sekarang ia dicium oleh seorang wanita yang sukses membuat kerja jantungnya berhenti sejenak dan sedetik kemudian bekerja lebih cepat.
"Ini potong potongnya udah selesai..tinggal parutin keju aja Mas..bisa kan?"kata Leni.Tapi Revan masih bengong.
"Mas..!" kata Leni dengan nada agak tinggi.
"Eh..iya Len..."jawab Revan tersadar dari kebengongannya.
"Mas Revan dicium gitu aja udah kaya kebo dicucuk hidungnya...diajak ngobrol nggak nyambung" kata Leni.
"eh kamu ngatain calon suami tampanmu ini kebo?"kesal Revan sambil terus memarut keju yang disiaokan Leni.
"Habis...LOLA..Loading lambat!"kata Leni.
"Makin berani kamu ya..awas aja kalau kamu bengong.."kata Revan sambil mencolekkan tangannya ke dalam mayonaisse dan mengoleskannya ke pipi Leni.
"Iiiihhh....jorok!"pekik Leni.
Setelah perdebatan unfaedah diantara mereka selesai, akhirnya satu baskom salad buah pun mereka nikmati bersama tengah malam itu. Kali ini mereka lebih serius, karena Leni juga membantu mengkalkulasi keuangan yang di laporkan oleh orang kepercayaan Revan dan menemukan beberapa kejanggalan.
Namun karena kondisi Leni sedang hamil, setelah mereka menghabiska satu baskom salad buah itu, Revan memutuskan untuk mengajak Leni beristirahat di kamar Revan.
__ADS_1