
"Apa benar yang ku tolong dulu Kak Alexa?"tanya Leni yang sudah berada di belakang Revan.
"Sweety...kamu sudah bangun?"Revan segera mendekati Leni dan menuntunnya untuk duduk di sampingnya.
"Mas sudah cari tahu semuanya..Apa benar Kak Alexa itu saudara kandungku?"tanya Leni penuh harap dengan mata berkaca kaca. Revan yang mengerti perasaan istrinya itu langsung merengkuhnya dalam pelukan.
"Kita akan cari tahu sama sama...Orang yang kamu tolong dulu memang dokter Alexa, sepupu angkat Jesslyn..tapi kita belum tahu apa dia benar benar saudaramu atau bukan...kita akan cari tahu dulu...kamu tenang aja ya Yang?"kata Revan seraya mengecup.kening Leni.
"Ck...dari pada lihat kalian mesra mesra an di depanku, mending gue pulang!" kata Justin yang merasa kesal dengan tingkah mantan asistennya itu.
"Sono noh pulang..!" tukas Revan.
Justin pun meninggalkan markas kemudian disusul Vino dan Vano. Kini tinggallah Leni dan Revan di sana. Leni terlihat sedang termenung di balkon belakang. Ia terjingkat saat merasakan lengan kekar memeluknya dari belakang.
"Ada apa Sweety,hmm?"tanya Revan.
"Apa benar kakak kandungku itu Kak Alexa?"tanya Leni dengan mata menerawang.
"Aku juga tak bisa memastikan Sayang..makanya kita cari tahu..sabar ya..."kata Revan seraya membalikkan tubuh Leni dan merengkuhnya dalam pelukannya.
Kkrrruukkk..
Krruukk...
Perut Leni dan Revan berbunyi hampir bersamaan. Mereka pun teringat pagi ini belum makan apapun. Mereka berdua pun terkekeh.
"Mas..kita buat sarapan dulu yuk..mau dibuatin apa?Kita jam sebelas harus sudah dikantor, hari ini ada meeting penting dengan wakil direktur D & G Group. Sepertinya ada kendala lagi dalam pembangunan proyek hotel terkait penyelewengan dana yang dilakukan mantan direktur keuangan kemarin.."kata Leni.
"Iya..setelah sarapan kita langsung siap siap. Pakaianmu biar aku yang siapkan."kata Revan.
Leni pun hanya membuat tuna sandwich dan susu untuk sarapan mereka berdua. Tak sampai setengah jam sarapan pun siap, dan Leni ke kamar untuk bersiap siap.
"Ish...kenapa dasinya aneh begini sih..."gerutu Revan, yang sedari tadi kesulitan memasang dasi.
"Kenapa Mas..."tanya Leni.
"Aku kesulitan Len...susah banget masang dasinya..."kata Revan.
__ADS_1
"Perasaan dulu bisa pasang dasi sendiri..kenapa sekarang jadi manja, hmm?"tanya Leni membenarkan dasi Revan.
"Nggak tahu Sweety...semenjak ada kamu, aku jadi agak amnesia....hehe"kata Revan sambil terkekeh.
"Untung kamu nggak amnesia sama aku..."jawab Leni dengan bibir mengerucut.
"Kamu terlalu manis untuk dilupakan..."kata Revan lalu mengecup kening Leni.
"Ish..gombal banget sih....dah selesai...sekarang gantian aku yang ganti baju..."kata Leni saat ritual pasang dasi selesai.
Leni pun berjalan menuju ruang ganti yang ada di kamar itu. Revan menyiapkan sebuah dress longgar untuk ibu hamil berwarna biru laut dengan aksen garis garis yang cantik yang panjangnya di bawah lutut. Ia sedikit bingung, pasalnya ia belum pernah ke kantor hanya dengan menggunakan dress. Ia selalu memakai blouse dan celana bahan atau rok. Ia pun keluar lagi dari kamar ganti.
"Mas aku pakai ini?"tanya Leni sambil menunjukkan dressnya pada Revan yang sedang memeriksa email di I Pad nya.
"He em...emang kenapa?Nggak suka?"tanya revan.
"Suka...tapi rasanya aneh kalau ke kantor pakai dress kaya gini..."kata Leni.
"Sweety..sekarang kamu adalah Nyonya Muda Aditya Sanjaya...nggak ada yang ngelarang kamu pakai dress ke kantor..lagipula aku cuma pengen kamu ngerasa nyaman..tuh perutnya udah agak buncit.."kata Revan sambil menunjuk perut Leni yang memang sudah sedikit membuncit.
"Makasih Mas...Aku beruntung banget punya suami seperti kamu..."kata leni seraya menghamburkan dirinya ke dada Revan. Ia terisak saat berada di pelukan Revan.
"Sayang..kok malah nangis...kalau kamu nggak mau pake dress nggak apa apa..pakai yang biasanya aja..."kata revan yang bingung.
"Aku nangis karena bahagia Mas...I Love You my Hubby...."kata Leni yang melepaskan pelukannya dengan sang suami.
"I Love yoo more Sweetheart..."balas Revan sambil menangkup kedua pipi Leni kemudian mencium bibir istrinya. Tak hanya mencium, ia juga memberikan lu*ma*tan. Mereka saling bertukar saliva cukup lama. Hingga Leni hampir kehabisan nafas.
"Sudah...bersiaplah..kita sarapan bersama."kata Revan sambil mengacak rambut Leni. Leni pun segera bersiap siap.
Berkali kali Leni mematut dirinya di depan cermin. Ia ingin memastikan penampilannya sempurna untuk menghadiri meeting bersama sang suami dengan kolega bisnisnya. Ia hanya mengurai rambutnya dengan memberikan curly sedikit di ujung rambutnya. Revan tak akan menginzinkannya mengikat rambut hingga memperlihatkan leher jenjang Leni.
"Sudah selesai Bunda Keiko...?"tanya Revan yang memeluk Leni dari belakang.
"He'em...kita sarapan dulu yuk Yang?"ajak Leni. Revan pun mengangguk.
Mereka berdua sarapan bersama tanpa bersuara. Dan segera berangkat ke kantor ketika jam sudah menunjukkan pukul setengah 10 perjalanan dari Markas Rex Guard yang memakan waktu hingga 1 jam membuat mereka sedikit mempercepat laju kendaraannya. Karena mereka tak ingin terlambat bertemu dengan kolega bisnis Revan.
__ADS_1
Setelah sampai di kantor, Leni dan Revan langsung menuju ke ruangan masing masing. Saat ini Leni memegang jabatan direktur keuangan sementara atas persetujuan Eric sebelum mereka menemukan ganti yang cocok untuk posisi tersebut.
Sesampainya di ruangan, Revan sudah disuguhi tumpukan berkas yang menanti untuk ditanda tangani. Ia hanya menghela nafas panjang lalu menghembuskannya lagi. Tak lama kemudian terdengar bunyi notifikasinya di ponsel.
(My Love)
[Pak Bos..berkas berkas di meja, kemarin sudah saya periksa tinggal butuh tanda tangan saja....Love you daddy Keiko...😘]
Revan tersenyum melihat pesan yang dikirim Leni untuknya. Istrunya itu memang selalu memakai bahasa formal ketika dikantor. Ia juga sangat profesional.
[Makasih Sweety...tapi ingat jangan terlalu lelah...sebenarnya ini kerjaan sekretaris bukan direktur keuangan sayang....tapi kamu malah kerja dobel]
(My Love)
[Tenang saja Pak Bos..ini semua nggak gratis...Bayar dobel nanti waktu di rumah].
Revan langsung mengerti arah pembicaraan Leni. Ia pun menghubungi Leni lewat telepon yang ada di ruangan.
"Leni..bisa ke ruangan saya sekarang?"kata Revan.
"Iya tunggu sebentar Pak...,"jawab Leni diseberang.
Tak lama kemudian pintu ruangan Revan terbuka tanpa diketuk sebelumnya.
"Ada apa Bos?"tanya leni sambil tersenyum manis.
"Kasih kamu bayaran lebihnya..."kata Revan.
"Mas...ini jam kantor..lagipula kliennya sebentar lagi datang..."kata leni.
"Sweety..Aku kasih DPnya dulu..nanti setelah makan siang aku lunasin..."pinta Revan.
"Ih...mau kredit ini ceritanya...?"tanya Leni.
Tanpa menjawab pertanyaan Leni, Revan pun meraup bibir Leni sambil tangannya meremas dua bukit kembar miliknya.Terdengar de*saha n dan lenguhan dari keduanya. Hingga mereka kehabisan nafas dan melepaskan pagutan masing masing.
"Ayo kita ke ruang meeting sekarang..."kata Revan sambil merapikan anak rambit Leni yang menutupi wajahnya dan memgecup kening Leni.
__ADS_1