
"Mas...!!"kata Leni dengan membelalakan matanya.
"Iya...kenapa Len...nggak enak sambalnya?terlalu pedas?asin?"tanya Revan.
"Mas....!"panggil Leni lagi.
"Iya...ada apa?jangan buat aku penasaran gitu Len..."jawabRevan yang sudah tak sabar.
"Sambalnya enak banget....ini buat aku semua ya?"jawab Leni sambil mendekatkan cobek ke arahnya.
"Nope....kamu lagi hamil,nggak boleh terlalu banyak makan pedas."jawab Revan sambil menarik kembali cobek sambalnya.
"tapi enak banget Mas...ini bukan aku yang minta,tapi Keiko.."kata Leni dengan tatapan memelas.
"Kalau aku bilang nggak ya nggak."jawab Revan tegas.
"Emang mas mau kalau Keiko ngiler gara gara nggak dituruti..mau?Anak CEO ileran..kan Nggak lucu Mas..." rengek Leni.
"Mau ileran mau nggak aku nggak peduli, yang aku pedulikan hanya kesehatan kamu dan calon bayi kita. Aku nggak mau kalian kenapa kenapa gara gara secobek sambal. Itu lebih nggak lucu lagi My Sweety Leni...."kata Revan sambil menangkup kedua pipi Leni lalu mencubitnya.
"Aku kesel sama mas Revan."ketus Leni sambil berlalu meninggalkan Revan di dapur.
"Terserah..mau marah silahkan!" teriak Revan.
"Huft.....sabar....mungkin bawaan hamil kali ya jadi gampang marah marah gitu.."batin Revan sambil mengelus dada.
Tak lama kemudian, ponselnya berdering.
"Halo,,ada apa?" tanya Revan.
"Pelaku penyebar hoaks sudah kami amankan di markas Tuan"jawab seseorang diseberang.
"Baik aku segera kesana."jawab Revan. Kemudian ia menutup teleponnya itu
Sementara itu, Leni di kamar bergelung di bawah selimut Revan, namun ia tak bisa tidur, bayang bayang kelezatan sambal di cobek melayang layang dibenaknya. Namun perkataan Revan, ia juga tak bisa menyalahkan begitu saja.
"Huft...kenapa jadi serba salah gini sih...?"gumam Leni sambil membolak balikkan badannya.
__ADS_1
"Mas Revan ngeseliiiiiinnn......."teriak Leni kesal.
"Ehm...."Dehem Revan.
"Len..aku mau keluar dulu..ada urusan sebentar,kamu disini dulu ya....Maaf hari ini aku nggak jadi ajak kamu kesuatu tempat yang aku janjikan ke kamu...besok pagi aja ya...kita nanti malam menginap disini."kata Revan dengan nada Lembut.
"Terserah..aku masih kesel..."jawab Leni.
"Iya aku ngerti..maafkan aku ya...nanti kalau pengen ngemil, di kulkas banyak camilan. Terus kalau kamu pengen susu akunya belum pulang, cari aja di dapur, tapi ingat nggak usah panjat panjat. Oke Sweety?"kata Revan.
"Hmmm......."jawab Leni hanya dengan deheman.
"Baiklah Nyonya Revan...silahkan lanjutkan.Tapi ingat pesan saya tadi.Saya pamit ke markas dulu Nyonya...."jawab Revan sembari mengecup singkat kepala Leni lalu meninggalkan kamarnya.
"Hmm.....iya..."jawab Leni sambik melanjutkan aksi guling gulingnya.Namun sedetik kemudian Leni tersadar kemana Revan akan pergi.
"Hah..Mas Revan tadi bukang ke markas? tumben mendadak..pasti ada seauatu. Semoga tak terjadi apa apa dengannya.."kata Leni pada dirinya sendiri. Ia memang sedikit
"Ah..semoga saja tak terjadi apa apa."kata leni.
...----------------...
WARNING!!
ADA ADEGAN KEKERASAN. MOHON ANAK DIBAWAH UMUR ATAUPUN YANG TIDAK KUAT DENGAN ILUSTRASI YANG SAYA CERITAKAN, UNTUK MEN SKIP SAJA.
Di tempat lain, dua orang laki laki dengan wajah babak belur berdiri dengan kedua tangan terikat rantai yang tergantung dadi langit langit. Sekujur tubuhnya penuh dengan luka pukulan benda tumpul. Darah mereka merembes dari hidung dan mulut mereka.
Mereka berdua adalah dua orang wartawan yang menyebarkan berita miring tentang pernikahan Leni dan Revan. Kedua orang itu, sebenarnya hanya suruhan dari seseorang. Namun mereka berdua tak mau menyebutkan siapa yang telah membayarnya untuk membuat berita negatif tentang Revan dan Leni. Sepertinya kedua orang ini sebelumnya telah diminta untuk tidak membocorkan apapun.
Revan yang telah berganti dengan pakaian hitam khas Rex Guard., masker hitam, topi dan sarung tangannya memasuki tempat dua tahanan itu di siksa. Ia berdiri di sebuah ruangan yang bisa melihat dengan jelas kedua orang tersebut. Namun mereka tak mengetahui kedatangan Revan.
"Bagaimana?"tanya Revan kepada salah satu anak buahnya.
"Mereka hanya suruhan dari seseorang Tuan, tapi mereka berdua tetap tidak ada yang mengaku siapa yang menuruh mereka menuliskan berita itu. Tadi salah satu dari mereka ingin mengakhiri hidupnya, beruntung salah satu dari kami memergokinya, dan langsung dapat dicegah. makanya kami mengikatnya dengan acara seperti itu."Jelas anak buah Revan.
"Begitu rupanya...aku akan menemui mereka."kata Revan dengan nada dingin.
__ADS_1
Revan pun masuk ke dalam ruangan penyekapan itu. Dengan sorot mata tajam, ia mendekati dua orang wartawan yang berani mengusik ketenangannya.
"Siapa yang menyuruh kalian?"tanya Revan sambil mendongakkan dagu kedua ornag itu.
"kami tak akan memberi tahu anda tuan Revan..."kata wartawan itu dengan tenang.
"Oh..kalian masih ingin bermain main denganku rupanya."kata Revan sambil mengeluarkan alat kejut listrik dari dalam sakunya
Alat itu jika sekilas mirip bolpoin,namun mengandung aliran listrik yang cukup untuk membuat orang seketika lumpuh dengan sengatannya. Revan mengarahkan alaf itu ke pergelangan tangan salah satu orang tersebut.
"Aaaarrrrrgghh....."teriakan memilukan kembali terjadi di ruangan kedap suara itu. Seketika orang tersebut tak sadarkan diri. Revan pun kembali ke melakukan hal yang sama dengan teman warrtawan itu.
Tak lama kemudian, Thomson, salah satunorang kepercayaan Revan membisikkan sesuatu yang membuat ia seketika membuatnya kembali emosi.
"Rupanya dia belum puas dengan kehilangan puteri satu satunya...."gumam Revan. Kini ketampanan wajah Revan telah berbalut amarah dan emosi.
"Cepat seret laki laki itu kemari! Bagaimanapun caranya.!"kataVrevan pada para anak buahnya.
"Baik Tuan..."jawab salah satu dari mereka.
"Lenyapkan saja wartawanntak berguna itu. Berikan dagingnya untuk makan malam Pedrosa dan Rossi di belakang."perintah Revan.
"Baik Tuan...."
Revan pun meninggalkan markas dan kembali ke apartemennya. Namun sebelum itu ia membersihkan diri dulu di rumah pribadinya. Karena ia tak mungkin menemui Leni dalam keadaan habis menyiksa orang tanpa membersihkan badan dahulu.
Ia menghubungi Leni terlebih dahulu, untuk menanyakan apakah istrinya itu pesan sesuatu atau tidak.Telepon pun tersambung.
"Halo..Mas..."jawab leni di seberang
"Len..kamu lagi pengen makan atau minum apa?mumpung aku lagi di jalan..."kata Revan.
".........."
"ok...tunggu di rumah, akan kucarikan untukmu." jawab Revan. Ia pun dengan semangat menepikan mobil sportnya di salah satu stand yang biasa ia kunjungi saat keluar rumah.
"tiga..seperti biasa ya Mbak.."kata Revan. Seakan tahu yang Revan minta. Dengan cekatan melayani pesana Revan.
__ADS_1