
Revan berganti pakaian di kamar samping tempat ia dan Leni menginap. Ruangan itu adalah ruang pribadi Eric dan Yoo Ra saat menginap di hotel. Lebih besar dan mewah daripada kamar milik Revan dan Leni. Ia berganti baju di bantu oleh Loey, Justin dan ayahnya. Kebetulan Justin baru saja datang bersama sang ayah. Loey pun mengajak Justin untuk membantu sahabat mereka.
"Dad..kenapa ribet sih...tahu begini Revan pakai Jas aja..."keluh Revan yang tak sabar.
"Mau kamu dibikin bakso sama Aunty mu. Beliau cuma ingin melestarikan tradisi keluarga kita. Ini budaya leluhur Van...Nanti kalau kamu sudah tua bisa buat kenang kenangan untuk anak cucumu. Kalau ayah dan kakek mereka pernah ganteng di masanya..." kata Eric sambil memasangkan kain jarit untuk Revan.
"Iya nih Om..cerewet banget si Revan. tinggal diem,terus nurut gitu aja susah banget." timpal Loey.
Sedang Justin, sejak datang tadi terlihat lebih banyak diam. Mungkin karena banyaknya masalah yang menimpaa keluarganya membuat ia lebih pendiam dari biasanya.
"Bro..jangan diem gitu dong...senyum gitu kek..nggak bosen apa dari dulu diem terus."ungkap Loey.
"Ogah senyum senyum nggak ada sebab dikira stress gue.."kata Justin sambil memainkan ponsel.
Sedang Eric yang paham langsung menghampiri Justin.
"Gimana keadaan Jesslyn Nak...maaf Om belum sempat menengoknya."tanya Eric.
"Kalau secara fisik dia sangat sehat Om..tapi secara psikis Justin nggak bisa berkata apa apa.Mungkin apa yang menimpanya selama ini sudah terlalu membuatnya sakit,tapi dia hanya memendamnya sendiri."jawab Justin. Yang membuat Loey terperangah karena hanya ia yang belum tahu masalah Justin.
"Yang penting tetaplah mendampinginya Just..dia membutuhkanmu.Om yakin kamu pasti kuat."kata Eric sambil menepuk bahu Justin.
"Iya..terimakasih banyak Om...."kata Justin sambil tersenyum tipis.
"Loe nggak cerita gue kalo loe ada masalah?Gue temen loe bukan?"tanya Loey sedikit emosi.
"Baru tadi ketemu loe..gimana mo cerita."jawab Justin.
"Iya juga....nomer hape gue juga udah ganti..pinter loe...lagian tuh cunguk juga nggak cerita sama gue.."kata Loey.
__ADS_1
"Kan loe nggak tanya. Jadi gue nggak cerita lah...Loe juga nggak ngabarin gue selama di London. Mana gue tau nomer hape lu"jawab Revan yang tidak terima dirinya tersindir. Ia telah selesai memakai beskap warna hitam beludru itu. Sedangkan bagian bawah ia memakai kain jarit berwarna coklat.
"Iya juga sih...tenang Bro kalau loe ada masalah apapun jangan dipendem sendiri. Kita semua ada buat elu..." kata Loey sambil menepuk pelan bahu Justin. Ia pun kembali tersenyum.
"Ini udah selesai Dad?tinggal pakai blangkon aja kan?"tanya Revan pada sang ayah.
"Bentar Daddy benarkan dulu....Justin..Loey bisa keluar sebentar?ada yang mau Om bicarakan berdua dengan Revan sebentar." kata Eric.
"Oh Iya Om..kita keluar dulu..."kata Loey sembari menarik Justin untuk mengajaknya keluar.
Kini di kamar itu, tinggalah Revan dan sang ayah. Eric terus memandangi putera semata wayangnya itu dengan senyum namun ada air mata yang ia tahan.
"I'm so proud of you, son. Kamu sudah dewasa sekarang...jagalah tulang rusukmu baik baik..jangan sampai patah...jika patah memang bisa disambung tapi tak bisa seperti sedia kala lagi. Kamu mengerti kan Son..maksud Daddy..."kata Eric sambil mengalungkan roncean melati ke leher Revan. Ia juga memasangkan keris yang sudah di hiasi bunga putih tersebut.
"Revan mengerti Dad..terimakasih..sudah menjadi Daddy terbaik untukku...maafkan Revan, selama ini Revan belum bisa membahagiakan Daddy...Revan malah sering membuat Daddy kecewa."kata revan dengan tulus.
"Jangan berkata seperti itu Nak...kalau kamu nggak mengecewakan Daddy mungkin daddy nggak akan dapat menantu sebaik Leni..hehhe.."
Tak lama kemudian, Loey mengetuk pintu agar Revan segera bersiap, karena acara akan segera dimulai. Revan di dampingi ayahnya dan Loey pun keluar kamar didampingi Loey, dan para pria,kecuali Justin. Karena Justin pulang terlebih dulu.Ia harus menjaga tunangannya yang sedang depresi.
Revan berjalan menyusuri lorong hotel. Ia sangat gugup saat ini. Setelah mendengar wejangan dari sang ayah, bertambah guguplah dia. Revan suudah biasa menghadapi banyak orang saat presentasi dengan bermacam sifat orang. Namun hari ini sungguh berbeda.
Saat berada di depqn ball room hotel, Eric masuk terlebih dahulu untuk bergabung dengan istrinya. Kini Revan hanya diapit oleh dua orang kerabat prianya untuk masuk ke dalam tempat acara. Dan Loey ada dibelakangnya sambil membawa "kembar mayang".
Alunan musik jawa mengiringi langkah Revan untuk bertemu dengan mempelainya. Dari dalam Ballroom, terlihat Leni di apit oleh dua orang kerabat wanita,dan diikuti Valine sebagai pembawa kembar mayang. mereka berjalan perlahan untuk saling mendekat.
Leni, sejak ia selesai di rias,perasaan gugupnya seakan ingin menguasai seluruh dirinya. Namun ia berusaha tenang dan yakin bahwa semua akan baik baik saja. Aunty Anne pun tak henti hentinya menenangkan Leni yang terus berkeringat dingin karena gugup. Dan akhirnya karena Leni tak bisa mengendalikan keguguoannya lagi, Aunty Anne memberikan satu buah pil penenang dosis rendah miliknya. Leni pun merasa lebih baik.
"Sayang..Aunty keluar dulu untuk menyiapkan ritual panggih nanti..kamu akan ditemani Valine nanti. Mungkin dia sudah berjalannke sini."kata Aunty Anne.
__ADS_1
"Iya aunty..terimakasih...maaf kami telah banyak merepotkan Auunty"jawab Leni dengen tulus.
.
"Jangan begitu sayang...Aunty ikhlas melakukan ssmua demi kalian..Aunty sangat bahagia Revan mendapatkan istri sepertimu. Baik, sopan apalagi cantik banget..uuhhh...."kata Aunty anne sembari memeluk Leni dengan erat.
"Aunty bisa aja..nanti Leni nangis lagi..kan sayang make upnya..."kata Leni.
"Tenang make up aunty nggak gampang luntur. Lihat aja samaoai malam nanti..hehehe..udah Aunty lanjut dulu. "kemudian wanita berumur 57 an tahun itupun meninggalkan kamar Leni.
Tak lama kemudian,Valine yang sudah memakai kebaya warna pink dengan sanggul sederhananya masuk ke kamar Leni dan Revan.
"Oh..my God...kakakku cantik bangeeeeetttt......Ini benar Kak Leni?"tanya Valine dengan hebohnya.
"Apaan sih Dek...."kata Leni.
"Beneran Kak Leni beda banget...kelihatan cantik banget Kak..."kata Valine yang masih melongo melihat Leni yang sungguh melampaui ekspetasinya.
"itu nggak berat kak tusuk kondenya, banyak amat..."kata Valine penasaran.
"Hehe..lumayan..."kekeh Leni.
"By the way....selamat menempuh hidup baru ya Kak...Valine seneng banget akhirnya kakak Resmi jadi kakak Valine, walaupun awalnya kurang setuju, kirain kakak mirip si Jeni yang kecentilan itu. Ternyata kakak beda banget..."kata Valine seraya memeluk kakak iparnya itu.
Mendengr nama Jeni, hati Leni bergemuruh hebat. Gara gara wanita itu, Leni telah melakukan perbuatan terlarang dengan Revan.
"Kakak..Kak Leni nggak apa apa?maafin Valine kalau ucapanku tadi membuat kakak tersinggung..."kata Valine yang merasa sangat bersalah dengan ucapannya.
"Udah..nggak apa apa kok Dek...Kakak juga seneng banget Valine jadi adekku..Kakak jadi nggak merasa kesepian deh..hehehe...."kata leni.
__ADS_1
"Udah yuk kak kita ke ball room...kalau kakak gugup, pegang tangan Valine..terus tarik nafas lalu keluarkan lewat mulut..okey...."kata Valine.
Mereka pun berjalan bersama menuju ruang tempat acara dilangsungkan.