
Rapat pagi ini berjalan begitu tegang. Lantaran Revan menemukan banyak sekali mark up dalam pembangunan salah satu gedung apartemen milik Rex Corp. Ia melempar berkas dengan sangat kasar.
"Kenapa bisa sampai kecolongan seperti ini, Ha?kalian mau di PHK gara gara perusahaan bangkrut?"teriak Revan penuh emosi.
Leni baru kali ini melihat kemarahan Revan. Ia sampai tak tahu harus bagaimana. Ia ingin meredam emosi Revan tapi waktu dan tempat sama sekali tak mendukung.
"Maaf Tuan Muda...kami baru mengetahui banyak kejanggalan saat ada pekerja yang mengeluhkan tentang kualitas bahan bangunan yang semakin hari semakin buruk."kata salah satu orang kepercayaan Revan.
"Kenapa kalian tak memantau langsung pasokan bahan bangunan?apa gunanya saya membayar mahal pekerjaan Anda?bukankah selama ini Anda sendiri tahu bagaimana kita menjaga kualitas produksi properti kita?"tanya Revan yang masih emosi.
"Maafkan atas keteledoran kami Tuan..."
"Keluarlah...rapat selesai!terimakasih atas laporannya."kata Revan dengan wajah datar namun dipenuhi emosi.
Manajer keuangan dan beberapa orang yang mengikuti rapat pun keluar ruangan. Kini hanya tersisa Revan dan Leni yang masih berada dalam ruang meeting itu. Leni perlahan mendekati Revan yang sedang memijat pelipisnya karena merasa pusing. Ia memberi pelukan dalam posisi berdiri.
Revan yang awalnya dipenuhi emosi, secara perlahan mulai tenang karena pelukan dari Leni. Tak ada percakapan apapun di antara mereka.Karena Leni tahu kalau ia ikut bicara, Revan akan semakin emosi.
Tak lama kemudian pintu ruang meeting terbuka,ternyata Eric datang sambil membawa minuman favorit Revan setelah mengetahui dari orang kepercayaannya bahwa ada masalah di kantor. saat Leni akan melepaskan pelukannya karena terkejut, Eric mencegahnya dengan isyarat tangan. Ia membiarkan puteranya tersebut agar sedikit tenang. Karena ini masih pertama bagi Revan, ia mengerti pasti sungguh berat untuk Revan menghadapi kenyataan bahwa perusahaan mereka mengalami kerugian yang cukup signifikan.
Leni yang merasa tak enak sendiri, berbisik memberitahukan kedatangan sang pemilik utama Rez Corp itu.
" Mas...ada Daddy...."bisik Leni. Revan pun menengadahkan kepalanya dan memandang Eric. Tak ada raut kemarahan atau emosi di wajah pria berumur setengah abad itu.
"Dad...maafkan Revan.."lirih Revan.
"It's okay tak apa..namanya usaha itu nggak selamanya untung,pasti ada ruginya juga Van...tapi juga nggak boleh rugi terus terusan..bisa bangkrut. Daddy pernah lebih parah dari ini, salah satu mall kita yang sudah 80% jadi, harus dirobohkan gara gara bangunan itu beresiko ambruk karena kualitas bahan dan pengerjaannya sangat buruk. Kamu pasti langsung paham dong berapa kerugian yang Daddy alami saat itu. kalau aja di belikan rumah,udah dapet satu kompleks. Bayangkan itu."
"Kita nggak bisa main emosi Son..tapi kita harus main cantik. Biar mereka tak merasa diawasi. Namun kita diam diam mengawasi gerak gerik pemborong yang mengerjakan proyek itu. Suruh orang kepercayaanmu di lapangan untuk melaporkan semuanya dalam waktu seminggu ini. saat inilah waktu yang tepat, mereka akan menyangka kita lengah karena harus mengurus acara pernikahanmu. Padahal kita tetap bekerja mengawasi mereka dengan ketat" kata Eric memberi solusi pada Revan.
"Kamu mengerti kan Son?"tanya Eric sambil menyodorkan Boba kesukaan Revan.
__ADS_1
"Siap Capt!" kata Revan yang kini bisa kembali tersenyum.
"Bagus....hari ini kita lakukan sidak ke lapangan. Kita lihat bagaimana reaksi mereka."kata Eric sambil.
"Bawa orang kantor Dad?" tanya Revan sambil menyedot minuman mood boosternya itu.
"No..kita datang bersama asisten masing masing. Tapi lebih baik Leni stand by di kantor terlalu berbahaya untuk kehamilannya.Kamu bawa Thompson aja."kata Eric.
"Siap Dad..kita berangkat sekarang aja. Karena setelah jam makan siang nanti, aku harus ke rumah sakit untuk Check up kandungan Leni,." kata Revan.
"Ok..kita berangkat sekarang."jawab Eric.
"Len..aku keluar dengan Daddy dulu..kamu yang handle kantor,nanti kalau ada apa apa kamu hubungi aku ya..."kata Revan sembari mengecup kening Leni sekilas.
"Iya Pak...hati hati di jalan."jawab Leni menggunakan bahasa formal.
"Keiko..Daddy berangkat kerja dulu ya...jangan nakal sama Bunda.."kata Revan sambil mengelus perut rata Leni.
"Biarin..biar pengen.."kata Revan sambil melirik Eric sekilas.
"Cih..dasar bucin.."umpat Eric sambil menyebikkan bibirnya.
"Kami berangkat dulu Len..hati hati di kantor."ucap Eric pada Leni.
"Iya hati hati Dadd..Pak Revan..."jawab Leni.
Revan dan Eric beriringan keluar dari kantor. Dan lagi lagi kehadiran laki laki dua generasi yang mempunyai ketampanan di atas level rata rata itu menyita perhatian,terutama kaum hawa disana. Karena jarang sekali mereka melihat kedua pimpinan itu jalan bersama. Namun mereka menanggapi nya dengan cuek hingga sampai di dalam mobil Vellfire yang akan membawa mereka ke lokasi proyek.
"Huft..udah lama Daddy nggak melihat reaksi seperti itu..Daddy merasa kaya jadi Idol Kpop..hahahha...."kata Eric sembari tertawa.
"Biasa aja kali Dad....tiap hari juga mereka kaya gitu..awalnya geli sih, tapi lama lama biasa aja." ungkap Revan.
__ADS_1
"Kalau ada Mommymu,pasti langsung keluar tanduknya. Mommy mu tuh paling cemburuan kalau Daddy ngobrol sama perempuan lain. Beruntunglah kamu Van..Leni anaknya santui aja..."ungkap Eric.
"Daddy aja yang nggak tau gimana Leni di kampung kemarin..aku kemana mana mesti pakai masker sama hoodie biar nggak kena ulet bulu katanya..."kata Revan.
"hahahhah....rupanya kita punya nasib yang sama Van..."kata Eric yang kembali tertawa keras.
Bling. Ponsel Eric berbunyi.
[Dear Yoo Ra]
Awas g**hibahin istri apalagi ghibahnya sama anak sendiri bisa kualat! 👿
Seketika Eric terperanjat melihat pesan dari Yoo Ra. Ia hanya mengelus dadanya.
"Ada apa Dad?"tanya Revan ketika melihat ekspresi terkejut sang ayah. Eric pun menunjukkan pesan Yoo Ra pada Revan. Seketoka Revan pun tertawa keras di mobil.
Ting. Ponsel Revan berbunyi.
[my Sweety]
Inget Keiko sama aku di rumah Mas.., jaga ucapan,jaga mata dan jaga hati..karma bisa dibayar kontan loh... 😇😇
Seketika Revan juga kesulitan menelan ludahnya sendiri setelah melihat pesan dari Leni yang lebih halus tapi juga membuat romanya berdiri.
"Kenapa Son?"tanya Eric.
Revan pun menunjukkan pesan Leni pada ayahnya. Dan Eric pun tertawa keras setelah membacanya.
"Nggak nyangka Leni punya tanduk juga..kirain cuma Mommy mu saja Van"kata Eric.
"Nasib jadi orang ganteng Dad..."
__ADS_1