Jebakan Cinta CEO Baru

Jebakan Cinta CEO Baru
Ketakutan Leni.


__ADS_3

"Mbah Kung..Mbah Uti Leni mau pamit....Leni tunggu kehadiran kalian..."lirih Leni sambil memeluk kedua orang tua itu dengan berlinang air mata. Karena kunjungannya ke rumah kakek dan neneknya kali ini hanyalah seperti kilasan mimpi. Terlalu singkat.


"Revan juga pamit Mbah kung..Mbah Uti...." kata Revan sambil mencium punggung tangan Mbah Purwo dan istrinya secara bergantian.


"Hati hati dijalan..nanti setelah sampai segera hubungi kami..biar nggak kepikiran..." kata Mbah Fatma sambil mengelus pipi Revan dan leni dwngan penuh kasih sayang.


"Iya Mbah..kami permisi dulu..."kata Revan.


"Loey..gue balik dulu..loe dateng kan?" kata Revan sambil memeluk sang sahabat.


"Iya lah..pasti gue dateng..masa gue sampai biarin dua sejoli ini berangkat sendirian..kalau sampai nyasar di jalan.bisa digorok hidup hidup gue sama Mak Lampir..."jawab Loey sambil memeluk neneknya dari belakang dengan manja.


"Bocah nakal...!!"kata Mbah Fatma sambil menjewer kuping Loey, karena gemas dengan tingkah cucu laki lakinya itu.


"Aaauuuuu....sakit Ti....." erang Loey dan disambut tawa dari semua orang. Di balik sikap tegas dan tubuhnya yang kekar, Loey tetaplah seorang cucu laki laki yang masih sangat manja dengan kakek neneknya.


Setelah berpamitan, Revan dan Leni pun masuk ke dalam mobil yang sudah disiapkan oleh Ayah Loey guna mengantar mereka ke lapangan udara tempat mereka sampai kemarin. Kali ini, Revan ingin menerbangkan pesawat itu sendiri tanpa diketahui Leni.


Di sepanjang jalan, Leni tak bersuara, pandangannya menerawang ke arah luar jendela yang menampakkan pemandangan pegunungan yang begitu indah. Mereka terlebih dulu melewati hutan perbukitan dengan jalan berkelok dan jurang dalam disisinya.


"Len..are you okay?" tanya Revan membuka percakapan diantara mereka.


"hmmm..I'm okay..but I'm still missing them..."jawab Leni.


"tiga hari lagi kita ketemu Mbah Uti sama Mbah kakung kok...sabar ya..."kata Revan menenangkan.


"He'em...." jawab Leni singkat.


Mereka terdiam kembali dan larut dalam pikiran masing masing. Setelah 1,5 jam perjalanan, akhirnya mereka sampai di lapangan udara yang dituju. Revan membangunkan Leni yang tengah tertidur pulas.


"Len....bangun yuk...udah waktunya terbang." kata Revan sambil menggoyang goyangkan tubuh Leni.

__ADS_1


"Udah sampai mas?" tanya Leni.


"Iya..udah di Lanud..ayo kita ke heli sekarang."ajak Revan.


"Mas mau terbang sendiri?nggak pakai pilot?"tanya Leni.Ketika mereka menaiki Helikopter tanpa ada seorang pilot disana. Revan segera memakai Headphone di kepalanya dan juga memasangkannya untuk Leni.


"Nggak...lumayan kan daripada duitnya buat sewa pilot mending disimpen buat beli Boba...dapet banyak tau!" jawab Revan sambil menekan tombol tombol di pesawat dan mulai menghidupkannya.


"Ihh....dasar CEO aneh..boba mulu yang dipikirin..."kata Leni mencebik.


"Enak tau..." jawab Revan.


"Bosen...dikit dikit Boba..dikit dikit Boba...."Kata leni.


"Ya kalo bosen jangan didengerin,jangan diliatin, jangan dipikirin juga..." kata Revan enteng.


Skak mat.


Revan mulai menaikkan pesawat yang dikemudikannya. Leni yang pertama kali duduk di bangku co-pilot tersentak saat pesawat mulai naik. Getaran yang ia rasakan saat pesawat mulai mengudara membuatnya tutup mata karena ketakuta.


"Len...jangan takut..ini seru banget loh...." kata Revan setengah berteriak.


"Aku takut Mas..mau turun aja...."kata Leni sambil menutup mata dengan telapak tangannya.


"What?"


"Ya turun aja..nggak papa turun sekarang kita udah hampir di ketinggian 1000 kaki..yakin mau turun?" ledek Revan.


"Aku beneran takut Mas...kalau pesawatnya oleng terus tiba tiba jatuh gimana...Ya Tuhan..lindungi Leni....Leni belum nikah...belum punya generasi penerus..." kata Leni yang masih menutup matanya.


Revan hanya tertawa terbahak melihat kekonyolan Leni.

__ADS_1


"Ya..nggak lah,Sweety....coba deh buka mata kamu,..dibawah pemandangannya bagus banget...kamu bakal nyesel kalau nggak buka.." kata Revan.


Leni pun memberanikan dirinya untuk membuka telapak tangannya dan mulai melihat pemandangan di bawah.Seketika Leni sangat takjub melihat hamparan hijau bercampur coklat dari ketinggian entah berapa ribu kaki itu.


"Mas....bagus banget...."pekik Leni.


"Nah...masih ngeyel mau turun lagi?"tanya Revan.


"Hehehe......masih sayang nyawa..ntar aja kalau udah nyampe...."kata Leni sambil terkekeh.


"Ck....plin plan...."Ledek Revan. Leni pun hanya memanyunkan bibirnya. Hal itu membuat Revan gemas seketika.


Setelah sekitar memakan 2 jam penerbangan, akhirnya pesawat berkapasitas 4 orang tersebut mendarat dengan mulus di helipad pada atap sebuah gedung pencakar langit. Yang tak lain dan tak bukan adalah gedung Rex - Corp yang saat ini dipimpin oleh Revan.


Setelah mematikan mesin pesawat,Revan dan Leni turun dari pesawat, mereka disambut oleh beberapa orang berseragam setelan hitam.


"Bereskan semunya.."perintah Revan dengan wajah datar dan di ikuti Leni di belakangnya seperti saat mereka sedang bekerja.


"Baik Tuan Muda..." jawab salah seorang dari mereka.


Revan yang menyadari Leni masih dibelakangnya berbalik dan menggandeng wanita yang berstatus calon istrinya itu.


"Sweety...jangan dibelakangku...saat ini kamu bukan asistenku...kita sedang libur..jadi jangan jalan di belakangku." kata Revan menarik tangan Leni untuk berjalan disampingnya.


"Mas...kok manggil Sweety..kaya merk popok bayi aja...kasian tuh authornya nggak ada yang endorse.." kata Leni sambil merengut.


(Ya..elah Len...bisa aja dirimu....🤣🤣)


"Nggak ada hubungannya sama popok bayi Len...biar kita terbiasa aja..entah sejak kapan aku merasa kamu tuh cewek termanis yang datang di hidup aku...."


Deg.

__ADS_1


Leni langkah Leni terhenti. Seketika wajahnya memucat dan berkeringat dingin.


__ADS_2