
"Loey nyuruh aku nyusulin Mas Revan tadi....."kata Leni yang ikut duduk di atas rumput lapangan.
"Hm....."jawab Revan dengan singkat sambil mengompres sudut bibirnya.
"Kalian tuh kaya anak kecil tau nggak..pakai acara berantem berantem segala....kaya di novel novel sama drakor drakor aja..napa nggak sekalian tuh di live streaming aja....terus dikasih judul "Oh sehun KW Super VS Park Chanyeol made in Indonesia lagi gelut di tengah lapangan kampung". Kan seru tuh ya.."omel Leni sambil sibuk menyiapkan salep luka untuk mengobati sudut bibir Revan.
"Mas Revan hadap sini...biar Leni yang obatin.." kata Leni sambil meraih dagu Revan Hingga menghadap ke wajahnya dan mulai mengoleskan salep di wajah Revan yang terluka.
Entah ke berapa kali, Revan seperti terhipnotis seketika setiap memandangi wajah Leni. Seolah ia lupa dengan rasa ngilu dan perih akibat pukulan pukulan yang dilayangkan Loey beberapa saat lalu. Tanpa ragu, Revan langsung meraih tengkuk Leni dan..
Cup.
Satu kecupan berhasil mendarat sempurna dibibir Leni.
Mata Leni membuka sempurna karena keterkejutannya. Namun kecupan Revan itu berubah menjadi lu**tan lembut dibibirnya. Leni yang baru pertama kali merasakan ciuman di bibir dalam kondisi sadar merasa kikuk. Jantungnya berdebar sangat lebih cepat saat ini. Dan jangan ditanya lagi bagaimana raut muka Leni. Untung mereka berada di tengah lapangan yang gelap jadi tak terlihat bagaimana muka Leni yang sudah mirip kepiting rebus. Revan segera mengakiri ciuman itu dan langsung bangkit berdiri.
"Ayo pulang..." kata Revan mengulurkan tangannya pada Leni untuk membantunya berdiri.
"I..iya Mas..." jawab Leni.
Tanpa mereka sadari, Loey yang melihat keromantisan Revan dan Leni menyunggingkan senyum kecil dari kegelapan. Dan ia juga bergegas pulang lewat jalan pintas, agar lebih cepat sampai di rumah kakek dan neneknya dan tidak ketahuan mereka berdua.
Tak ada percakapan apapun di antara mereka selama perjalanan pulang. Baik Revan maupun Leni masih sama sama canggung dengan kejadian di lapangan tadi. Tak sampai sepuluh menit kemudian, mereka pun sampai.
"Mas..habis ini langsung ganti baju aja..tadi sebelum nyusul udah Leni siapin di kamar. Terus iya...langsung istirahat ya..." kata Leni sebelum masuk ke kamar tamu yang ada di rumah itu, malam ini ia tidak tidur di kamar kakek neneknya. Karena memang sudah terlalu malam untuk sekedar membangunkan mereka.
__ADS_1
Revan masuk ke kamar Leni, di sana Loey terlihat sudah tidur, mungkin lebih tepatnya ia pura pura tidur. Karena ia juga baru sampai rumah saat Revan dan Leni sampai. Revan merebahkan tubuhnya membelakangi Loey. Tak lama kemudian, mereka berdua pun tertidur karena sudah sama sama lelah oleh aktifitas hari ini.
Keesokan harinya, Leni bangun lebih pagi. Ia membantu Mbah Fatma membersihkan rumah,walaupun sebenarnya rumah kakek nenek Leni tergolong bersih dan rapi. Ia sedikit merapikan ruang tamu dan ruang tengah,karena nanti siang, Tuan Eric dan Nyonya Lee Yoo Ra datang ke rumah untuk mengadakan acara lamaran Leni dan Revan.
Para kerabat dan tetangga dekat Leni sudah berkumpul di rumah Mbah Purwo untuk mempersiapkan jamuan untuk lamaran Leni nanti siang. Di desa tempat tinggal mereka, tradisi gotong royong antar tetangga memang masih sangat kental. Dengan sukarela mereka akan saling membantu jika ada tetangga maupun keluarga yang mengadakan acara seperti kenduri, hajatan maupun jika ada sanak saudara mereka yang meninggal.
Suasana di dapur nenek yang biasanya sepi, pagi ini mendadak sangat ramai, Leni yang akan ikut membantu dilarang oleh semua ibu ibu yang ada di situ.
"Leniiii....ojo melu melu nyang pawon..manten e ora oleh melu ngrewangi....(Leni..jangan ikut ikutan ke dapur, prngantin dilarang ikut membantu...)nanti kotor.." sahut mereka.
" Terus Leni ngapain Budhe kalau nggak boleh ikut bantu bantu..." kata Leni.
"Wes..lebih baik kamu siap siap saja sana...tadi Budhe bawakan baju batik sarimbit buat kamu sama Nak Revan.Kemarin Budhe yang buatkan khusus buat kalian..."kata Bu Yuni, kakak kandung Ibu Leni yang juga ibunya Loey.
"Bagus banget Budhe.....kok bisa pas ya Budhe..."kata leni saat mencoba kebaya berwarna Krem dengan bawahan batik dengan motif sama dengan milik Revan.
"Itu Bude pakai ukuranmu yang lama cuma budhe tambahin sedikit, eh ternyata pas...kalau punya Revan, kan dia gedenya hampir sama kaya Loey. Jadi budhe pakai ukurannya Loey cuma dikurangin dikit.Gimana Kamu suka ?" kata Bu Yuni.
"Suka banget budhe....terimakasih banyak ya budhe..."kata Leni sambil memeluk Budhe kesayangannya itu.
"Sama sama Nduk...kamu sudah seperti anak budhe sendiri...."kata Bu Yuni membalas pelukan Leni.
"Budhe pasti bikinnya terburu buru..iya kan..Leni jadi ngerasa udah repotin budhe...." kata Leni dengan nada bersalah.
"Sayang...kamu masih ingat nggak? Dulu waktu masih kecil, kalau kamu ke Surabaya pasti merengek dibuatkan baju saat itu juga, jadi buat budhe, itu seperti mengenang lucunya kamu waktu kecil..budhe sama sekali nggak merasa repot...malah budhe merasa sangat bahagia bisa buatkan baju kamu lagi....lagian semua bahannya kan sudah ada di toko budhe." kata Yuni sambil mengusap rambut keponakannya itu dengan lembut.
__ADS_1
"Sekali lagi makasih ya budhe buat hadiahnya..Leni jadi berasa punya ibu lagi...." kata Leni yang merasa terharu.
"Iya sayang sama sama....sekarang kamu harus pergi mandi dan bersiap siap..tadi sudah sarapan to?"tanya Bu Yuni.
"Sudah Budhe...oh ya Yandra sama Mas Revan mana? Kok nggak kelihatan dari tadi pagi?" tanya Leni yang memang tidak melihat kakak sepupu dab calon suaminya sejak ia bangun pagi tadi.
"Kata Uti mereka berdua masih ada urusan...kalau begitu bude ke dapur dulu kamu mandilah, nanti budhe yang dandanin kamu." kata Bu Yuni.
"Iya Budhe.." jawab Leni sambil mengalungkan handuk bersiap untuk mandi.
Sementar di lain tempat, dua laki laki tampan yang saat masih subuh tadi berangkat ke kota,sedang memperdebatkan sesuatu. Saat ini mereka sedang berada di sebuah toko perhiasan terkenal di salah satu Mall di kota Malang. Kebetulan toko itu baru saja buka ketika Revan dan Loey sampai.
"Loe kata udah punya cincin berlian buat ngelamar Leni, tapi napa masih bingung cari perhiasan lagi sih...?"Kata Loey yang kesal karena pagi pagi buta dibangunkan Revan. Semalam setelah kejadian di lapangan kampung dua laki laki tampan itu memang langsung berbaikan saat akan tidur.
"Iya cincinnya udah Bro..tapi kan yang laen belum...gue nggak cuma pengen kasih cincin aja, tapi juga yang laen...Nah gue kan dadakan waktu pas ke sininya, jadi nggak sempet cari lagi..." jawab Revan.
"Kebiasaan..apa apa sukanya dadakan..."kata Loey.
"Kan yang fresh lebih seger..." jawab Revan santai.
"Garing Loe...."
Setelah melilah milih selama 2 jam akhirnya, 1 set perhiasan pun didapat oleh Revan. Ia membeli 1 set kalung dan gelang emas putih dengan liontin mutiara yang simple namun elegan jika dipakai Leni.
Saat menjelang siang, Revan dan Loey memutuskan langsung pulang setelah berhenti sejenak mengisi perut mereka yang kosong di sebuah restoran cepat saji.
__ADS_1