Jebakan Cinta CEO Baru

Jebakan Cinta CEO Baru
Ada apa dengan Revan?


__ADS_3

Pimpinan dari D&G Group telah sampai di ruang meeting setelah kurang lebih 15 menit Leni dan Revan menunggu. Mereka saling berjabat tangan sebelum memulai jalannya meeting.


"Maafkan kami Pak Revan,telah membuat anda menunggu. "kata Danish selaku pimpinan dari perusahaan tersebut menyalami Revan tapi matanya terus memandangi Leni. Hal itu membuat Revan merasa geram.


"Ehm.....apa bisa kita mulai rapatnya?"kata Revan berdeham menahan kekesalannya.


"Tentu saja Tuan Revan..."jawab Danish.


Sepanjang meeting yang dipresentasikan Leni, tatapan Danish yang terus mengarah pada Leni membuat Leni merasa tak nyaman. Revan pun merasa sangat kesal dengan tatapan Danish pada istrinya.


"Leni..cukup!"kata Revan karena sudah tak bisa menahan rasa kesal bercampur marahnya. Leni merasa heran dengan sikap Revan yang seperti.sedang menahan amarah. Namun ia tak bisa membantahnya.


"Baik Pak...sekian presentasi dari saya"kaya Leni seraya membungkukkan badannya.


Revanpun menganggukkan kepalanya dan memberi isyarat pada Leni untuk duduk disampingnya.


"Maaf..Len..kamu bisa kembali ke ruanganku dulu.."kata Revan sambil mengelus rambut Leni. Leni mengernyitkan dahinya karena heran sikap Revan yang tiba tiba berubah.


"Baik Pak..saya permisi.."kata Leni. Sebenarnya juga merasa kurang nyaman dengan tatapan Tuan Danish yang seakan menelanjanginya. Leni sedikit lega saat Revan menyuruhnya kembali ke ruangan.


Sepeninggal Leni, Revan pun melanjutkan meetingnya.


"Maaf..istri saya tadi sedang hamil muda, dan terlihat kelelahan jadi biar saya yang melanjutkan rapat kali ini."kata Revan dengan ramah namun sorot matanya mengintimidasi Danish.


"Jadi sekretaris Anda tadi istri Anda sendiri Pak Revan?"tanya Danish.


"Ya.. begitulah, wanita tadi ISTRI saya..."kata Justin dengan menekankan kata ISTRI di ucapannya.


Danish terlihat sedikit kecewa saat Revan mengatakan bahwa Leni adalah istrinya. Namun sebisa mungkin ia menutupinya.Rapat pun kembali berjalan walaupun Revan sedikit kerepotan tanpa hadirnya Leni.


Satu jam kemudian, Setelah rapat berakhir, Revan lembali ke ruangannya dengan langkah gontai, kepalanya terasa berdenyut. Saat ini Ia benar benar kewalahan menjalani rapat sendirian. Padahal dulu ketika ia masih menjadi asisten Justin, ia biasa menghandle rapat dengan dewan direksi rumah sakit maupun klien dari luar.

__ADS_1


"Sayang....."panggil Leni ketika ia melihat Revan masuk ke ruangannya dengan muka kusut.


"Capek Yank...."rengek Revan.


"Udah beres rapatnya?"tanya Leni.


"He'em...."kata Revan sambil memijit pangkal hidungnya. Namun tiba tiba ada cairan hangat yang menetes dari dalam.


"Mas...kamu mimisan...??"tanya Leni panik ketika melihat darah menetes dari hidung Revan. Leni langsung mencabut tisue yang ada di meja depannya dan langsung menyeka darah yang keluar dari hidung Revan. Ia sedikit menundukkan badan dan memencet pangkal hidung suaminya. Agar mimisannya segera berhenti.


"Kepalaku pusing banget Len..nyut nyutan dari tadi..."keluh Revan.


"Udah jangan banyak ngomong..aku panggil dokter Justin dulu ya..kamu rebahan dulu di kamar"kata Leni.


"Pulang aja Len..."kata Revan sambil terus memejamkan mata.


"Ya udah kita pulang ya..."jawab Leni.


"Jangan minta maaf seperti itu Mas...mungkin aja kamu emang harus istirahat dulu..kita ke rumah sakit ya..?"ajak Leni. Namun dijawab gelengan oleh Revan.


"Kita pulang aja...kamu minta sopir kantor buat ngantar..."kata Revan.


"Dimas lagi nggak masuk Mas..istrinya melahirkan..biar aku sendiri aja yang nyetir.."kata Leni.


"Ya udah..pelan aja...aku nggak mau terjadi apa apa sama kamu dan Keiko.."kata Revan.


"Ish...lagi sakit masih aja khawatir terus..."kata Leni. Revan hanya terkekeh kecil.


Revan dan Leni pun meninggalkan perusahaan. Sepanjang perjalanan, Revan hanya memejamkan matanya sambil bergumam tak jelas, wajahnya memucat bahkan lebih pucat daripada saat di kantor tadi. Leni yang merasa khawatir langsung membelokkan mobilnya ke rumah sakit. Karena merasa kesadaran Revan sedikit berkurang selama perjalanan.


"Halo..dokter Justin.."Leni menelepon Justin.

__ADS_1


"Iya Len..ada apa?"tanya Justin.


"Saya membawa Revan ke rumah sakit dok..dia mengalami mimisan dan mengeluh sakit kepala, dok.."Kata Leni dengan suara mulai bergetar menahan tangis.


"Ok..kami segera bersiap siap, kamu tenang ya...jangan panik..utamakan keselamatan. Revan pasti baik baik saja."kata Justin meyakinkan Leni agar tidak panik.


Leni pun menutup teleponnya dan melajukan mobilnya lebih cepat.


"Len...eugh....Mommy..."Revan terus meracau.


"Mas....sabar ya...aku disini.."kata Leni yang mulai panik.


"Ya Tuhan....lindungilah suamiku..."lirih Leni.


Tak lama kemudian mobil Leni sudah sampai di depan pintu masuk rumah sakit tempatnya bekerja dulu, tempat pertama kali ia dan Revan bertemu. Justin bersama beberapa perawat sudah menyambutnya di depan pintu masuk IGD.


Justin langsung membuka pintu depan samping kemudi.


"Revan..do you hear me?Can you open your eyes?"tanya Justin sambil menepuk pipi Revan pelan untuk memastikan kesadaranmnya. Namun Revan hanya meracau tidak jelas.


"Perawat..angkat dia..."perintah Revan.


Beberapa perawat laki laki pun langsung mengagkat Revan yang dalam kondisi setengah sadar itu ke atas brankar dan membawanya masuk ke Instalasi Gawat Darurat.


**


*Kira kira babang Revan kenapa yaaaa.....??🤔🤔😰😰


Please tinggalkan jejak untuk penulis Retceh ini...


Happy Reading*...

__ADS_1


__ADS_2