
Entah kenapa Leni tiba tiba merasa perutnya seperti diaduk, kepalanya begitu berat dan keringat dinginpun mulai bercucuran.
"Len...what happened?Are you okay?"kata Revan saat merasakan tangan Leni terasa dingin dan wajahnya pucat pasi.
"Mas...aku...."belum sempat Leni melanjutkan jawabannya, ia sudah terkulai Lemas di pelukan Revan. Revan langsung membopongnya dan membawa turun dari atap gedung tersebut.
Revan tidak membawanya ke rumah sakit. ia memilih membawa Leni masuk ke ruangannya.Kebetulan hari ini adalah hari Minggu jadi kantor terlihat sepi hanya beberapa bagian keamanan yang berjaga berdasarkan shift kerja.
Revan membaringkan Leni di tempat tidur yang tersedia di kamar pribadi Revan. Ia mengambil minyak angin yang berada di kotak obat dan mulai mendekatkannya ke hidung Leni untuk merangsang kesadarannya. Tak lupa ia melonggarkan celana jeans yang dipakai Leni dengan cara melepas sabuk dan kancingnya. Revan juga melepas sepatu yang dikenakan Leni.
Berteman dan bekerja menjadi asisten Justin,membuat Revan tahu dengan prosedur medis sederhana yang bisa diterapkan saat keadaan darurat seperti saat ini. Ia segera menghubungi Justin, tapi tetap berusaha untuk tidak panik.
"Bro..loe sibuk nggak?"kata Revan.
"Lagi temenin Jess makan siang, ada apa?"tanya Justin di seberang.
"Leni pingsan, gue masih di kantor loe kesini sekarang deh..."Kata Revan.
"Udah coba kasih pertolongan pertama belum?" tanya Justin di seberang.
"Udah nih gue kasih minyak angin tapi belum sadar juga. Ini gue barusan aja turun dari helipad tiba tiba aja dia pingsan." jelas Revaan.
"Tolong loe periksa tekanan darahnya,stetoskop sama tensimeter yang gue kasih masih ada kan?"tanya Justin.
"Masih.." jawab Revan.
"Periksa trus laporin gue, Gue otw kesana sekarang." Kata Justin yang kemudian menutup teleponnya.
"Len...Leni...." panggil Revan sambil menepuk nepuk pipi Leni yang masih pucat.
Revan pun segera melakukan instruksi yang diberikan Justin padanya. Ia mulai membuka lengan baju Leni dan memasukkan Cuff pada lengan Leni dan menempelkan stetoskop di venanya. dan Revanpun mulai menekan Bulb nya.
"85/60 "Gumam Revan.
__ADS_1
Tak lama setelah itu, Justin sudah masuk ke ruangan Revan tanpa mengetuk pintu. Hal itu sudah biasa dilakukan.
"Gimana?belum sadar juga?" Tanya justin sambil mengambil senter kecil dan membuka kelopak mata Leni.
"Belum.." jawab Revan.
"Tekanan Darah?"tanya Justin,ia masih sibuk memeriksa calon istri sahabatnya itu.
"85/60.."jawab Revan.
Justin memeriksa denyut nadi Leni.Ia terdiam sejenak.
"Udah PMS belum Bro?"tanya Justin.
"Katanya harusnya minggu ini,tapi nggak tahu juga..Emang kenapa?"tanya Revan untuk memastikan sesuatu.
"Denyut nadinya agak cepat. Tapi gue belum bisa mastiin..Loe harus segera bawa dia ke Obgyn kayanya,biar jelas semuanya..." kata Justin.
"Leni hamil?" tanya Revan mendadak wajahnya sumringah.
"Lebih baik dibawa kerumah sakit aja...biar jelas diagnosisnya." lanjutnya.
Tak lama kemudian,mata Leni tampak mengerjab ngerjab dan owrlahan ia membuka matanya.
"Leni..apa kamu dengar saya?kalau kamu dengar bisa kedipkan mata kamu?"kata Justin.
Leni pun mengedipkan mata perlahan. Revan langsung berinisiatif untuk mengambilkan air minum untuk Leni.
"Apa ada yang sakit?Apa yang kamu rasakan?"tanya Justin.
"Air... "jawab Leni.Ia merasakan lemas di seluruh tubuhnya tenggorokannyapun juga terasa kering. Revan langsung membantu Leni untuk duduk dan menyangganya dengan cara duduk di belakang Leni.
"Minum dulu Len..." Kata Revan sambil menyodorkan air putih.
__ADS_1
"Kamu ngrasain apa sekarang?"tanya Revan dengan lembut.
"Lemes Mas..." jawab Leni.
"Bulan ini kamu udah haid belum Len?"tanya Justin.
"Harusnya minggu kemaren dok...tapi sampai sekarang belum haid juga..." jawab Leni yang masih lemah.
"Besok pagi saya rekomendasikan ke dokter Lisa ya..kamu periksa ke sana...karena ini diluar kewenangan saya." kata Justin.
"Ini saya resepkan penambah darah dan Vitamin nanti biar ditebus sama es batu yang mulai bucin ini...."kata justin sambil melirik Revan yang menghunuskan tatapan tajam ke arah Justin.
"Memang saya kenapa Dok..saya sakit apa?"tanya Leni dengan nada Panik.
"Len..kamu tenang dulu ya...kamu nggak sakit apa apa kok..kita cuma memastikan sesuatu..kamu akan baik baik aja.." kata Justin menenangkan.
"Mas...."panggil Leni.
"Iya Len...."jawab Revan.
"Sebenarnya aku kenapa?kamu kok malah senyum senyum gitu?"tanya Leni.
"Nggak apa apa Len...semoga mimpiku waktu itu jadi kenyataan..kamu masih inget kan sama yang aku ceritain kemaren?"tanya Revan.
"Maksud Mas Revan aku hamil?"tanya Leni.
"Ya cuma kemungkinan sih....tapi yangboentin mulai detik ini kamu jangan kelelahan, harus makan teratur dan banyak istirahat."kata revan sambil mengusap kepala Leni.
"Aahh..gue balik..mo nemenin bini dulu..bye semua...jangan lupa tebus tuh obat...karena gue baik, loe nggak udah transfer biaya konsulnya.."kata Justin saat meninggalkan ruangan CEO itu.
"Siapa juga yang mo transfer sayang tau...konsultasi nggak jelas juga...udab cepetan balik sana..bye..." kata Revan langsung menutup pintu ruangannya.
"Mas Revan nggak sopan banget..." kata leni.
__ADS_1
"Biarin..yang penting hari ini aku bahagia banget..semoga benar benar positif." kata Revan yang tak visa menyembunyikan rasa bahagia lagi walaupun hasilnya belum benar benar positif.
"i..iya mas..."jawab leni singkat.