
Sepanjang perjalanan pulang, Leni terus terdiam. Begitu pun Revan namun dari ekspresi wajahnya sangat ketara jika ia terlihat bahagia. Berbeda dengan Leni yang terlihat murung setelah Justin memberi tahukan kemungkinan bahwa ia hamil.
Sesekali Revan melirik Leni yang membuang muka ke arah jendela mobil disela sela konsentrasinya menyetir.
"Kenapa?"tanya Revan.
"Nggak apa apa..." jawab Leni singkat.
"Kita bicarain nanti di rumah ya Len....sekarang pengen kemana?"tanya Revan.
"Mampir apotik dulu mas...." kata leni.
"Eh..iya...." jawab Revan yang sejujurnya hampir lupa dengan obat yang diresepkan Justin.
Sesampainya di apotik, Leni yang bersiap turun di cegah oleh Revan.
" Biar aku saja...apa mau nitip sesuatu?"tanya Revan.
"Test pack Mas...aku pengen mastiin apa kata dokter Justin tadi.." kata Leni.
"Iya...nanti! aku beliin, kamu tunggu sini." kata Revan. Ia pun bergegas turun dari mobil.
Revan turun dari mobilnya dan masuk ke dalam apotik. di kantor tadi, ia telah mengganti celana panjang dan kemeja lengan pendeknya dengan celana selutut warna hitam dan jumper abu abu tak lupa kaca mata hitamnya. sungguh menambah level ketampanan Revan yang memang sudah di atas rata rata. Ketampanan Revan inilah yang membuatnya menjadi pusat perhatian ketika berada dibtempat umum.
Karena sore itu apotik masih antri, ia memilih duduk di kursi yang disediakan apotik sambil memainkan ponselnya. Ia sedari dulu memang malas jika harus berada dalam keramaian.
"Permisi....Boleh duduk sini?" kata seorang wanita muda yang berpenampilan modis.
"Silahkan..." jawab revan sambil menggeser tempat duduknya.
"Sendirian aja Mas....?" tanya wanita itu.
"Sama saya Mbak...." jawab Leni yang tiba tiba sudah ada di samping Revan.
"Loh...Len...kok ikut masuk...?"tanya Revan.
"nggak boleh ikut?"tanya Leni ketus.
"Aku kira kepala kamu masih pusing..jadi mending istirahat dimobil..." kata Revan.
"Adeknya ya Mas...."tanya wanita tadi.
__ADS_1
"Iya..saya adeknya.." jawab Leni sengit.
"Len....." panggil Revan.
"Apa?" jawab Leni.
"Kamu tunggu mobil sana gih....muka kamu pucet gitu loh..."kata Revan.
"Emang kenapa kalau aku nungguin Mas Revan?keberatan?"tanya Leni yang dalam mode kesal.
"Terserah...ntar kalau pingsan jalan sendiri."kata Revan.
Revan pun segera bangkit dan memesan apa yang dibutuhkannya. Karena sudahbtak seramai tadi. Wanita itu pun ikut bangkit ketika Revan bangkit. Entah sengaja atau tidak, wanita tadi juga mengambil temoat disamping Revan. Leni sedari tadi sudah kembang kempis menahan kesalnya. Entah kenapa ia merasa sangatbkeaal jika Revan yang notabene mempunyai ketampanan di atas level rata rata itu berbincang dengan wanita lain.
Revan menyodorkan resep yang diberikan Justin padanya,pelayan apotik itu pun langsung mengambilkan pesanan Revan.
"Ada lagi Pak...?" tanya apoteker itu.
"Testpack semua merk yang ada di sini masing masing satu.." kata Revan.
"ini semuanya ada 15 jenis pak..." kata pelayan itu.
"Saya ambil semuanya..." jawab Revan.
"Buat kakaknya Mas?" tanya wanita itu.
"Buat istri saya..."jawab Revan.
"Oh..." wanita tadi kelihatan begitu kecewa.
Setelah menyelesaikan pembayaran, Revan segera meninggalkan apotik tersebut, karena sejujurnya sejak tadi ia merasa risih dengan kehadiran wanita berpakaian irit bahannyang bersikap sok kenal sok dekat tadi.
Ia masuk ke dalam mobilnya, dan terlihat Leni sedang memejamkan mata, tapi tidak tidur.
"Len...mau langsung pulang apa kemana dulu...?" tanya Revan.
"Pulang aja..capek." jawab Leni sedikit ketus.
"Marah?" tanya Revan. Leni menggeleng.
"Jangan jangan kamu cemburu ya...?"tanya Revan. Ia mulai melajukan kendaraannya.
"Anda kepedean sekali Bapak..."kata Leni memincingkan mata.
__ADS_1
"Kalau cemburu jangan ditahan tahan..bisa jadi jerawat bahkan bisul..kan sayang skincare nya udah beli mahal mahal tapi tetep jerawatan cuma gara gara baper nahan cemburu..."kata Revan.
"Emang udah resiko kalau punya calon suami tampan, berkompeten, cerdas, punya aura kepemimpinan, CEO lagi..siapa yang mau nolak, ..." kata Revan penuh percaya diri.
"Oh..God...perasaan di novel atau drakor drakoryang namanya CEO tuh, dingin, nggak banyak ngomong, pokoknya gitu lah...Lah yang ini udah narsis, cerewet, hidup lagi...untung ganteng..mirip Oh Sehun..walaupun Oh Sehunya abal abal." kata Leni.
"Oh Sehun lagi..emang gimana sih muka Oh sehun..paling juga masih gantengan aku.." kata Revan.
"Makanya Bapak searching di google sana..ntar bandingin sendiri gantengan Bapak atau gantengan Oh Sehun." jawab Leni.
"Masih kesel?" tanya Revan.
"Dikit....." jawab Leni jujur.
"Mau es Krim?" tanya Revan.
"Mau...tapi mau makan nasi dulu..laper..." kata Leni.
"Ok..kita cari makan dulu." kata Revan.
Ia pun menghentikan mobilnya di sebuah restoran Jepang.
"Makan disini?" tanya Leni.
"Kamu nggak suka?mau pindah?" tanya Revan.
"Nggak usah mas..nggak papa..." jawab Leni.
Mereka pun turun dari mobil dan masuk ke dalam Restoran tersebut. Entah mengapa Leni merasa tak nyaman berada di restoran yang cukup ramai tersebut. Ia merasa sangat gerah. Terlihat dari wajah Leni yang terus berkeringat. Padahal AC di sana berauhu lumayan rendah.
"Len kenapa?"tanya Revan.
"Nggak apa apa Mas..cuma gerah aja..."jawab leni.
"Hah..kok bisa?padahal ACnya dingin loh Len.." kata Revan.
"Leni permisi ke toilet dulu Mas.."kata Leni.
"Aku anterin. Aku nggak nerima penolakan."jawab Revan tegas karena sejujurnya ia khawatir dengan Leni yang terlihat tidak nyaman.
Revan mengantar Leni ke toilet dan menunggunya dengan sabar di depan toilet. Tak lama kemudian, Leni keluar toilet dengan muka bersemu merah dengan keringat yang telah membasahi tubuhnya.
"Mas kita pulang aja..aku nggak kuat...." kata Leni
__ADS_1