
Sore itu setelah fitting baju, Revan mengantar Leni ke mansion utama. Ia sekalian meminta izin untuk mengunjungi kakek dan nenek Leni di desa. Sepanjang perjalanan dari Aunty Anne sampai ke rumah tak ada percakapan di antara mereka karena Leni yang sudah sangat lelah memilih untuk tidur.
"Len...bangun yuk...sudah sampai..." kata Revan sambil menggoyang tubuh Leni. Tapi leni tetap tak bergeming.
"Kalau udah tidur kamu emang kaya kebo ya Len....ckck..."kata revan sambil mengacak rambut Leni. Revan memutuskan untuk menggendong Leni, karena susah untuk dibangunkan.
Dengan pelan Revan mengangkat tubuh Leni dan membawa ke kamarnya di lantai atas, selama ini Leni tidur di kamar Revan. Bukan karena ingin tapi Mom YooRa sendiri yang menyuruhnya, karena memang tak pernah di tempati oleh sang pemilik.
"Kenapa ngga kamu bangunkan saja Nak...?" tanya Yoo Ra ketika melihat Revan menggendong Leni.
"Leni kalau sudah tidur susah dibangunin Mom...kaya Kebo.."jawab Revan asal.
"Ish....kamu ngomong kaya kamu sendiri nggak kaya kebo kalau sudah tidur..." jawab Yoo Ra.
"Sudahlah Sayang biarkan saja, mungkin Leni sudah kelelahan..jadi ia sampai tertidur..."kata Eric yang sudah selesai membersihkan badan.
"Tapi anak itu belum makan malam..."tukas Yoo Ra.
"Nanti biar ia makan malam kalau sudah bangun. Tugas sekretaris pribadi jauh lebih melelahkan dari karyawan biasa. Ia bekerja sebelum bosnya dan karyawan yang lain bekerja dan baru bisa beristirahat setelah semua pekerjaannya selesai. Leni juga harus stand by kapanpun dan dimanapun Revan membutuhkannya. Wajar kalau dia saat ini sangat kelelahan.." jelas Eric.
" Kasihan menantu kita sayang...apa ia akan tetap bekerja kalau mereka sudah menikah nanti?Ah...sepertinya aku tak akan tega membiarkan menantuku bekerja..." tanya Yoo Ra.
"Kita serahkan saja semua pada keputusan mereka sayang...kita hanya mendukung dan membimbing anak anak kita saja...Sayang berangkat yuuk...." Ajak Erik memberi kode pada Yoo Ra yang langsung bisa dipahami oleh istrinya.
"Sayang..masih sore...."kata Yoo Ra tapi ia juga tak menolak ajakan suaminya. Mereka pun masuk kamar.
Revan meletakkan tubuh Leni di ranjang king size miliknya dengan perlahan, dan menyelimutinya hingga sebatas dada. Leni hanya menggeliat dan ia kembali tidur lagi. Revan memutuskan untuk langsung mandi di kamar itu dan mengganti pakaian formalnya dengan kaos oblong abu abu dan celana olahraga panjang warna hitam.
Ia memutuskan keluar kamar karena hari itu masih sore. Rumah besar itu terlihat sangat sepi. Hanya terlihat beberapa karyawan rumah yang baru datang karena pergantian shift kerja.
Revan memutuskan untuk menelepon Justin dan memberi kabar tentang pernikahannya.
"Halo...ada apa Van? Tumben telepon." kata Justin di seberang.
" Aku ingin bertemu denganmu dan Jess. Apa bisa?ada hal yang harus kami sampaikan." kata Revan.
"Baiklah aku akan kesana 30 menit lagi.
Revan pun memberitahu lokasi mereka bertemu setelah Justin setuju untuk bertemu.
__ADS_1
Leni mengerjap ngerjapkan matanya saat ia terbangun.
"Perasaan tadi di mobil..kenapa jadi ada di kamar..ah..aku ketiduran pasti Mas Revan yang sudah menggendongku kemari.." gumam Leni.
Ia pun langsung membersihkan badannya yang sudah lengket dan berganti pakaian santai. Ia memakai piyama berwarna abu abu berbahan satin halus. Dan menyepol rambutnya dengan asal.
Leni melihat Jas Revan yang tergantung di dekat ruang wadrobe dan kemeja serta celana yang ia pakai tadi siang. Leni langsung tahu kalau Revan masih berada di rumah orang tuanya. Leni pun keluar dari kamar dan melihat Revan sedang merenung di balkon atas ditemani dengan secangkir kopi hangat. Leni pun menghampirinya.
" Mas Revan belum pulang?" tanya Leni.
"Eh....sudah bangun...aku ingin menginap disini..sudah lama aku tak menginap di rumah ini. Sekalian aku minta izin pada Mom dan dad untuk mengunjungi kakek dan nenekmu.."jawab Revan.
"Iya Mas...Aku siapkan makan malam dulu..." kata Leni.
"Tidak usah ini kita makan malam di luar bersama Justin dan Jesslyn. Bukankah Jesslyn sahabat dekatmu?"tanya Revan.
" Iya..apa kita akan menyampaikan kepada mereka rencana pernikahan kita?" kata Jess.
"Hm...mereka juga harus tahu, akan lebih baik kalau kita jujur, karena tidak akan menimbulkan beban di lain hari...Sebaiknya bersiap siaplah..." kata Revan.
"Baik..aku akan bersiap siap dulu." kata Leni sembari meninggalkan Revan.
"Mas..aku ke toilet dulu sebentar..." kata Leni.
"Iya...jangan lama lama ya....." kata Revan sambil tersenyum.
Tak lama kemudian Justin dan Jess pun sampai.
"Maaf membuatmu menunggu."kata Justin.
" Aku sudah biasa menunggumu Tuan Muda..hehehe..."kata Revan terkekeh.
" Apa kakak datang sendiri?dimana Leni ?"tanya Jess.
"Aku bersama Leni dia sedang ke toilet sebentar." jawab Revan.
"Ada apa Van kenapa kamu meminta kami bertemu..?" tanya Justin.
__ADS_1
"Sebentar kita tunggu Leni dulu."Jawab Revan.
Tak sampai 5 menit kemudian, Leni datang, tapi dengan wajah yang sedikit gugup.
"Len..duduklah.."kata Revan.
"Iya Mas.."jawab Leni.
"justin sebenarnya aku meminta bertemu karena, ada hal yang harus kami sampaikan." kata Revan.
"Hal apa? Jangan buat kami bingung.."ucap Justin.
"ee..ee...aku ingin mengundang kalian di acara akad nikah kami minggu depan.." kata Revan.
"Hah?!menikah? apa tidak salah? bukankah kalian baru saling kenal?"tanya Justin.
" Sebentar...Len...jangan bilang kalau kalian..." kata Jess.
"Jess, sebenarnya di hari pertunangan kalian, Leni tidak sengaja meminum minuman yang sudah dicampur sesuatu yang sebenarnya ditujukan kepadaku, tapi malah dia yang meminumnya."jelas Revan.
"Maksudmu, minuman yang sudah dicampur obat perangsang?" tanya Justin.
"Betul..dan kebetulan saat itu Leni pulang bersamaku. Aku seketika tahu siapa yang telah menaruh obat di minumanku dan langsung kuberi pelaran orang yang melakukan itu. Tapi karena Leni yang meminumnya kan kami melakukannya, aku harus bertanggung jawab sebelum atau walaupun Leni tidak hamil. Karena aku yang telah merenggut kesuciannya. Maafkan aku Justin..maafkan aku Jess."kata Revan penuh penyesalan.
Leni sedari tadi hanya diam dan menangis, ia sangat frustasi. Jess yang berada di depannya langsung memeluk Leni. Iapun langsung menangis keras. Jess membiarkan Leni menangis dalam pelukannya, berharap ia dapat melampiaskan kesedihannya.
"Sudah..semuanya sudah terjadi Len..Kak Revan juga mau bertanggungjawab. Pelakunya juga sudah diberi pelajaran oleh Kak Revan. Semuanya akan baik baik saja." Kata Jess menenangkan sahabatnya itu.
" Aku sudah mengecewakan mama Jess..pasti mama sangat kecewa di surga sana.."kata Leni.
"hhsssttt...semuanya sudah terjadi Len..kamu harus bisa menghadapinya.." kata Jess.
" Aku memang marah kepada kalian, terutama padamu Van, selama ini kamu sudah kuanggap adikku sendiri, dan kali ini kau mengecewakanku.Tapi yang kau lakukan sekarang sudah benar, aku berharap pernikahan ini tidak main main Van. Kau harus belajar mencintai Leni, begitupun Leni kau harus belajar mencintai Revan."Kata Justin dengan tatapn dingin.
"Apa Om Eric sudah tahu masalah ini?"tanya Jess.
"Sudah, aku langsung memberitahukannya keesokan paginya. Dan papa setuju,walaupun awalnya sangat marah.Tapi aku lega bisa mempertanggung jawabkan semuanya." kata Revan.
"Aku harap kalian tidak melakukan pernikahan kontrak seperti di drama drama atau di novel novel yang pernah ku baca.Tak baik untuk kesehatan hati." kata Jess dengan tatapan tajam.
__ADS_1
"Iya..baiklah kakak ipar..kami ingat pesanmu."kata Revan.
Mereka pun berbincang hingga hampir tengah malam, hingga akhirnya mereka pulang ke rumah masing masing.