
Keesokan harinya, di sore hari di rumah Mbah Purwo begitu ramai oleh tetangga tetangga yang datang ke rumahnya. Mereka datang untuk memenuhi undangan syukuran dadakan yang di adakan Mbah Purwo sebagai penyambutan Alexa, cucu yang telah lama di carinya.
Bukan jamuan yang mewah ala konglomerat. Hanya sajian sederhana ala pedesaan yang orang orang di kampung itu menyebutnya 'brokohan' atau kenduri sebagai wujud syukur mereka. Nasi yang di sajikan dalam wadah berukuran besar dan berbagai macam lauk pauk seperti Sayur urap, tumisan kacang panjang dengan tahu-tempe dan dilengkapi sayur 'kluwih' ( bentuknya hampir mirip nangka muda tapi berbentuk bulat dengen tekstur sedikit lebih alot), balado tahu dan tempe serta daging ayam. Biasanya setelah diadakan doa bersama, nasi dan lauk tersebut dibagikan dan dibungkus menggunakan daun jati.
Karena acara syukuran begitu mendadak Bu Fatma pun tak segan menyuruh ke empat anak muda yang baru datang tersebut untuk membantunya di dapur bersama ibu ibu para tetangga. Tak jarang mereka terutama dua laki laki tampan itu dijadikan bahan candaan oleh para ibu ibu. Apalagi Vino yang memang mempunyai sifat supel dan ramah. ia selalu bisa menciptakan tawa di tengah para ibu ibu. Sedangkan Revan yang pendiam jika berada di lingkungan baru, hanya menanggapi candaan para ibu ibu dengan senyum.
"Nggak nyangka ya mbakyu..ternyata njenengan masih punya cucu lagi..tak kira putune njenengan cuma Yandra sama Leni?"tanya salah satu ibu ibu.
"Iyo Dek...selama ini Bapaknya anak anak diam diam selalu mencari cucuku..tapi nggak pernah ketemu. Berkat suaminya Leni,kami masih dipertemukan sama Lexa...Entah kalau nggak ada Revan, mungkin selamanya kami ndak tahu kalau Alexa cucuku yang dulu pernah hilang..."jawab Bu Fatma.
"Katanya Mbak Lexa itu dokter ya mbakyu?"tanya Ibu yang lain.
"Iyo...tapi masih dalam masa pendidikan S3 nya..mungkin cita citaku dulu secara nggak langsung diwujudkan sama Alexa..kamu ingat toh mbakyu cita citaku sejak kecil..hehehe?"kata Bu Fatma sambil terkekeh seraya mengelus surai Alexa yang sedang asyik mengupas mentimun. Namun ia masih menanggapi para ibu2 dengan tersenyum.
"Iyo Mbakyu aku isih eling..nek njenengan pingin dadi dokter...sampek mben dolanan njaluk dolanan dokter dokteran..tapi kan yo wes lumayan masio ndak dadi dokter, njenegan isih biso dadi bidan. Isih iso ngobati uwong."jawab salah satu teman main Bu Fatma di masa kecil.
(iya kak aku masih ingat, kalau kamu ingin jadi dokter, sampai sampai setiap kali bermain bersama, selalu minta main dokter dokteran. Tapi walaupun nggak jadi dokter kan jadi bidan. masih bisa mengobati orang lain.).
__ADS_1
Jawaban dari salah seorang tetangga membuat Alexa sedikit tercengang. Pasalnya, ia baru tahu kalau sang nenek adalah seorang pensiunan bidan desa. Sedang Leni hanya tersenyum sesekali mendengar celotehan para ibu ibu.
"Jadi Mbah uti dulu Bidan?terus Mbah Kakung tentara?"tanya Alexa.
"Iyo, Nduk...Dulu bidan desa itu sudah dianggap seperti dokter kalau sama orang kampung. Jadi ndak cuma nolong orang lahiran. Tapi juga ngobati orang...karena jaman dulu susah kalau cari dokter. Ndak seperti jaman sekarang."ungka Bu Fatma.
"Wah jadi kaya film korea yang ceritanya tentang dokter sama tentara itu ya Dek?"kekeh Alexa sambil menoleh ke arah Leni.
"Hahaha..Kak Lexa bisa aja...eh tapi iya juga sih...tapi kalau Kakung sama Mbah uti yang versi kearifan lokal"kata Leni sambil tergelak. Bu Fatma pun hanya menggeleng melihat tingkah kedua cucunya yang kadang masih seperti anak kecil sejak kemarin.
"Nduk..lebih baik kalian istirahat saja dulu...Apalagi Leni juga lagi hamil,jangan terlalu capek..Lexa temani adikmu istirahat, dari tadi dia duduk di bawah terus..Ndak baik buat ibu hamil.."kata Bu Fatma.
"Nggeh Ti..Ayo kak...kakiku juga udah kesemutan..."ajak Leni sambil berdiri perlahan dibantu oleh Alexa.
"Pelan pelan bumil..nggak usah buru buru.."peringat Alexa.
Petang itu kenduri terasa sangat khidmat dan penuh haru. Apalagi saat Mbah Purwo secara resmi memperkenalkan Alexa sebagai cucu kandungnya. Namun tak disangka sangka, sore itu menjadi momen yang tak akan pernah di lupakan baik Alexa maupun Vino. Karena Vino secara resmi melamar Alexa di depan keluaarga dan tetangga Mbah Purwo. Namun sebelum itu, ia menghubungi keluarganya dengan menggunakan video call agaar dapat menyaksikan langsung momen Vino melamar Alexa. Karena siang tadi Vino suda menyampaikan maksudnya pada seluruh anggota keluarganya tak terkecuali Jesslyn maupun Justin. Hingga mereka sangat terkejut dengan keputusan Vino yang terbilang dadakan itu.
__ADS_1
"Mbah Kakung Purwo dan Mbah Uti Fatma yang saya hormati, serta seluruh tamu undangan yang berbahagia,...."
"Kaya mau pidato kemerdekaan aja lu bang ."bisik Revan sambil terkikik di samping Vino. Namun Vino tak menanggapi godaan yang dilontarkan Revan. Ia meneruskan ucapannya.
"Mohon maaf jika mengganggu waktunya sebentar. Pertama tama, perkenalkan nama saya Alvino Wijaya. Saya hanyalah seorang pemuda biasa saja yang awalnya mengagumi seorang dokter cantik yang tentu saja banyak digilai oleh banyak sekali laki laki. Saya sempat merasa pesimis untuk mengenal seorang Dr. Alexandra Gunawan."
"Namun semakin saya menyangkal perasaan saya, rasa kagum itu berubah menjadi rasa ingin memiliki. Sampai akhirnya kami pun semakin dekat. Walaupun rasa pesimis itu sampai sekarang masih saja menghantui pikiran saya. Karena itu sore ini berbekal rasa pesimis saya yang berubah menjadi sebuah keyakinan, di momen ini saya ingin menyampaikan satu hal di depan Keluarga Bapak Purwoharjo dan Ibu Fatmasari. Saya ingin meminang cucu Bapak yang bernama Alexandra Gunawan untuk menjadi pendamping saya."ucap Vino dengan ketegasan namun tak menghilangkan rasa grogi yang sedari tadi menguasainya.
"Saya sudah menerima maksud dan tujuan yang di sampaikan Nak Alvino pada kami sekeluarga. Namun kembali lagi, untuk keputusan menerima atau tidaknya, kami serahkan sepenuhnya pada Cucu saya Alexandra."jawab Mbah Purwo penuh dengan kewibawaannya.
"Alexa...sini Nduk...."perintah Mbah Purwo. Alexa pun keluar dari runag tengah di dampingi sang Nenek dengan kepala tertunduk.
"Duduk..."perintah Mbah Purwo penub ketegasan namun masih dengan nada lembut.
"Nduk..mungkin kamu sudah dengar sendiri, bahwa Nak Vino melamarmu untuk menjadi istrinya. Semua keputusna ada di kami Nduk..kami hanya perantara untuk menyampaikan saja. Jika kamu bahagia kami pun akan turut bahagia, apapun keputusan kamu.
Sebelumnya Alexa tak pernah segugup ini. Bahkan ini lebih menegangkan daripada sidang thesis maupun berhadapan dengan dosen terkiller sekalipun.
__ADS_1
"Nduk...."panggil Mbah Purwo sekali lagi sambil mengusap bahu Alexa dengan lembut.
"Maaf...."