Jebakan Cinta CEO Baru

Jebakan Cinta CEO Baru
Hasil testpack


__ADS_3

"Mas...huh..huh..."pekik Leni kehabisan nafas.


"Hm...." jawab Revan setelah melepaskan pagutannya.


"Aku mau ke kamar mandi dulu,tadi jadi beli testpack kan?" tanya Leni mengalihkan fokus Revan. Karena ia merasa canggung setelah ciuman itu.


"Iya sebentar aku ambilkan dulu." kata Revan.


Revan menyodorkan test pack ke arah Leni, ia pun menerimanya dan Revan pun mengikutinya ke kamar mandi.


"Mas mau ngapain?"tanya Leni.


"Mau ikut lah..."jawab Revan.


Leni hanya menggelengkan kepala dan langsung menutup pintu kamar mandi dengan keras. Revan yang berada di depannya hampir saja terantuk pintu itu.


"Leeeeniiiii.....!" pekik Revan kesal.


Sementara itu, di dalam kamar mandi, Leni menampung urine nya dalam sebuah wadah. Gugup, tegang itulah yang dirasakan Leni. Ia memasukkan salah satu test pack ke dalam wadah itu.


Sedetik, dua detik, tiga detik kemudian munculah satu garis merah. Leni terus menunggu hingga satu menit kemudian muncullah satu garis lagi yang masih samar. Ada dua garis merah yang nampak di testpack itu.


Air mata Leni luruh tak terbendung.


Sementara itu, seorang laki laki tampan yang tak lain adalah Revan sedang mondar mandir diluar kamar mandi. Ia tak kalah gugup dan tegang menunggu hasil dari test pack tersebut. Karena hampir lima menit Leni tak juga membuka pintu kamar mandi, ia pun mengetuknya.


"Leni..sudah belum?"tanya Revan dengan suara agak keras.


Namun tak ada sahutan dari balik kamar mandi.


Revan yang mulai khawatir mencoba untuk membuka pintu kamar mandi itu. Ternyata Leni tidak menguncinya, entah ia lupa atau sengaja.


"Kenapa nggak dari tadi aja sih masuknya...."batin Revan yang merasa sedikit kesal.

__ADS_1


Revan mendapati Leni terduduk di kamar mandi dengan lutut ditekuk dan wajah ditenggelamkan pada kedua lututnya.Sedang tangannya masih memegang test pack. Revan pun segera mendekati Leni.


"Len...kamu nggak apa apa?gimana hasilnya?"tanya Revan dengan jantung yang berdetak kencang.


Tanpa mengucap sepatah katapun, Leni menyodorkan sebuah benda pada Revan dan ia pun menerima test pack dari Leni. Ia memperhatikan dengan seksama. Revan melihat dua garis ada di test pack itu.


"Len...apa ini artinya kamu benar benar...."Kata Revan.


"Hamil anak aku?" lanjutnya dengan hati hati.


Leni hanya mengangguk sambil berlinangan air mata. Entah sebenarnya apa yang dirasakan Leni. Revan hanya berharap Leni bisa menerima kehamilannya. Jujur Revan memang sangat bahagia, walaupun semua itu di awali dengan sebuah kesalahan yang sangat besar. Revan tahu tak mudah bagi Leni untuk menerima dirinya yang baru dikenal dan menerima kehamilan sebelum gadis itu menikah.


Revan meraih tubuh Leni ke dalam pelukannya. Setidaknya untuk menenangkan segala kegundahan yang dirasakan gadis itu. Revan juga sebenarnya mulai menyadari entah sejak kapan ia begitu nyaman saat berada di dekat Leni. Rasa ingin melindungi dan membahagiakan gadis itu semakin besar saat Leni rapuh seperti saat ini.


Tangis Leni semakin keras saat Revan memeluknya. Seakan ia mendapatkan tempat untuk mencurahkan semua emosinya. Satu tangan Revan mengusap punggung Leni sedangkan tangan lainnya mengusap kepala Leni yang bersandar di dada bidangnya. Revan membiarkan Leni hingga ia benar benar tenang. Cukup lama mereka dalam posisi seperti itu.


"Sudah tenang,hm..." tanya Revan,ketika tangis Leni sudah mereda. Leni pun mengangguk dalam pelukan Revan.


"Sekarang aku ingin tanya sama kamu Len...." kata Revan perlahan melepas pelukan dan menangkup pipi Leni yang masih kemerahan setelah menangis.


"Nggak Mas..aku bahagia..cuman aku belum siap...aku takut nggak bisa jagain anak ini...aku harus kerja buat lunasin hutang hutang ayah dan nyelametin rumah peninggalan ibu yang dipakai buat jaminan, sedangkan aku hamil..."kata Leni yang kembali tergugu.


"Len...kita akan jaga anak ini sama sama...soal hutang hutang ayahmu dan rumah peninggalan ibumu, sudah aku urus semua Len...kamu lupa aku siapa...."kata Revan kembali menarik Leni ke dalam pelukannya.


"Aku sudah menyelesaikan semuanya saat kamu hampir diperkosa preman di rumahmu dulu..tugas kamu saat ini hanya jagain Revan Junior sama lanjutin kuliah kamu yang tertunda,untuk urusan kerjaan, aku memang masih butuh bantuan kamu,tapi dikit dan harus dikerjain dari rumah kalau aku merasa kesulitan.nggak apa apa kan?"lanjut Revan.


"Maksud Mas Revan...rumahku...."kata Leni yang tak sempat meneruska kata katanya.


"Rumahmu sudah aman hutang ayahmu juga sudah lunas...sebenarnya aku pengen kasih tahunya pas kita udah nikah..tapi kayaknya kamu udah mikir kemana mana...nggak baik buat kehamilan kamu Len..."jelas Revan.


"Makasih banyak Mas...aku nggak bisa balas kebaikan kamu yang banyak banget..." lirih Leni.


"Sama sama sweety..tanggung jawabmu adalah tanggung jawabku juga...masalahmu adalah masalahku juga..yang penting kamu harus bahagia demi Revan Junior..Janji?" kata Revan sambil mengulurkan jari kelingkingnya.

__ADS_1


"Janji..."kata Leni sambil menautkan jari kelingkingnya.


"Kaya bocil!" umpat Revan.


"Mas tuh yang kaya bocil..." balas Leni.


"Ya nggak lah..lagian kamu pake nangis segala...kan akunya bingung nggak ada permen..." kata Revan.


"Udah ah..aku mo mandi dulu..lengket.Keluar sana..jangan ngambil kesempaatan dalam kesempitan." kata Leni dengan nada kesal.


"Siapa juga yang ngambil kesempatan Geer amat..."kata Revan.


"Ya Anda lah....udah..udah..Leni mau mandi dulu..jangan ganggu..." kata Leni sambil mendorong Revan.


"Iya..iya...galak amat bumil satu ini..aku mau ke supermarket beli susu hamil buat kamu. Mau nitip nggak..." kata Revan.


"Ikuut....tungguin sebentar.." teriak Leni dari dalam kamar mandi.


"Katanya lemes..."


"Udah nggak...Leni juga mau beli sesuatu...tapi ikut...." teriak Leni.


" Iya..cepetan mandinya." kata Revan.


Sepuluh menit kemudian, Leni keluar dari kamar mandi hanya menggunakan bathrobe, karena ia lupa membawa baju gantinya.


"Baju gantinya udah aku siapin di ruang ganti Len...." kata Revan sambil memainkan ponselnya. Sebenarnya saat Leni keluar dari kamar mandi tadi, Revan merasakan sesuatunya ingin berontak,tapi sebisa mungkin ia netralkan.


"Iya mas..tumben baik.." kata leni.


"Aku kan dari dulu emang udah baik..kamunya aja yang baru nyadar...udah sana cepetan..keburu malam Len..." kata Revan tak sabar.


Leni pun langsung menuju ruang ganti di kamar itu.

__ADS_1


"Maaaassss.....kok pake daster sih....!!!


__ADS_2