Jebakan Cinta CEO Baru

Jebakan Cinta CEO Baru
Mimpi dan sebuah kenyataan


__ADS_3

[BOSS SEHUN KAWE](nama kontak Revan di ponsel Leni)


Namanya bikin author insecure.


Sayang..maaf malam ini aku nggak pulang. Kami harus segera menemukan Felix..karena dia cukup berbahaya buat kita. Aku juga harus memastikan keamanan saat pernikahan Jess dan Justin nanti].


Leni hanya menghela nafas saat Revan mengirim i pesan tersebut. Sejujurnya ia sangat khawatir jika Revan berurusan dengan 'dunia belakang'nya yang begitu kejam.Walaupun bukan klan Mafia namun sama saja organisasi pimpinan Revan itu tak kalah kejam bila menghadapi musuh musuhnya.


[Iya Mas..hati hati ya...kalau ada apa apa cepat kasih kabar...]


Leni membalas pesan Revan.,


Tak ada balasan lagi dari Revan. Leni hanya menghela nafas dan berdoa dalam hati semoga tak terjadi apa apa dengan sang suami. Ia pun merebahkan tubuhnya di ranjang king size yang biasa ia tidur i bersama sang suami. Entah mengapa tiba tiba ia teringat dengan sang ayah.


"Yah..sekarang ayah dimana?Leni kangen kebersamaan kita saat Leni kecil dulu..."batin Leni teringat saat kebersamaannya dengab sang ayah sebelum ayahnya terkena PHK dan merubah segalanya. Tak lama kemudian, Leni terlelap.


Pagi pagi buta, Revan sudah sampai drumahnya. Dengan lingkaran hitam dimatanya, cukup menandakan bahwa ia tidak tidur semalaman. Ia langsung naik menuju ke kamarnya. Dilihatnya, ranjang sudah kosong. Menandakan Leni sudah bangun. Ia langsung membersihkan badannya dan keluar lagi mencari Leni di dapur.


"Leni kemana Bi?"tanya Revan pada Bi Siti. Karena lagi lagi ia tak menemukan istrinya di sana.


"Mbak Leni sudah di ruang kerja sejak sebelum subuh,Den..ini tadi Mbak Leni minta dibuatkan susu coklat hangat sama roti bakar." Jawab Bi Siti.


"Aku juga mau roti bakar Bi...sama kopi hitam yang agak kental. Nanti biar aku bawa sekalian ke ruang kerja."pinta Revan.


"Den Revan semalam nggak tidur ya..kok mukanya lecek gitu?"tanya Bi Siti.


"Iya Bi..bantu Justin cari om nya yang kabur dari penjara.Soalnya dia lumayan berbahaya Bi..."jawab Revan.


"Oh..yang Tuan Felix itu toh...Bibi paham, tapi Kamu juga harus hati hati loh Den...Bibi masih suka khawatir kalau Aden main main sama pistol beneran..."kata Bi Siti.


"Bibi bisa aja...."jawab Revan sambil terkekeh.


Tak lama kemudian dua porsi roti bakar, secangkir kopi hitam dan segelas susu coklat pun sudah siap. Revan membawanya naik ke ruang kerjanya. Niat jahil nya muncul ketika ia melihat Leni swdang serius di depan komputer dengan kaca mata yang bertengger di hidungnya.


Tok

__ADS_1


Tok


Tok


Revan hanya mengetuk pintu tanpa memanggilnya.


"Taruh di meja sana aja Bi..."kata Leni. Ia taj menyadari siapa yang mengantar makanan itu.


Revan hanya diam. Ia sedikit berjinjit agar tak menimbulkan suara. Revan berjalan pelan menuju saklar lampu yang berada di dekat bufet dan memainkan saklar itu agar lampunya nyala-mati.


"Hah...kenapa lampunya kedip kedip?"gumam Leni. Ia merasa ruangan kerja tersebut mulai dingin karena AC.


"Perasaan tadi AC nya mati..kok tiba tiba hidup?"gumam Leni lagi. Ia menoleh ke segala arah, namun tak menemukan apa apa disana. Ia bergidik ngeri.


"Apa ruangan ini ada hantunya...."


"Len....mikir..mikir...mikir yang bener...mana otak encer loe?"kata Leni sambik mengacak acak rambutnya. Revan yang sedang bersembunyi disamping bufet hanya busa menahan tawanya melihat Leni yang mulai takut.


Leni pun memutuskan berdiri untuk mengambil remote AC untuk mematikannya. Namun sebelum berdiri, tiba tiba lampu ruang kerja mendadak mati.


Dut.


Duut.


Breeeett.....


Revan yang tak bisa menahan tawa akhirnya terkentut kentut di samping bufet. Leni yang mendengar bunyi kentut,beserta bau yang menyengat langsung tersadar kalau ia dikerjai sang suami. Ia meraih ponsel dan menyalakan senter. Lalu langsung mengarahkannya ke bufet dekat tempat saklar lampu.


Bagai maling yang sedang ketahuan, Revan hanya nyengir ketika senter di.ponsel Leni tepat mengarah ke wajahnya.


"Oohh...ternyata tuyulnya kamu Mas..??"kata Leni sambil menahan emosi.


"Hehehe...maaf Sweety..habis kamu serius banget sampai sampai nggak tahu kalau aku masuk bawa makanan..."kta Revan membela diri.


"Kan aku kira Bi Siti tadi.udah puas sekarang ngerjain istri yang lagi hamil..."omel Leni.

__ADS_1


"Maaf Sayang...Maafin Daddy ya Keiko...."kata Revan sambil menciumi sang istri. Kemudian ia berjongkok dan mengecup perut Leni sambil mengusapnya.


"Kamu mengerjakan apa ,Yang?kata Bi Siti dari sebelum subuh udah di ruang kerja?"tanya Revan sambil memeriksa pekerjaan Leni sekilas.


"Nggak penting juga sih sebenarnya..aku cuma nggak bisa tidur setelah mimpi ketemu Mama...daripada bingung aku ke ruang kerja aja lanjutkan oekerjaan tadi malam.."jawab Leni.


"Kamu mimpi Mama?"tanya Revan.


"iya..Mama bilang "kalian anak anakku, jaga diri kalian baik baik" di mimpiku semalam kaya ada anak.perempuan lain di samping ku Mas..Mama memeluk aku sama..tapi waktu aku noleh ke arah dia, semuanya langsung ilang gitu aja...." Ungkap Leni.


"Apa aku punya saudara?apa mama punya anak yang lain selain aku mas? aku merasa mimpiku benar benar nyata Mas..."lanjutnya.


"Sayang..kita akan cari tahu sama sama ya..."kata Revan sambil memeluk Leni.


"Sebenarnya, Mbah kakung menceritakan sesuatu saat kita ke desa dulu Len... kamu memang masih punya saudara kandung sweety.."Revan pun menceritakan apa yang diceritakan Mbah Purwo pada Leni saat di desa dulu.


Leni awalnya tak percaya, karena setahu Leni ia hanyalah anak tunggal ibu dan ayahnya. Ia tak menyangka bahwa ayahnya begitu tega memisahkan Ibu dengan anaknya. Ia pun terus menangis di pelukan Revan.


"Mas....aku cuma pengen ketemu kakakku...."Pinta Leni dengan lirih.


"Tenanglah sayang..saat ini anak buahku sedang mencari tahu dimana keberadaan kakakmu...walaupun sebenarnya aku merasa saat ini kakakmu tak jauh dari kita."kata Revan.


"Maksud Mas revan?"tanya Leni.


"Entahlah...mungkin perasaanku saja..Apa kamu dulu pernah mendonorkan darahmu pada seseorang?"tanya Revan.


"Pernah Mas hampir dua tahun yang lalu...sama seorang wanita yang umurnya 2 tahun di atasku..dia punya golongan darah yang sama kaya aku...sama sama langka."kata Leni.


"Kamu tahu dia siapa?"tanya Revan. Namun Leni menggeleng.


"Kamu masih ingat tanggal kejadian itu?"tanya Revan.


"Kalau tanggal pastinya aku lupa, tapi bulannya aku ingat. Awal bulan september. Apa mungkin yang ku tolong itu kakakku Mas?"tanya Leni.


"Kita akan cari tahu semunya....."

__ADS_1


__ADS_2