
"Kak...Loey..."lirih Valine terbata. Ia baru saja terbangun setelah tidur lagi sesaat ia sadar dari koma.
"Valine....kakak disini.."kata Loeyandra yang baru tiba. Ia sudah berdiri di depan pintu ruangan VVIP rumah sakit itu.
Semua orang menoleh ke arah pintu saat Loey baru saja datang. Loeyandra mendapat kabar dari Justin bahwa Valine masuk rumah sakit dan menyebut namanya saat tersadar dari koma. Ia pun segera mengambil penerbangan tercepat menuju ibukota. Beruntung ia datang di saat yang tepat.
"Masuklah Nak...""kata Eric. Loey pun mengangguk.
Loey masuk ke dalam kamar rawat Valine. Dan segera menghampirinya. Eric mengisyaratkan semua untuk keluar dari kamar. Mereka pun menurutinya dan memberikan kesempatan pada mereka berdua.
"Kakak disini Val...katakan mana yang sakit.."kata Loey saat berada di dekat Valine.
"Aku sakit lagi kak...dadaku sakit lagi..."lirih Val dengan air mata di sudut matanya. Ia meraih tangan Loey dan menempelkan ke dadanya yang terasa nyeri saat bernafas.
"Sabar ya...dokter sudah kasih kamu obat..sebentar lagi pasti sakitnya hilang.."kata Loey sambil mengusap pelan dada Valine.
Hal itu biasa dilakukannya saat mereka di London karena hanya tangan Loey yang bisa meredakan rasa sakit Valine saat penyakit jantungnya kambuh. Tak ada hal lain. Hanya sebatas ingin meredakan rasa sakit yang begitu menyiksa. Karena sejujurnya Loey juga merasa sakit saat melihat Valine begitu kesakitan. Entah apa yang terjadi di antara mereka berdua.
Perlahan, Valine kembali tenang karena rasa nyeri si dadanya berangsur menghilang. Hanya menyisakan rasa sesak. Beruntung selang oksigen nasal yang terpasang di hidungnya membantu ia bernafas lebih mudah.
"Sudah baikan?"tanya Loey sambil tersenyum. Valine pun mengangguk lemah.
"As usually...maaf Valine selalu ngrepotin Kakak dengan keadaan Valine."kata Valine dengan lemah.
"No..nggak ngrepotin sama sekali...dan jangan pernah bilang seperti itu sama kakak.."kata Loey sambil mengacak rambut Valine.
"Berantakan tau...!" ketus Valine.
__ADS_1
"Tuh kan udah balik lagi..."kata Loey.
"By the way gimana bisa kambuh lagi sih..?bukannya terakhir kambuh hampir setahun lalu?itupun nggak sampai masuk rumah sakit kaya gini.."lanjut Loey.
"Sebenarnya...."Valine pun menceritakan apa yang dialaminya kepada Loey.
Flash back.
Selama di hampir dua minggu di Indonesia, Valine memang menyibukkan diri dengan berbagai kegiatan. Ia lebih suka beraktifitas di luar rumah. Kali ini ia mengisi waktu liburnya dengan mengambil kursus membuat dan menghias kue di tempat yang tak jauh dari rumah Yoo Ra. Yoo Ra juga tak melarang apa yang dilakukan oleh puterinya selama itu tak membuat kesehatannya terganggu.
Kemarin sore,ia mengunjungi supermarket milik keluarganya untuk membeli beberapa bahan kue yang akan ia buat di rumah sekaligus ingin membuat kejutan untuk sang ibu. Namun di sana, Valine tak sengaja bertemu seseorang.
Ia melihat Rengga, cinta pertamanya bersama pacarnya yang tak lain mantan sahabat Valine yang dulu merebut Rengga darinya. Walaupun sedikit gugup bercampur kesal, tetap melanjutkan acara belanjanya. Namun bukan Grace namanya kalau tak membuat masalah dengan Valine.
"Eh...Valine..Valine kan yang sering jantungan itu?"kata Grace.
"Eh..kok buru buru sih..sini dulu lah..kamu takut aku bilang ke semua orang kalau kamu tuh nggak lebih dari gadis penyakitan yang mimpi busa hidup normal?"hina Grace.
"Emang kenapa kalau gue penyakitan?masalah buat loe?"tanya Valine yang mulai tersulut emosinya.
"Ya heran aja...kok loe masih hidup sih..bukannya orang jantungan tuh matinya cepet?jadi gue bisa bebas dari bayang bayang loe..."kata Grace sambil melirik sang pacar yang sedari tadi menatap Valine dengan pandangan yang sulit diartikan. Ada rasa bersalah dalam tatapan mata Rengga pada Valine. Namun ia tak dapat berbuat banyak.
"Yang...udah..nggak usah dilanjutin lagi..."kata Rengga.
"Eh..kamu berani nih sama aku?"ancam Grace.
"Ya nggak..tapi nggak enak dilihatin orang orang."kata Rengga.
__ADS_1
"Terus aja belain dia! Kamu nggak inget kamu bisa masuk kampus idamanmu berkat siapa?kalau bukan karena uang papaku kamu tuh bukan apa apa...!" teriak Grace yang memperdulikan tatapan aneh orang orang di sekelilingnya. Rengga yang mendapatkan peringatan dari Grace hanya bisa terdiam.
Valine yang sudah jengah dan malas menghadapi dua makhluk menyebalkan di hadapannya itu berlalu pergi. Berharap segera menjauh dari mereka. Namun dengan keras Grace mendorong Valine hingga tersungkur di lantai. Ada dua rasa sakit yang ia rasakan seketika. Rasa sakit yang sebenarnya yang menjalar di dada dan rasa sakit yang ada di hatinya yang lebih besar.
Valine langsung bangkit berdiri dan dengan sekuat tenaga ia mendorong Grace ke belakang hingga terjatuh. Tak peduli iamenjadi pusat perhatian ia menginjakkan satu kakinya di dada Grace.
"Kalau dulu gue selalu sakit tiap kali loe pamer kemesraan bareng breng*sek di samping loe yang ternyata cuma seorang pengecut, sekarang gue malah seneng...karena apa? karena dari sini gue udah buang sampah yang ternyata berharga buat loe..dan perbuatan loe yang barusan loe lakuin ke gue..itu semuanya udah terekam di CCTV perusahaan bokap gue. Dan perlu gue kasih tau..Om Ridwan bokap loe itu direktur keuangan di perusahaan keluarga gue dan gue dengar dengar dia kena kasus..loe tanya sendiri aja lah.."kata Valine dengan santai.
Valine pun segera meninggalkan Grace yang terpaku di tempatnya. Ia keluar dari gedung sambil memegangi dadanya yang terasa nyeri. Sampai diluar Valine segera meminum obat yang biasa ia bawa kemana mana jika sewaktu waktu rasa sakit menyerangnya.
Saat semua terasa lebih baik, Valine yang sudah sangat lapar karena tenaganya terkuras. ia memutuskan untuk mmenuju tempat makan yang biasa dikunjunginya dengan sang kakak saat bersama.
Tengah malam saat terbangun, Valine merasakan nyeri luar biasa di dadanya, ia kesulitan bernafas dan perlahan pandangannya mulai menggelap.
Flashback off.
Sementara itu di kantin, dua pasang suami istri sedang mengobrol sambil menikmati secangkir kopi dan roti bakar. Mereka semua memang belum sempat sarapan, karena terburu buru ke rumah sakit.
"Bagaimana dengan kuliah Valine, Sayang?Rasanya aku nggak tega kalau harus biarkan dia ke London lagi...aku khawatir sewaktu waktu jantungnya kembali bermasalah.."kata Momy Yoo Ra.
"Tenang sayang..aku sudah memikirkan apa yang kita lakukan, tinggal aku meminta persetujuan dari kalian semua dan Valine..."jawab Eric dengan mantab.
"apa itu Dad?"tanya Revan.
"Kita harus segera menikahkan Valine dan Loey..."jawab Eric.
"APAAAAA??"
__ADS_1