
AREA DEWASA 21+ HARAP BERSIKAP BIJAK SEBELUM MULAI MEMBACA.
Saat ia membuka mata Leni mendapati dirinya sudah berada di sebuah kamar hotel.Kepalanya terasa pusing. Ia sangat terkejut karena saat ini ia tak memakai sehelai benang pun untuk menutupi tubuhnya. Dan tubuhnya terasa remuk.
"Dimana aku..mengapa aku bisa t*lanjang begini?Ah...tubuhku sakitnya..."Kata Leni.Ia mengingat ingat lagi kejadian tadi malam tapi ia sama sekali tak bisa mengingatnya.
Lamat lamat Leni mendngar suara laki laki di balkon hotel. Ia merasa tak asing dengan suara itu.
"Tuan Revan..sedang apa dia?Hah..jangan jangan...."
" Tidaaaaakkkkk......" teriak Leni.
Revan yang sedang menelpon orang kepercayaannya langsung menutupnya dan menghampiri Leni. Ia mendapati Leni sedang menangis.
"Leni...." kata Revan. Ia langsung memeluk Leni dengan erat.
"Maafkan aku Len...tapi aku tak bisa berbuat banyak. Aku akan bertanggung jawab dan menikahimu secepatnya." kata Revan dengan penuh rasa bersalah.
"Tidak...tidak mungkin...kenapa Anda jahat sekali Pak...sekarang aku hanyalah wanita kotor..Ibu..maafkan aku telah mengecewakanmu..." kata Leni dalam tangisannya.
"Maafkan aku Leni..maafkan aku...sungguh aku akan bertanggung jawab sebelum kamu memintanya." kata Revan.
"Ttttapi bagaimana ini bisa terjadi Pak..?Anda sudah menghancurkan masa depan saya.."kata Leni. Ia terlihat masih shock dengan kejadian semalam.
Revan pun menceritakan kejadian yang semalam terjadi.
Flashback.
Leni tak sadarkan diri setelah minum orange juice yang diberikan Revan. Revan langsung menangkap tubuh Leni yang hampir ambruk dan membopongnya ke dalam mobil. Ia berniat membawa Leni ke rumah sakit.
Tapi saat di perjalanan, Leni tersadar dan tingkahnya mulai aneh. Ia terus meracau dan tak berhenti membelai tubuh Revan yang memeluknya.Revan sebagai laki laki normal langsung bereaksi tapi sekuat hati tetap menahannya. Karena ia tak mau melakukan hal bodoh yang memalukan.
"Len...sadar Len..kamu kenapa Len..." ucao Revan sambil menepuk nepuk pipi Leni.
"Dim..bagaimana ini? kenapa dia terus seperti cacing kepanasan begini?" tanya Revan pada Dimas, sopirnya.
" Sepertinya Nona Leni minum minuman yang diberi obat perangsang Tuan..menurut ilmu yang sudah saya pelajari waktu kuliah dulu, Nona harus bisa menuntaskan hasratnya, kalau tidak, bisa mengancam jiwa Nona." kata Dimas.
"Saya harus melakukan itu dengan Leni untuk menyelamatkan?begitu maksudmu?" kata Revan. Yang terus menahan Leni yang berusaha mencium bibirnya.
__ADS_1
"Iya Tuan..."jawab Dimas.
"Apa kamu bodoh? mana mungkin aku melakukkannya sebelum menikah?"Revan yang mendengar ucapan Dimas langsung naik pitam.
"Tapi hanya itu tuan cara satu satunya yang bisa dilakukan." kata Dimas.
"Segera carikan hotel terdekat!"kata Revan sedikit berteriak.
"Baik Tuan.." kata Dimas.
Ia langsung menuju sebuah hotel memesan kamar disana.Sedangkan Leni, tingkahnya sudah tak terkendali lagi. Seaampainya di kamar hotel, Revan meletakkan tubuh Leni di kasur. Namun dengan sangat agresifnya, Leni malah menarik tubuh Revan kedalam pelukannya.
Leni yang sudah tertutup kabut g****h, langsung mencium bibir Revan dan me****tnya. Revan yang sudah bereaksi juga membalas ciuman Leni. Leni terus menggelinjang seolah menginginkan lebih dari sekedar ciuman.
Revan yang mengerti langsung mengarahkan Leni untuk berbuat apa yang ingin dia lakukan guna menyalurkan g****hnya.
Leni duduk di perut Revan dan menciumi tubuh Revan dengan ganas. Bahkan ia juga memainkan ******nya sendiri.
"Aku tak tahan Tuan..tolong aku..." desah Leni. Revan yang paham langsung mengungkung tubuh Leni untuk melepaskan hasratnya.
" Len..maafkan aku..tapi aku harus melakukannya, aku akan bertanggung jawab untuk itu." kata Revan.
"Maaf Leni mungkin ini akan sakit, tapi juga akan membantumu." Kata Revan.
"Arrgghh...sakit...tapi sangat nikmat sekali..." jerit Leni. Awalnya, Revan hanya bermain pelan tapi karena hasratnya yang jug tinggi, ia mempercepat permainannya hingga sama sama meledakkan lava. Revan dan Leni pun terkulai lemas bersamaan.
Leni yang sudah lemas langsung tertidur lelap. Berbeda dengan Revan ia tak bisa memejamkan matanya sedetikpun. Ia merasa sangat bersalah telah membantu gadis seperti Leni. Tapi di lain sisi, ia mungkin juga semakin menyesal jika Leni sampaielepaskan hasratnya dengan perempuan lain.
"Segera cari tahu siapa yang menaruh obat laknat itu ke dalam minuman Leni." kata Revan pada orang kepercayaannya.
Revan menghampiri Leni yang masih tertidur dengan nyenyak.Ia menyingkirkan rambut yang menutupi wajah wanita itu, dan menyelimutinya hingga sebatas bahu.
Revan beranjak dari tempat tidur dan langsung menelepon ayahnya. Ia tahu ayahnya akan sangat marah, tapi ia bertekad akan mempertanggung jawabkan semuanya.
Sebelum ia menelepon ayahnya, ponsel Revan sudah berdering, dan ternyata dari orang yang ia suruh.
"Bagaimana?" tanya Revan.
"........."
__ADS_1
" Sudah kuduga, hancurkan perempuan itu beserta keluarganya. Besok pagi, seret dia kehadapanku!"
"...."
Revanpun memberanikan diri menelepon ayahnya. Karena ia tak ingin masalah ini berlarut larut.
"Hallo ada apa Nak..kenapa menelepon kami pagi pagi buta begini?"kata Erik, ayah Revan di seberang.
"Maafkan aku ayah...aku telah berbuat dosa untuk menyelamatkan seorang wanita, aku telah menghancurkannya.."kata Revan yang tak bisa menahan tangis putus asanya lagi.
"Apa maksudmu Revan?apa yang telah kamu lakukan?"tanya Erik dengan nada yang sudah meninggi.
Revan pun menceritakan semuanya tanpa ada yang ditutupinya lagi.
" Besok pagi pagi sekali kamu harus datang ke hadapanku. Bawa juga ja**** yang telah menaruh obat sialan itu." kata Erik. Ia langsung.
Flashback off.
Leni terus terisak di pelukan Revan. Ia sangat kecewa dengan laki laki yang telah merenggut kehormatannya.Tapi ia juga mengerti mereka berdua hanya korban.
"Leni...segera bersihkan badanmu. Kita akan ke rumah orang tuaku." kata Revan.
"A-apa Tuan..tapi aku takut..." kata Leni dengan suara bergetar.
"Tidak apa apa..kita harus segera menikah. Aku tak mau ada penolakan." kata Revan dengan tegas.
Leni bergegas menuju ke kamar mandi dan membersihkan badannya. Di dalam, ia menumpahkan seluruh emosinya ia menangis dan berteriak. Ia sangat terpuruk saat ini.Ia terus mengguyur badannya di bawah shower dan pada akhirnya ia kehilangan kesadarannya di dalam bathtube.
Sudah hampir satu jam Leni berada di dalam kamar mandi. Revan mulai khawatir dengan keadaan sekretarisnya itu mengetuk pintu kamar mandi.Tapi tetap tidak ada sahutan.
" Len...bukakan pintunya..Leni...!"terial Revan.
Karena tak kunjung dibuka, akhirnya Revan mendobrak pintu kamar mandi itu, dan sangat terkejut saat melihat Leni sudah tak sadarkan diri dan hampir tenggelam dalam bathtube.
"Leni!!!"teriak Revan.
Ia langsung mengangkat tubuh Leni yang sudah sangat pucat dengan bibir yang membiru karena kedinginan.Revan segera memakaikan pakaian dalam Leni dan membalut tubuhnya dengan selimut tebal untuk membawanya ke rumah sakit.
"Len..bertahanlah..."kata Revan sambil terus memeluk tubuh sekretarisnya.
__ADS_1