Jebakan Cinta CEO Baru

Jebakan Cinta CEO Baru
Akhirnya Mereka Tahu


__ADS_3

"Valine.."panggil Revan pada Revalina.


"Mas Yandra.."panggil Leni pada Loey. Mereka memanggil saudara masing masing hampir bersamaan.


"Iya Oppa...."jawab Valine.


"Apa Dek Leni..." jawab Loey.


"Biar aku yang tanya mereka berdua Len..." kata Revan dengan penuh selidik.


"Ada yang perlu dijelasin disini?"lanjut Revan.


"Jelasin apaan,Bro?Gue nggak ngerti ah..." jawab Loey dengan cuek, tapi matanya seperti menyembunyikan sesuatu.


"Kalian pulang ke Indo barengan kan?"tanya Revan.


"Hehe....kok tau Mas?" jawab Valine.


"Kamu tuh kalau nggak disusul Mas atau Daddy trus pake diseret juga nggak bakal balik...atau kalo gk gitu sampai Mommy pakai drakor rasa lokal. Iya apa Nggeh?" tanya Revan.


"Itu sama Mas..." jawab Valine sambil cengengesan.


"Yan...aku tuh dari tadi lihatin kamu sama Mbak Valine kaya ada something gitu...kalian pacaran?" tanya Leni. Leni menyebut Valine dengan sebutan Mbak, ia masih canggung karena belum mengenal Valine.


"Masih calon...doain ya Dek?" jawab Loey dengan enteng.


"What??jangan bilang loe suka adek gue?" kata Revan terkejut.


"Iiihh...mas Revan..apaan sih...Valine sama Kak Loey cuma tetanggaan apartemen aja...dia mo pulang buat cuti tahunan, ya Valine ngikutlah..kan kebetulan juga Valine lagi libur semester..lagian Valine juga pengen liat Mas Revan sama Kak Leni nikah..." jawab Valine.


"Mas tuh cuma khawatir sama kamu Val...di London tuh nggak kaya di Indo..disana kehidupan s*ksnya bebas..kamu kan masih 17 tahun tinggal sendirian lagi. Mas cuma nggak mau hal yang sama seperti Mas menimpa kamu.Kasihan Mommy sama Daddy..cukup Mas aja..." lirih Revan.

__ADS_1


"Dan loe Bro, walaupun kalian tetanggaan, loe jangan sampai macem macem sama Valine! Kalau sampai gue denger Valine kenapa kenapa gara gara loe,gue pastiin loe pulang tinggal nama aja!" kata Revan pada Loey dengan tatapan tajamnya.


"Iya...tenang aja gue bukan pedofil...kalaupun gue suka sama adek loe, gue tungguin sampe dia cukup umur kok..."jawab Loey.


"Gue pegang kata kata loe"katq Revan memperingatkan.


"Udah..udah...kalian ini kenapa sih...dari tadi malem ribut terus.."kata Leni jengkel.


"Mbak Valine ayo kita makan dulu..tinggalin aja tuh dua orang yang bikin bengek.."kata leni sambil menggamit lengan Valine dan meninggalkan Revan dan loey.


"Kak...jangan panggil Valine Mbak dong...aku kan calon adeknya Kakak..masak di panggil Mbak juga..kan aneh...."pinta Valine.


"Maaf...tadinya kan aku masih belum kenal sama Valine..jadi gk enak kalau langsung panggil nama..takutnya Valine nggak suka...makanya panggil Mbak aja..hehe.." jelas Leni.


"Hehe iya Kak..nggak apa apa kok...Sebenarnya Kak Leni tuh bemar benar di luar ekspetasi aku lhow..."kata Valine.


"Maksudnya...?"tanya Leni sambil mengernyitkan dahi.


"Beda gimana...?"tanya Leni.


"Ya beda pokoknya..bikin aku tambah semangat aja gitu punya kakak kaya Kak Leni..."kata Valine sambil menyandarkan kepalanya di bahu Leni dengan manja.Pertemuan singkat itu, membuat Leni dan Valine menjadi lebih akrab, tak lupa mereka saling bertukar nomor ponsel.


Acara tersebut, berakhir menjelang. Keluarga Revan oun berpamitan dengan keluarga Leni. Mom Yoo Ra yang dalam waktu singkat telah akrab dengan nenek Leni, begitu berat meninggalkan mereka.Begitu pun dengan Eric ia merasa seperti punya sosok ayah lagi setelah mengenal Mbah Purwo yang sangat bijaksana.


"Pak...Bu...kami pamit dulu...terimakasih banyak atas jamuan dari kalian..mohon maaf telah membuat semuanya kerepotan dengan kedatangan kami yang tiba tiba.."kata Eric berpamitan.


"Jangan seperti itu Nak Eric..kami sama sekali tidak keberatan dengan kedatangan kalian..justru kami sangat senang sekali..jangan kapok untuk datang lagi kemari..."Kata Mbah Purwo.


"Tentu Pak...sebenarnya kami masih sangat ingin di sini, tapi besok kami sudah harus mulai mempersiapkan pernikahan anak anak.." kata Eric.


"Bu...Saya pamit dulu...kalau ada waktu luang saya pasti datang lagi kesini, dengan atau tanpa ayahnya anak anak..." kata Yoo Ra sambil memeluk Bu Fatma.

__ADS_1


"Iya..iya....pintu kamu akan selalu terbuka untuk kalian..hati hati di perjalanan...kami akan ke Jakarta tiga hari sebelum pernikahan anak anak..." kata Bu Fatma setelah mereka saling melepas pelukan.


Sementara itu, Revalina dan Loeyandra masih terlihat berbincang.


"Kak...aku balik dulu ya...kakak kapan ke balik ke Surabaya?" tanya Revalina.


"Iya hati hati di jalan..mungkin besok setelah Revan sama Leni pulang. Terus tiga hari sebelum pernikahan mereka aku ke Jakarta bersama keluarga." kata Loey.


"Ehhhmmm.....udah pulang sana...ntar kebablasan." kata Revan yang tiba tiba menyela pembicaraan Valine dan Loey.


"Mas Revan nyebelin..." jawab Valine dengan bibir cemberut.


Setelah drama berpamitan, akhirnya merekapun meninggalkan pelataran rumah Mbah Purwo dan Mbah Fatma. Kini tinggal Loey beserta ayah ibunya,Leni dan Revan serta sepasang orang yang sudah berusia senja.


"Le...Nduk...ayo gek mlebu omah....(Nak...ayo segera masuk rumah)" ajak Mbah Purwo kepada Revan dan Leni yang masih berada di teras.


"Iya..Mbah Kung...." jawab Revan.Mereka pun mengikuti sang kakek masuk ke dalam rumah.


"Le..Nduk..lungguh kene(Nak..duduklah disini).Ada yang ingin Mbah Kung bicarakan." kata Mbah Purwo dengan raut muka yang serius.


"Ada apa Mbah Kung...?" tanya Leni yang sedikit guguo. Karena hampir tak pernah kakeknya berbicara dengan raut muka seserius itu.


"Begini...tadi Bapaknya Revan memberitahukan sesuatu. Yang sejujurnya membuat Mbah Kung sama Utimu terkejut sekaligus kecewa


dengan kalian." Kata Mbah Purwo sambil menghela nafas sejenak.


"Kalian memutuskan menikah karena sesuatu. Apakah benar?"Tanya Mbah Kakung. Tampak Ayah dan ibu Revan terkejut dengan pernyataan Mbah Purwo. Sedangkan Loey yang sudah tahu sebelumnya hanya terdiam.Ia tak menyangka kakeknya akan tahu hal yang sebenarnya terjadi.


Revan dan Leni seketika sangat terkejut. Revan benar benar tak menyangka bahwa ayahnya akan memberitahu hal yang sebenarnya pada sang kakek. Raut Muka keduanya, seketika memucat. Leni yang terkejut sekaligus takut hanya bisa terdiam dan menundukkan kepalanya. Sedang Revan, berusaha untuk menyusun kata untuk menjelaskan pada Mbah Purwo yang sebenarnya terjadi. Karena ia tahu, ibarat peribahasa,sebaik baiknya menyimpan bangkai, lama lama akan terendus juga.


Maka dari itu, inilah saat yang tepat untuk menjelaskan kepada kakek dan nenek Leni.

__ADS_1


__ADS_2