
"Ibu bercanda kan" Masa cepet bangat , kan baru ketemu kemarin " Ucapku sambil tersenyum terpaksa .
"Malah beberapa pas khotbah langsung Akad juga ada " Kini suara Umi A Farhan . Tunggu Saya belum siap untuk ini , Rasanya terlalu cepat, dan terburu-buru .
"Ibu harus pulang , kalo nunggu balik lagi nanti kelamaan " Bak bisa membaca fikiran, ibu memberitahu alasannya kepadaku .
"Lagian emang ibu belum bilang ya ? , kayaknya ibu lupa deh , pokoknya sekarang ganti baju dulu yah , masa nikahan pake rok jeans kan tidak lucu" Ucap ibu menuntunku ke kamar mandi yang ada dikantor Ummi Aisyah.
Ibu bercandakan Bu " Tanyaku sekali lagi ,memastikannya " Ibu ngeprank satu pondok gitu ? gak mungkinkan?" Saya terdiam , memang gak mungkin dan sangat mustahil . Apalagi Umi A Farhan juga ada disini .
Saya memandang Dres putih panjang dengan peyek dibagian atas . "Bukan pernikahan seperti ini yang saya mau " Ujarku memandang cermin, tidak ada riasan wajah , tak ada foto , tak ada undangan. bukan seperti ini yang Kumau.
Saya keluar dengan lesu, Apa saya menolak ajakan pernikahan kemarin .
Qabiltu Nikahaha wa tazwijaha akal mahril madzkur wa radhiitu bihi, Wallahu waliyu taufid . ( Saya terima nikah dan kawinnya , dengan mahar yang telah disebutkan , dan saya rela dengan hal itu . Dan Allah selalu memberikan Anugerah ) .
__ADS_1
Lafal kabul telah dibacakan, saat saya belum sempat duduk dikursi , namun saya dengan jelas mendengarnya .
"Alhamdulillah putri Umi " Kini Umi A Farhan menghampiri ku dan memelukku dengan haru . sedang aku masih mematung . Ini sungguh terlalu cepat dan berbeda dari dugaanku .
"Akhirnya anak ibu udah sah " Ibuku akan senang jika saya menikah dengan anak ustad . Terlebih jika latar belakang A Farhan yang menganggumkan .
'Apa saya tak bahagia ? ' batinku , saya hanya perempuan delapan belas tahun , pernikahan sesederhana ini , bukan mauki . Siapapun pasti membayangkan pernikahan impiannya , dengan gaun yang mewah . Namun melihat mereka semua bahagia . tak ada yang bisa kulakukan selain memaksakan senyumku .
"Alhamdulillah ya Umi " Ucapku pada akhirnya dengan berat , saya tak keberatan menikah, sungguh , hanya saja yang saya kukatakan . Saya tak ingin sesederhana ini .
Pernikahan . Apa yang harus ku katakan pada temanku dikamar . ' Ini yang terbaik Put, Ini yang terbaik ' Batinku meyakinkan .
Tok .. tok ... tok
Ketukan pintu terdengar , saya dengan cepat mengusap sudut mataku yang sedikit berair . ' Jangan Sesali ' Batinku menguatkan diri .
"Anak ayah " Peluknya lagi dan kali ini ... tangisku lepas , melihat A Farhan ada di belakangku , kesadaran ku kembali . Saya sudah menikah.
__ADS_1
***
Saya hanya menunduk ditinggal berdua di ruangan bersama lelaki yang kini menjadi suamiku , sudah tak dandan banyak nangis . saya tidak tahu bagaimana wajahku saat ini .
"Ga mau Salim gitu ?" Suara A Farhan terdengar begitu akrab dan menyebalkan secara bersamaan . Kulihat tangannya bergulur ke.arahku , Saya memainkan jemari ku dengan gugup .
Bukan tidak mau bersalaman lawan jenis , namun melihat image anak ustad saya merasa sedikit ragu untuk berjabat meski kini statusnya adalah suamiku sendiri .
"Marah ya ? " Tanyanya lagi yang ingin ku jawab angukkan namun saya hanya menggeleng kecil . Memang jika saya marah alasannya apa ? , saya marah karna nikah . Lucu sekali .
" Yasudah kalau gak mau salaman " .
"Mau " Ucapku spontan membuatku menutup mulut,, rasanya saya mengucapkan begitu keras , A Farhan hanya tersenyum tipis , dan mengulurkan tangannya . menjabatkan dengan menempelkannya dipipi.
"Masa Salim di pipi " Deg !!!
Udah Ya' ... Kalau mau lagi jangan lupa like, komen, dan vote sebanyak banyaknya .. makasihh
__ADS_1