Jodoh Karna Allah

Jodoh Karna Allah
Have A Lunch


__ADS_3

JKA. Have A Lunch


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Habisin dulu makanmu" Ucap A Farhan kembali melanjutkan makanannya , Ia tersenyum tipis melirik istrinya yang nampak kesel , Putri sangat ingin tahu Jawaban suaminya . Tentu saja ini mengenai masa depannya . Putri menikmati makanannya dan habis lebih awal. Sudah tidak sabar . "Jadi gimana A?" Tanya Putri setelah meneguk air minumnya.


"Putri mau kuliah dimana emang?" Tanya A Farhan, tubuhnya di condongkan ke depan siap mendengarkan istrinya . "Putri gak mikirin kuliah dulu kok" Putri menggigit bibir bawahnya , ia ragu mengatakannya , namun rasa penasarannya juga tak bisa di abaikan begitu saja . "Kalau Dek Putri mau main ? Silahkan nanti Aa yang anterin". Ujar A Farhan saat istrinya terus saja terdiam , entah mengapa istrinya begitu ragu untuk berbicara .

__ADS_1


"Putri bisa naik motor sendiri" Ungkap Putri cukup membuat A Farhan terkejut , Farhan tahu kalau istrinya sudah di pesantren sejak sekolah menengah pertama . "Kapan latihannya? Bukannya di pondok terus?" Putri mendengus kesal mendengarnya. Ia mengingat bagaimana ia harus menabrak tembok rumah tetangga saat ia belajar naik motor pertama kali "Kan liburan latihan" Jawabnya membuat A Farhan mengangguk.


"Jadi intinya gak mau di Anyer? Ya udah pakai aja motor Aa" Jawab Farhan enteng , dia sama sekali tidak keberatan dengan keinginan Putri, sejauh ini dia belum menemukan alasan kenapa istrinya menangis hingga terisak saat didalam mobil .


"Putri boleh main sama teman-teman Putri?" Tanyanya dengan lirih dan sedikit takut , membuat A Farhan mengerutkan dahinya . Ia sangat ingin tahu apa yang istrinya pikirkan tentang dirinya ."Tentu saja boleh , asal izin dulu supaya saya gak nyariin" Simpel jawaban Farhan . "Kalau itu aku pasti izin" .


"Terus apa lagi?" Farhan menyilamkan tangannya. Tubuhnya disandarkan pada kursi , Sejauh ini pembicaraan cukup ringan . "Putri masih belum percaya, hehehe , Lain kali aja kalau Putri beneran mau main" ."Apa yang kau fikirkan sih Put, Kenapa sampai segitu takutnya? Ga bisa kah kamu lihat aku sebagai Farhan saja? Kalau kamu terus anggap aku seorang anak ustad , kamunya bakal capek mikirin ini itu" Tidak mudah bagi Farhan karna statusnya sebagai anak ustad , ia di tuntut sempurna tanpa celah.

__ADS_1


'Anak Ustad padahal, kok gitu' Sesuatu yang sering di dengar olehnya , dan ia tidak biasa dengan ungkapan seperti itu . "Aa Sholeh Sih" Kekeh putri tersenyum dengan manis , "Mereka bilang gitu Aa, Mereka bilang bisa saja aku kehilangan kebebasan, karena suaminya cenderung mengatur istrinya bukan karna status anak seorang ustad yang cerdas karena kuliah di luar negri " Ledek Putri membuat nafas A Farhan tercekat , Sesaat kebahagiaannya melambung dan di jatuhkan dengan mudahnya.


"Lagian kebebasan seperti apa yang Putri mau? Kata ibu, Putri gak suka main, dirumah terus karena takut cahaya?" Farhan sudah mengenali Putri sedikit demi sedikit dari informasi Ayah dan Ibu mertuanya saat proses pengenalan . "Putri bukan Vampir," Pipinya di gembungkan tanpa sadar , Kebiasaannya ketika lagi kesal , atau saat seseorang menjahilinya , "Iya sih Vampir kan cenderung pucat wajahnya , taringnya tajam"


-


-

__ADS_1


-


__ADS_2