
JKA. Waktu Yang Tepat
Putri memang menjadi trend di sekolahnya , namanya sudah terkenal di kalangan Ikhwan dan akhwat yang menghadiri Akad', tetangga dan orang kantin juga semua sudah mengenalnya.
"Gak enak tahu jadi omongan tuh" Putri membuka minuman yang di bawa suaminya , dengan kekesalan yang meluap pun Putri tidak bisa membuka minumannya Deg! Matanya semakin Mendelik kala ia sudah mengarahkan tenaganya namun botolnya tak mau terbuka , padahal tangannya tidak licin .
"Mau main drama yah" Tanya A Farhan merebut botolnya dan membukakannya . Clek!! Semudah itu A Farhan membuka dalam sekali putaran . Putri mengerjap berkali-kali "Kok bisa?" Putri mengambil minumannya dan meneguknya kesal .
Saat ini dirinya tampak seperti orang yang haus akan perhatian tatapan suaminya terlihat seperti itu . "*Tadi susah tahu"
"Alasan aja"
"Tahu ah , mau ke asrama aja" Ancam putri membuat A Farhan menggenggam tangannya yang ada di dekatnya. "Kalau gak di pondok udah ku peluk saking gemesnya*" Ucap A Farhan membuat Putri berdebar dan secara refleks bergeser . Bagaimanapun juga banyak mata yang kini memperhatikannya.
"Kalau aku sering datang ke sini, dek Putri bakal senang atau malu?" Tanya A Farhan membuat Putri diam , pertanyaan yang sangat sensitif "*Aa Farhan mau jengukin Putri terus?"
__ADS_1
"Iya, maunya tiap hari ketemu*" Manjanya membuat Putri Mendelik, nada manja uang sebelumnya belum pernah ia dengar dari lisan seorang Farhan .
"Kan putri udah bilang , nggak mau jadi omongan Aa" Ucap Putri agar suaminya bisa sedikit mengerti kekhawatirannya .
"*Kan bukan aku yang ngerasain"
"Tuh kan ngeselin lagi*" Putri hendak turun untuk mengenakan sendalnya namun sudah di tendang ke bawah gazebo oleh suaminya .
"Bercanda kok , gak sering ke sini deh" Nada pelan A Farhan disertai sorot mata kekecewaan membuat Refleks tangan Putri menyentuh bahunya dan memiringkan kepalanya, mencari wajah suaminya yang tersembunyi dalam tunduknya .
"Ngehibur ya?"
"Tahu ah*"
Tak bisa di pungkiri , hati A Farhan melambung tinggi mendengar ucapan istrinya yang ingin juga terus bersamanya . Kesabarannya benar-benar di uji .
__ADS_1
"Kemarin gimana? pelajaran Abi? " A Farhan menyilamkan kakinya , menghadap Istrinya yang kaget, kepalanya celingukan melihat orang-orang , beberapa meliriknya .
"Kita gak semanis itu Sayang buat jadi perhatian " Ucap A Farhan membuat Putri tersadar . Itu hanya khayalan sugesti yang tercipta .Banyak yang membicarakannya memang . Namun hanya sebentar . Hatinya terus berdebar , mendapati panggilan suaminya yang begitu manis .
'Ga semanis itu katanya' Batin Putri . Suaminya bilang hubungannya tidak semanis yang di pikirkan olehnya ,namun hanya disebut sayang . Satu kalimat itu mampu membuat bunga-bunga dalam hatinya mekar begitu saja. Putri menyadarkan dirinya yang terlalu lama melamun dengan rona di wajahnya .
"Ga ada apa-apa , kayak biasa aja cuman teman-teman putri pada bisik-bisik , Cie ayah mertua , terus teman putri ditegur sama Abi katanya gaduh" Putri terkekeh mengingat itu, sebelum pelajaran Ustad Firman di mulai saja , banyak lisan yang menggodanya .
"Cuma suka kaget kalau ketemu sama Abi , mau Salim atau nggak , takutnya malah ga sopan kalo gak Salim , tapi diliat santri masih canggung " Farhan setia mendengarkan ucapan demi ucapan istrinya , ia cukup banyak bicara . Farhan tersenyum melihat ekspresi yang semakin lama semakin beragam .
-
-
-
__ADS_1
Bersambung