
JKA. STANDAR HIDUP
Orang tua gimana? Sehatkan?" Tanya Pak Dwi ayah Putri
"Alhamdulillah sehat Pak, dapat salam dari Umi dan Abi" jawab Farhan sopan. Matanya tak berhenti mengedar pada rumah yang luas. Manik matanya menelusuri berharap bisa menemukan bingkai foto istrinya namun tak di jumpai sama sekali.
"Waalaikumsalam" Keduanya kini hanya berdua, karena ibunya kini telah melayani pelanggan, membuka toko kelontongan menjadi pekerjaan ibu Putri yang sering kesepian, Saat suaminya pergi bekerja. Putri sendiri pergi ke kamar untuk meletakkan kopernya.
"Putri orangnya lurus bangat ya Pak?" Farhan memulai membicarakan istrinya. Wanita yang begitu polos namun bijak di saat bersamaan
"Lurus gimana?"
"Nggak pernah nakal, suka ngerajuk tapi nggak pernah marah" Sebut Farhan tanpa sadar wanita yang dibicarakan kini tengah melipat tangannya, memandangnya dengan waspada
"Nggak pernah marah? Wah padahal kalau disini sukanya marah-marah" Ledek ayahnya sembari menatap putrinya yang tengah melotot, Ayahnya sengaja mengatakan itu untuk memancingnya
"Emang kenapa marah-marah?" Tanya Farhan penasaran
"Lagian kalau makan nggak mau di atur, kalau udah sakit aja. Putrikan hanya nasehatin biar ayah nggak gampang sakit, nggak tahu apa gimana putri sering nangis di pesantren mikirin ayah" Jelas Putri panjang lebar,ia duduk di samping ayahnya. Bergelayut di lengan yang sudah lama tak di sentuhnya.
"Lihat, manja lagi" Tambah ayahnya membuat Putri tambah memberengut, "Makanya nurut sama Putri, nanti Putri nggak akan marah-marah lagi" Kepalanya bersandar dengan nyaman, Farhan hanya tersenyum tipis menatap interaksi ayah dan anak yang begitu manis
"Aa juga pernah tak marahin"
Farhan berdehem Malu "Putri cuma ngingetin Yah" Kilah Farhan cepat
******
Seminggu berlalu dengan kesibukan masing-masing. Komunikasi yang di harapkannya tak terwujud karena sinyal perdesaan yang buruk. Putri memberitahunya jika ingin mendapatkan jaringan panggilan harus bejalan sedikit jauh, untuk bisa menelpon
Farhan mematut dirinya di cermin bersiap untuk menjemput istrinya, seminggu ini terasa berbeda karena rumah yang dihuninya tak ada lagi senyum ceria wanita yang selalu menyapanya. Peluk hangat yang biasa menemani malamnya, berganti guling kain yang tak lagi terasa nyaman
__ADS_1
Ia melajukan mobilnya, sebelum menjemput istrinya. Abinya memintanya untuk datang, memberikan barang titipan. Sebuah bingkisan dalam paper bag di titipan orang tuanya untuk besannya.
"Hati-hati di jalan" Ujar Uminya begitu meneduhkan. Farhan menacap gas, jalanan tak begitu ramai, perasaan rindunya begitu memuncak ingin bertemu. Perasaan rindunya melebihi istrinya menimbang ilmu di pesantren. Perasaannya tumbuh begitu cepat.
Perjalanan yang kemarin di lalui hingga tiga jam, kini hanya dua setengah jam. Senyumnya merekah melihat istrinya yang kini tengah menyapu teras rumahnya. Di bunyikan klakson dua kali berharap istrinya menoleh dan berlari kesenangan ke arahnya. Namun yang terjadi malah sebaliknya.
Putri Yang awalnya menyapu teras, begitu menoleh ke arahnya langsung masuk ke dalam rumah, meninggalkan Farhan yang terbengong di balik kemudi. Farhan bergegas menghampiri istrinya, setelah salam terucap, namun tak didapati istrinya di ruang tamu
Menjelajahi rumah mertuanya, tentu Farhan tidak seberani itu, ia hanya tamu. "Putri..." Panggil Farhan namun tak ada sahutan sama sekali, ia sangat yakin kalau istrinya sudah melihat ke arahnya. "Apa aku buat kesalahan?" Gumam Farhan yang kini masih kebingungan seorang diri di ruang tamu. Mertuanya juga tak ada di rumah. Itu yang membuat Farhan semakin kebingungan
"Putri..." Panggil Farhan lagi, memberanikan diri selangkah lebih dalam, pelukan yang diharapkannya sirna saat istrinya keluar dengan tatapan sinisnya
"Berisik tahu, udah duduk aja dulu" Ucap Putri lalu kembali ke kamarnya. Deritan kunci di putar terdengar. Farhan menghela nafas berat. "Kenapa ketus sekali" Ucap Farhan yang akhirnya memilih duduk mengikuti titah istrinya
Setengah jam menunggu, Kaki Farhan sudah begetar, ia tak tahu alasan harus menunggu selama itu
'Apa dia berdandan?'
'Apa dia marah?'
'Kesalahan apa yang kulakukan?'
Pikiran itu terus berputar, membuat Farhan hanya menghela nafas kasar. Ia tak menemukan jawaban. Pelipisnya terasa berat, ia juga mengantuk setelah semalam tak bisa tidur karena terlalu senang untuk menjemput sang istri
"Assalamualaikum Lho! Nak Farhan datang?" Sapa ayah mertuanya. Membuat Farhan segera bangkit dan menyalami keduanya. "Putri kenapa ya, Bu?" Tanya Farhan menjabat tangan ibunya
"Belum ketemu?"
"Iya, nggak mau keluar?" Farhan menggigit bibirnya takut salah ucap. Jawaban Farhan membuat dua patuh baya itu menggelengkan kepala "Putri masih labil ternyata, padahal kemarin bilang nggak papa" Ucap ibunya sama sekali tak membuat Farhan paham
"Ya udah,ibu antar ke kamar Putri" Farhan hanya menurut, mengekor di belakangnya "Ada apa ya Bu? Apa karena Farhan jarang menelpon? sinyalnya nggak sampe Bu" Farhan mencoba mengabsen kesalahannya namun tak ada satupun yang benar
__ADS_1
"Selamat ya, bakal jadi ayah" Senyum tulus ibu mertuanya, Farhan membelalakkan matanya, senyumnya terbuka lebar. Perasaan bahagia meluap begitu dalam "Putri positif Bu?" Bibirnya tak berhenti melengkung senang. Kabar baik di dapatnya setelah satu Minggu tak bertemu
"Ta-tapi.." Ucapan Farhan terhenti, ia ingat betapa bahagianya istrinya mendengar lulus seleksinya "Apa karena kuliahnya Bu?" Tanya Farhan yang di balas anggukan. "Putri sedikit keras kepala. Ibu juga bingung. Padahal ibu sudah bilang nggak papa, kuliah bisa di undur, cari ilmu bisa di manapun tapi setiap orang punya prinsip hidup masing-masing, standar Putri menuntun buat kuliah cepat" Ibunya hanya mengantar sampai batas pintu
"Pelan aja ya ngomongnya" Ucap ibunya khawatir. Farhan mengangguk kecil. "Iya Bu"
Farhan perlahan membuka knop pintu, mendapati istrinya tidur dengan selimut yang menutupi seluruh tubuhnya. Farhan melangkah mendekat, duduk di sisi tempat tidurnya "Putri.." Farhan memanggil istrinya, menepuk lengannya yang tersembunyi dalam selimut. "Aku kangen" Rengek Farhan manja, namun tangannya di tepis karena Putri memilih untuk memeluk guling. Matanya masih senantiasa terpejam
"Sana pulang saja, Putri masih mau di sini" Ucap Putri tanpa melihat suaminya sama sekali. Ia sadar ini bukan kesalahannya namun tetap saja, melihatnya membuatnya merasa kesal
Kabar kehamilannya, ia baru tahu dua hari yang lalu saat tiba-tiba merasa mual. Hal yang membuatnya kesal karena tidak ada yang bisa di salahkan. Kebodohannya yang salah menghitung masa kesuburannya
"Aku ke sini buat ketemu putri lho"
Tidak ada balasan, Farhan menarik tangan istrinya, membuat wajah istrinya terlihat jelas, Farhan memberikan senyum terbaiknya saat putri membuka matanya namun tatapan tajam yang di berikan istrinya membuatnya lemah
"Putri nggak mau pulang" Desisnya kuat, Farhan tersentak mendengarnya, namun di satu sisi ia juga tak bisa menyalakan istrinya
"Iya nggak papa kalau masih mau di sini" Farhan tersenyum tipis, ia harus meluluhkan istrinya dan membawanya pulang
"Putri sehat?"
"Kenapa? Mau bilang kalau Putri waras?"
Deg!!
"Kenapa harus semarah ini? Putt, manusia bisa merencanakan tapi kenapa-" Farhan menghela nafas berat, ia merasa sedih dengan istrinya yang kini begitu sensitif. Ia hanya menanyakan kabar
"Sehat" Jawab Putri akhirnya. Farhan memejamkan mata kuat. Hatinya sakit, sikap manis yang biasa di tunjukkan, sama sekali tak terlihat, senyumnya pun tak terukir di bibirnya sama sekali. Farhan tak lagi bicara, atau ucapannya akan kembali di salah artikan.
####Bersambung
__ADS_1