
JKA. Aku Gak Marah
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Sudah lama rasanya tak bertegur sama dengan teman-temannya. Kali ini mereka menyempatkan untuk bervideo Call namun keadaan sudah tak lagi sama, belum sebulan mereka berpisah namun kecanggungan sudah begitu terasa.
"Gimana persiapan ujiannya"
Pertanyaan yang biasa di ucapkanpun kini terasa menjengkelkan. Mereka sama-sama telah lelah dalam belajar, Videocall terasa begitu canggung namun beruntung grub mereka masih terang dan ramai.
Tiba-tiba suara Iffah menginterupsi, memberi kabar yang tak terduga. "Gaes, keknya aku bakal merit dalam waktu dekat ini" Sontak telinganya heboh tak terkira.
Vania, Putri, dan Nisa sama terkejutnya. Senang dengarnya namun ada kesedihan yang terasa. "Aku seneng bangat dengarnya, tapi kenapa sedih juga ya, dua teman udah merit mau ganggu takut" Ucap Vania yang mewakili perasaan lainnya.
Perasaan kalut yang dirasakan, memang ketakutan hubungannya yang kian redup. "Santai kok, Putri aja uang udah merit gak ada bedanya" Jawab Iffah.
__ADS_1
"Sama orang mana Fah?"
"Wah, gimana kenalannya?"
"Kapan?"
"Cowoknya cakep gak?"
"Umur berapa calonnya?"
"Apa aku kudu jadi kalem ya? Jadi cepat dapat jodoh?"
"Aku juga mau nikah ah! Tapi gak mau punya anak dulu" Ucap Vania tiba-tiba terkekeh, Putri dengan senang hati menyahut. "Aku juga sama dengan A Farhan gitu, kan bisa ngitung di kalender"
"WTF! Bilaa!" Pekik Vania histeris mendengar ucapan polos temannya .
__ADS_1
"Jadi udah pernah?!" Tanyanya lagi masih dengan kehisterisan yang membuat putri kelabakan. Ia sadar titik lengahnya. "Selamat ya Iffah" Seru Putri mengalihkan perhatiannya.
"Aku iri, aku juga pengen nikah ah" Kini suara Nisa yang berkoar membuat Putri tertawa senang. Canggung itu hilang setelah pembahasan yang cukup membuatnya gerah.
"Udah ya, nanti kutelpon lagi, selamat untuk kalian semua" Putri menyemangati temannya saat Farhan sudah ada di depan pintu. "Aku datang langsung di matiin , ayo siapa?" Tanya Farhan berpura-pura penasaran.
Temanku ada yang mau nikah A, Yey ga sendiri lagi" Kilah Putri tersenyum senang. Ia tak menyangka Iffah benar-benar akan menyusul dirinya. "Aa beli makanan dimana? kok lama?"
"Ah iya, tadi mampir dulu ke rumah teman" Ucap Farhan. Farhan mengganti pakaiannya. "Aa ngerokok lagi ya?" Tanya Putri saat Farhan secara refleks mengeluarkan sebungkus rokok dan korek apinya dari saku bajunya .
"Eh Putri.. Aku"
Farhan kelabakan tak bisa menjawab, Putri hanya menepiskan senyumnya tanpa menjawab. "Aku turun dulu A" Putri melangkahkan kakinya menuruni anak tangga. Meninggalkan Farhan yang terdiam menatap punggung istrinya. "Bodoh kamu Farhan!" Runtuknya kesal. Farhan tak bisa langsung mengejarnya karena istrinya pasti tak menyukai bau rokok yang menempel di bajunya .
Pikirannya memang tengah kalut. Ia membersihkan diri dengan cepat dan menyusul istrinya yang kini tengah memainkan game di hpnya. Farhan berjalan dengan canggung , kepalanya bahkan di garuk berkali-kali meski ia sama sekali tak merasa gatal. "Putri marah ya?" Tanya Farhan membuat istrinya sontak mendongak terkekeh melihat raut cemas pria di depannya.
__ADS_1
"Jangan marah bagimu surga, mana boleh aku marah sama Aa, surga Putri ada di Aa" Senyumnya begitu walaupun sorot matanya dengan jujur mengatakan jika kecewa. Malu! itu yang dirasakan Farhan saat ini, namun memperpanjang masalah juga tak akan membaik "Selama Putri di pesantren, Aa belajar memasak" Farhan melangkah pelan menghampiri istrinya. Ada perasaan khawatir didalam dirinya ..
Sampai disini dulu Gaes.. Jangan lupa vote teman-teman 🤗🤗🤗