
JKA. Makan malam bersama
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Dekapan itu cukup erat, Putri membagikan seluruh kebahagiaannya kepada suaminya. Sampai sebuah deheman menyandarkan jika Farhan tak pulang seorang diri.
"Selamat yah" Ucap ibu mertuanya, membuat Putri terkejut, ia membekap mulutnya sendiri yang menganga, matanya mendelik layaknya mau keluar. Mertuanya ada disini.
"Kok Aa gak bilang?" Tanya Putri malu
"Kenapa? Orang tuaku kan orang tua Putri juga?" Farhan mengelus rambut istrinya .
Gerbang rumahnya dipasang cukup tinggi, sehingga tak akan terlihat dari luar. "Maaf ya Abi, Umi, Putri gak tahu bakal datang kesini" Putri menyalami keduanya.
Rambut panjangnya dibiarkan terurai. Canggung yang Putri rasakan. Pria didepan yang kini menjadi ayah mertuanya adalah guru agamanya di pesantren.
"Silakan Umi, Abi masuk dulu" Tangan Putri tak berhenti menarik tangan suaminya, menahan kesal sampai kedua orangtuanya masuk. Putri menatap tajam suaminya.
"Putri malu gak pake kerudung Aa"
"Kan udah jadi mahram, gak papa"
"Tapikan tetap aja"
"Iya sayang, Aa salah maaf yah?" Surai rambutnya dibelai dengan lembut membuat Putri terdiam takluk, ia lemah jika sudah diperlakukan semanis ini oleh suaminya.
"Aa temani Abi dan Umi dulu, Putri ambil kerudung dulu"
"Iya, nitip tas yah" Kerling Farhan memberikan tas beratnya, Putri tak bisa mengelak, lagipula bukan hal berat yang membuat ia harus sampai menolak
"Nak Putri mana?" Tanya Uminya yang membuat Farhan mengulum senyum.
"Diatas, malu sama Abi guru agamanya" Kekeh Farhan. "Abi juga kaget sih, gimanapun juga putri sudah menjadi murid Abi selama 3 tahun"
__ADS_1
Farhan mengangguk paham, ia sedikit menyesali kelambatan dirinya."Umi tadi ke dapur, kayaknya kita disini cuma ganggu deh" Ucapnya membuat Farhan tak bisa menghilangkan rasa penasarannya.
"Gimana ya sayang" Senyumnya melengkung lebar melihat meja makan ditata dengan sangat rapi, masakannya bahkan di plating, entah siapa yang mengajarinya.
"Putri gak tahu bakal kesini jadi tidak masak banyak" Ucap Putri yang kini sudah mengganti pakaiannya. "Umi bawa bingkisan nih" Tunjuk Uminya, Putri tersenyum cerah.
"Putri bantu Mi" Ucap Putri mengambil alih jinjingannya dan membawanya.
"Aku ganti baju dulu ya" Ucap Farhan bergegas masuk ke meninggalkan Putri dengan segala kecanggungan.
"Abi dan Umi ganggu ya? Kayanya mau ada acara"
"Ga bi, cuma lagi senang aja, jadi masak berbagai jenis masakan walaupun porsinya sedikit" Kekeh putri. Makan sore romantisnya harus di blacklist.
"Kok Abi dan Umi tahu kalau Putri lulus? Di kabarin sekolah ya?" Tanya Putri yang dibalas gelengan tegas, sekolah belum menginformasikan apapun.
"Engga kok, emang mau mampir, bawa makanan juga sengaja, kalau lulus syukuran kalau gagal anggap saja menghibur" Sangkal uminya gak tahu. Putri mengerucutkan bibirnya tak puas dengan jawaban yang di terimanya.
"Jadi langsung makan-makan nih?" Tanya Farhan kembali dengan pakaian santainya. "Ah, iya makan dulu keburu dingin, eh palingan juga udah dingin" Putri tersenyum tipis, menyadari ucapannya yang terdengar begitu plin plan .
"Putri juga udah kasih tahu teman putri, mereka juga ikut senang dengarnya"
Suka bercerita memang sifat Putri yang sebenarnya dengan pembawaan yang ceria membuat semua mata memandangnya dengan lucu.
"Jadi sekarang udah istirahat pegang buku" Senyumnya mereka membayangkan beragam soal pelajaran yang sudah membuatnya pusing.
"Lucu bangat ya menantu umi"
Meja makan itu penuh dengan makanan yang putri masak, juga roti tart yang di beli suaminya untuknya. Ucapan selamat hanya pembukaan karena pembicaraan kini mengarah pada urusan yayasan yang tengah direncanakan oleh ayah mertuanya dan suaminya.
"Kalau gitu kami pamit ya, pengen lama-lama tapi takut ganggu" Ledek Abi pamit setelah pembicaraan lama. Putri menghela nafas lega saat mobil Abinya keluar dari gerbang.
"Kenapa? Senang bangat niat mobil Abi keluar dari rumah"
__ADS_1
"Aa mah gitu, bukan begitu, Putri masih kaget tahu, gak nyangka jika Abi dan Umi bakal datang, padahal putri cukup terkejut mendengar kelulusan putri"
"Selamat ya" Farhan kembali mengucapkan selamat, sentuhan bibirnya menyapu puncak kepala istrinya.
Bangga dengan pencapaian istrinya.
"Putri pasti pengen ketemu sama ayah dan ibu di rumah ya?" Tanya Farhan tiba-tiba setelah mengunci pintu. Keduanya kini tengah di balkon menikmati sejuknya malam dengan gemerlap bintang yang biasanya sangat jarang muncul. Cangkirnya berisi penuh coklat panas sebagai menemang malam.
"Kangen, tapi Aa sibuk jadi gapapa kok , masih bisa Videocall ini sekarang sudah canggih" Putri tak rela jika suaminya kelelahan dan kerepotan karenanya. Farhan mengangguk. Istrinya memang sangat pengertian dan perhatian kepadanya. "Tapi kalau udah kuliah bakal susah nantinya" Tambah Farhan membuat istrinya memberengut kesal.
Merindukan orang tuanya hingga menitipkan air matanya, ia diam-diam sering menangis karena ingin bertemu orang tuanya dan mendengar suaminya berkata seperti itu membuat matanya berkaca tanpa diminta .
"Jadi Abi nyaranin ke Aa, Putri nanti bisa pulang kok sebulan sekali atau dua kali nanti bisa nginap disana beberapa hari gitu, gimana?" Farhan meminta pendapat. "Wah Boleh aku mau" Jawab Putri antusias. Putri juga sudah merindukan keponakannya, sepupu kecilnya yang berkumpul di rumah setiap kali dia datang. "Tapi nantinya, nunggu Minggu depan mungkin?" Putri mengangguk setuju. Ia ingin pulang. Jiwanya masih sebagian di rumah. Liburan di rumah ia sudah membayangkan bagaimana kedatangannya di sambut keponakan manisnya.
"Aku tadi minta maaf sama Abi" Ujar Farhan tiba-tiba, Putri menoleh cepat. Matanya membelalak lebar. "Abi abis bikin salah apa sama Abi? Aa dimarahin Abi Yah? Nakal?" Tanyanya dengan nada khawatir matanya mengerjap " Aa tidak salah apa-apa kok, cuma minta maaf sama prasangka aku ke Abi yang tidak pernah baik" Farhan menaham senyum, ia merasa malu mengakuinya, namun reaksi Putri bertepuk tangan merasa bangga. "Aa hebat" Jari jempolnya mengacung.
"Kok Alay sih" Farhan malu.mendengar pujian begitu riang.
"Udah malam tidur yuk" Ajak Farhan, Putri meneguk habis coklat yang tidak lagi panas. "Aku cuci gelasnya dulu A"
"Cuci di kamar mandi aja , besok dibawah turun" Ucap Farhan yang dibalas anggukkan oleh Putri. Turun ke dapur seorang diri, ia tak seberani itu .
"Nanti beli oleh-oleh di rumah boleh A?" Tanya Putri menyamankan tidurnya di pelukan suaminya. Matanya terpejam siap untuk tidur. "Bolehlah, emang Putri mau bawa apa? Biasanya pulang dari pondok bawa apa?" Tanya Farhan membuat Putri terdiam lama.
"Pikir besok lagi aja, Ngantuk" Kekeh Putri tak enak melihat raut lelah suaminya.
"Mimpi indah Sayang"
-
-
-
__ADS_1
Sampai disini dulu ya, jangan lupa like dan votenya makasih