
JKA. SAMPAI JUMPA
--------------------------------------------
Farhan terus memandangi istrinya yang tengah berkemas, tak sedikitpun ia tak berniat untuk membantu istrinya. Kopernya terbuka lebar, dan terisi penuh padahal saat datang istrinya tak banyak membawa barang "Masih banyak ya yang mau di bawa?" Tanya Farhan saat Putri tak hentinya memasukkan barang
"Udah kok udah" Putri menutup kopernya dengan paksa hingga kopernya menggembung "Lemari Aa masih muat kan buat nampung pakaian Putri"
"Kayaknya nggak deh"
,"Yach.." Putri menarik kopernya. "Harus Putri kurangin nih?" Di pojokan kopernya di sisi pintu. "Putri males bongkarnya lagi" Tambahnya lagi yang kini menghampiri suaminya, duduk di sisinya. Tangannya sibuk dengan game di tangannya, kakinya bahkan di selonjorkan di balik selimut
"Main game aja terus" Gerutu Putri tiba-tiba, ia merasa terkacangi keberadaannya. Tuk! Farhan menjatuhkan kepalanya di bahu istrinya. "Dikit lagi menang" Jawab Farhan santai, bahu wanitanya memang sangatlah nyaman
__ADS_1
Kedua jempolnya terus bergerak, membidik lawan, bersembunyi dalam semak dengan grill-nya. "Chicken!" Soraknya senang. Putri hanya menggelengkan kepalanya, suaminya
"Aku hebatkan" pamer Farhan menunjukkan dirinya. "Iya, dah, ga ada lawan" jawab Putri dengan senyum manisnya. "Setelah sekian lama, akhirnya tidur ada yang nemenin lagi" Farhan memeluk erat istrinya. "Ga berdua lagi, tapi bertiga" Tangannya mengelus perut istrinya gemes "Emang serius tanyanya A, Emang sesenang itu? Maksud Putri, Emang Aa udah siap jadi ayah?"
"Di panggil ayah sweet" Farhan kian melayang mendengar kata ayah dari lisan istrinya. Putri hanya speechless mendengar jawaban suaminya. Tingkahnya bahkan kini begitu malu-malu
"Kenapa nggak? Putri mau di panggil apa? Bunda, Ibu, Mama, Umi?" Goda Farhan mencondongkan tubuhnya, kedua tangannya menyentuh pundak istrinya, membuat keduanya saling berhadapan
"Bagusnya apa?" Putri balik bertanya. "Kalau Ibu, jangan! Putri manggil Ibu, ibu" Tolak Putri cepat. "Bunda games banget sih" Cubit Farhan kencang pada kedua pipi tembem istrinya. "Sakit" Tepis Putri namun gagal, tangannya dengan pasti memberikan cubitan kecil pada lengan suaminya. Kukunya sedikit panjang, mampu membuat suaminya memekik kesakitan
"Iya, ketemu temen-temen lagi, Putri nggak sabar" Perpisahan akan menjadi momen yang mengharukan, sudah terbayang bagaimana senang dan sedih yang akan tercipta nantinya. Bahagia karena pertemuan dan tangis berurai karena perpisahan"
"Se-excted itukan?"
__ADS_1
"Emang, Aa nggak"
"Biasa aja, apa yang wow emang?" Tanya Farhan yang membuat Putri menggeleng kaget. "Teman Aa masih pada satu kota, cuman emang nggak pada Deket" Tambah Farhan cepat tak ingin di nilai tak punya hati.
Tok... tok... tok...
Ketukan pintu membuyarkan keduanya. Satu loncatan Farhan berlari membukakan pintu. "Ayo makan, masakannya udah selesai" Farhan membeku mendengarnya. "Ibu masak? Kenapa nggak kabarin Farhan? Farhan bisa bantu lho" Farhan cengingisan, tak enak hati. Ia malah bersantai di kamar sementara ibu mertuanya memasak.
"Ibu nggak percaya sama tangan cowok kalau di dapur, langsung turun aja ya, kuburu dingin, di sini emang kalau makan malam, sore" Putri menyusul suaminya. "Makan ya Bu?" Manik matanya berbinar "Iya, Ibu masak, di panggil dari bawah ga ada yang nyaut" Dumal Ibunya "Maaf ya Bu" Jawab Farhan kikuk, keduanya memang sibuk cubik-cubitan
"Ibu sudah siap-siap? Farhan udah rapihin kamar khusus ayah dan ibu" Ucap Farhan "Bawa tas satu sudah cukup" Ibu mertuanya memang sudah simpel dan sedikit kolot
Makan malam cukup ceria, Pembawaan Farhan yang tak mau diam jika suasana hatinya sedang baik mendominasi tawa hari ini.
__ADS_1
####Bersambung