
JKA. Teman A Farhan Part 2
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Tepat pukul delapan malam , dari dua orang yang berencana datang justru berubah, teman futsalnya juga datang . Dengan total 6 orang beserta dirinya , tentu saja Farhan mendelik melihatnya. "*Ngapain ajak yang lain?"
"Punya Grub chat itu dibaca*!" Ledek Andri yang kini dengan senang hati duduk di ruang tamu . "*Hp gak lagi di pegang"
"Wah! Bahaya* !!" Pekik Bagas yang membuat Farhan melotot . "Ngirim apa kalian ? Ah Sial!" Farhan bergegas di kamarnya , mendapati Putri tengah memainkan ponselnya . "Teman-teman Aa sudah datang?" Tanya Putri yang dibalas anggukan oleh Farhan .
"Bikin kopinya sekarang?" Tanya Putri yang dibalas gelengan. "Entar saja kalau pada main Pe-es".
"Dari tadi putri ngapain di kamar?" Farhan gugup ia tahu kelakuan temannya yang cukup mengkhawatirkan. "Main game" Putri menunjukkan layar ponselnya yang sedang loading untuk ke babak selanjutnya ."Ku pinjam dulu boleh?" Farhan meremas tangannya , ia cukup ragu untuk meminta ponselnya sendiri .
"*Kenapa harus pinjem kan punya Aa" Putri tanpa ragu memberikan ponselnya . Ia mengikat rambut panjangnya dan mengenakan kerudungnya "Bibir Putri pusat gak?" Tanya Putri mematut dirinya pada cermin , ia bermaksud meminta ijin memoleakan Liptint ke bibirnya .
"Nggak kusem kok tapi kalau mau dandan Aa gak larang kok" Ujarnya mulai sibuk membuka isi chatnya. "Mereka menakutkan" Gumam Farhan membelalakkan matanya melihat stiker-stiker yang dikirim . Stiker yang bisa dinodai fikiran polos.
"Ayo A" Ajak Putri . Farhan menyimpan ponsel dalam sakunya . Keduanya menuruni tangga dengan Farhan yang menyalipkan jemarinya bertaut mengandeng istrinya .
"Banyakan ya A" Tanya Putri saat mendengar banyak suara yang saling bersautan Farhan mengiakan . "*Teman Aa banyak soalnya"
"Sapa dulu atau langsung buat minum?"
"Buat minum aja, biar Aa bantuin"
Keduanya kini berkutat di dapur menyiapkan cemilan yang tadi siang dibelinya dan enam gelas kopi . "Kok banyak banget , kirain satu atau dua orang , Putri jadi gugup sendiri"
"Teman Aa pada rusuh , penasaran sama Putri , Ga di kasih ijin tetap aja ngotot mau kesini*" Ujar Farhan yang dibalas anggukan. "Pantas Grub chatnya rame banget" Ujar Putri , ponselnya terus bergetar saat ia memainkan game .
"Putri.. baca?" Tanya Farhan waspada "Nggak kan itu privasi Aa mana boleh Putri baca" Jawab putri Farhan tersenyum lega mendengar itu, Farhan Dhiaurrahman , hanya pria biasa yang lahir dari seorang ustad ternama , selebihnya ia hanya anak laki-laki biasa seperti umumnya .
__ADS_1
Temannya pun orang biasa yang cenderung nakal , yang sering membuat orang tuanya khawatir dengan pergaulannya .
"Aku aja yang bawa minum , berat" Farhan mengambil nampan berisi minuman sedangkan Putri membawa nampan berisi tiga toples cemilan.
Putri berjalan satu langkah lebih mundur dari Farhan, malu. Sorak sorak keriuhan terus terdengar , mereka meledeki Farhan sebagai orang pertama yang sudah menikah selain kelima temannya .
"Jadi ini yang namanya, Siapa ya?" Tanya seorang pria yang rambut kuncil kebelakang .
"Putri Salsabila" Jawab Putri menunduk sopan , Putri menata makanannya dimeja setelah membukakan tutup di toplesnya.
"Putri langsung ke kamar aja, mereka rese" Bisik Farhan di telinga kanannya membuat di depannya kembali bersorak , Ia memiliki kekhawatiran yang tinggi terhadap lisan temannya yang tak bisa di kontrol.
"Kalau gitu Putri pamit dulu" Ujar putri berbalik , Jantungnya berdegup melihat ke lima temannya yang bahkan dihindari kontak matanya atau akan membuatnya semakin gugup .
Setengah berlari putri menuju kamarnya , ia tidak canggung dengan lelaki jika itu satu atau dua orang , tapi lima irang ia tak sanggup untuk mendongak ."Kirain teman A Farhan , tidak beda jauh sama Aa" Gumam Putri sampai di kamarnya , walaupun tak boleh menilai seseorang dari cover , namun tetap saja cover menjadi hal pertama yang dilihatnya .
Sementara di ruang tamu kembali riuh selepas kepergian putri pergi ke kamarnya . "Gila! Ya bening banget cewe lu "
"Delapan belas tahun, muda banget beruntung lho"
"Mau deh gue di jodohkan kalau dapatnya kayak gitu"
"Servisnya gimana bro"
"Hei!" Tangannya Farhan tak segan memukul tangan temannya ."Gila!! Kalau didengar gimana!" Mendelik Farhan membuat temannya terkekeh puas melihat raut wajah Farhan yang memerah. Farhan mengacak rambutnya frustasi . Ia khawatir jika istrinya mendengarnya . Teman-temannya sudah tergelak tanpa bisa di cegah .
"Sudahlah , kesini buat mau PS kan ?"
"Buat liat cewek lu"
Farhan menghela nafasnya berat, mengabaikan jawaban gila dari temannya . membiarkan teman-temannya bermain seenaknya di rumah miliknya . Ia membiarkan teman-temannya memasang game dan bermain.
__ADS_1
"Tapi lu, beruntung" Ucap Elang tiba-tiba , Elang duduk disamping Farhan dengan rokok yang tersulut menyelip di jemarinya .
"Kenapa emang?" Farhan juga ikut menyelip rokoknya, menyesapnya pelan dan menghembuskan bersamaan asap , mereka bilang benda itu bisa mengurangi tekanan stress . Entah sugesti yang tercipta namun ucapan itu nampak benar ..
"Mendapatkan yang lebih mudah dan polos seperti istrimu , kamu hanya perlu mengaturnya sedemikian rupa, Membuat yang awalnya bukan tipemu menjadi tipemu" Ujar Elang merasa iri. Walaupun ini kali pertamanya melihat istri temannya, sikap malu-malu yang ia tunjukkan mengatakan segalanya .
Sifat Putri terbaca dengan mudahnya. " Sifat dan kepribadiannya juga bagus , tapi tetap saja berpura-pura juga bukan hal yang mudah" Farhan menatap langit-langit rumahnya . Putaran klise saat orang tuanya memaksa dirinya untuk melakukan semua yang diinginkan orang tuanya .
"Hidup lu juga gak ada penyesalan kan?" Tanya Elang yang dibalas anggukan , kehidupan Farhan tampak lebih indah saat di dengar , namun untuk dirinya sendiri , selalu ada tekanan yang dirasakan olehnya .
"Ga ada penyesalan, lagian dari awal hidup ini sudah ditentuin alurnya, apa yang kudu di sesali" Jawab Farhan setengah hati .kembali di sesap benda yang terselip di jemarinya .
Farhan Dhiaurrahman , adalah lelaki biasa yang lahir di lingkungan nyantri , orang tuanya yang terpandang dan diri yang harus terus menjaga martabat orang tuanya . Jiwa bebasnya selalu merasa merontak beradu dengan jiwa yang hidup besar bersamanya .
"Mereka enak bisa nakal"
"Alhamdulillah aku terjaga dengan kenakalan"
Tapi aku penasaran bagaimana menjadi mereka"
"Tapi banyak dari mereka yang iri dengan kehidupanku"
Kedua perasaan itu terus beradu . Membuat peran batin dari dirinya sendiri ...
-
-
-
Pasti ada diantara kalian yang memiliki perasaan atau pemikiran seperti Farhan ,,,
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak 😊😊😊