
Sunyi, hanya pelukan yang kian mengerat di terima oleh tubuh mungil Putri , Ia tak memahami sebab yang membuat sang suami memeluknya kian erat.
"Aa kenapa sih?" Tanya Putri mencoba melepas pelukannya , ia butuh alasan yang menjelaskan tindakan suaminya. Namun Farhan tak mengijinkannya untuk melepas. "Sebentar saja" Gumamnya kecil, Putri pasrah dia juga tak punya tenaga untuk melepaskannya , ia hanya menatap punggungnya yang terlihat begitu lemah .
"Ya sudah peluk aja terus gak papa, sampai kaki Putri juga kesemutan juga gak papa "
Mendengar itu Farhan langsung melepaskan pelukannya ."Kesemutan Ya?" Tanya Farhan mengecek kaki istrinya . Putri tak kuasa menahan tawanya . Tawanya lepas ketika melihat raut khawatir suaminya .
"Enggak, Aa mah lagian gak mau banget lepas , padahal Putri juga gak akan kemana-mana" Tanya putri menyamakan duduknya di samping suaminya . Farhan duduk menyamping menatap istrinya.
"Jadi Ada apa? Teman Aa pada nakal ya? Tadi juga masuk kamar rautnya kusut amat?"
"Putri merhatiin?"
"Keliatan jelas! Aa juga jangan jangan meremehin Putri, Putri sadar kok usia putri jauh lebih muda dari Aa , tapi bukan berarti Putri bodoh dan Aa tahu segalanya" Tambah Putri lagi membuat Farhan tersenyum lebar. Istrinya begitu banyak bicara .
"Tapi tadi Aa cuman capek doang, gak ada masalah, takut putri gak nyaman sama teman-teman Aa"
"Selain itu teman-teman Aa emang rada sangar, tapi gimana pun putri gak punya hak buat nilai orang dari cover, pasti ada alasan Aa nyaman dan bisa berteman sama mereka" Bukan mencoba menjadi bijak, tapi Putri memang memiliki cara pandang yang luas. Walaupun pandangannya sering keliru dalam menilai.
"Mereka yang ngajarin Aa merokok"
"Ya wajar aja , ga ada larangan tegas untuk merokok jadi wajar, tapi Putri pribadi gak suka, Putri.. putri punya riwayat asma A, memang gak akut tapi bukannya itu sudah cukup alasan buat Putri gak suka asap berlebih ?" Tanya putri membuat Farhan terkejut , matanya terbuka lebar, Putri jadi salah tingkah . "Pasti banyak yang terlewat di CV ya? Putri ga punya kepercayaan diri buat bilang, Aa kecewa?"
Khawatir yang dirasakan putri saat ini , Riwayat penyakit tentu saja hal penting , hanya saja ia merasa sudah sembuh. "Aa merasa bersalah" Jawab Aa akhirnya ." Putri ngerasa gak perlu nulis di CV karena putri gak mau terlihat lemah. Makanya putri cuma menulis gak suka perokok" Bibirnya digigit pelan, kebiasaan saat terlihat ragu dengan keputusannya . Bukan hal yang mudah menjadi jujur.
"Impas ya" Celetuk Farhan membuat putri mendelik tajam . "Apanya yang impas!" Putri mendelik kesal mendengar ucapannya . "Terus Aa mau ngerokok terus dan menyisak Putri eum?!" Suara Putri meninggi tanpa sadar . Farhan menarik sudut bibirnya melihat emosi Putri yang menarik di matanya .
"Putri udah berani marah-marah ya" Sahut Farhan singkat, Putri langsung menutup mulutnya dengan satu tangannya. Tak langsung meminta maaf. "Aa ngeselin sih, mau di kurangi apa mau berhenti?" Putri memberi dua opsi.
"Mau di kurangi"
"Kenapa gak berhenti saja sih" Dumal Putri mengambil minumannya menyesap coklatnya cepat , coklatnya sudah tak lagi panas .
"Ya sudah aku berhenti" Ralat Farhan namun Putri memilih mengabaikannya.
"Aku bilang berhenti lho" Farhan kesal , jawabannya tak di respon oleh istrinya.
"Beneran atau bohongan? gak boleh janji lho , takutnya nanti Aa gak menepati" Khawatir . Tentu saja putri mengkhawatirkan itu .
__ADS_1
"Biasanya Aa dipukul Abi kalau habis main sama teman?
"Kenapa? emang main apa?"
"Merokok, balap liar , taruhan, kadang juga-.."
"Bahaya tahu!" Galak Putri menatap tajam suaminya . "Pernah jatuh?" Tanya Putri khawatir Farhan hanya mengangguk kecil.
"Aa dimarahin karena ketahuan tiba-tiba di rumah sakit ada luka panjang di kaki karena kecelakaan itu"
"Bukan kecelakaan tapi kesengajaan" Geram Putri mendengarnya. "Liat" Seru Putri membuat Farhan mengangkat satu kakinya ."Padahal kan aku sering pake celana pendek , kenapa harus sekaget itu" Keluh Farhan menunjukkan bekas lukanya. Lukanya lebih putih dari kulit aslinya .
"Sakit?"
"Udah nggak"
""Abi mukul Aa ya pantes , pasti khawatir bangat , untung Aa masih di kasih hidup" Putri menyentuh pelan lukanya . Mengikuti garis lurus yang panjang ." Aa kan dulu di pesantren, bagaimana bisa?"
"Liburan habis ujian kelulusan, Gimana anak muda suka bangat balap motor, lemah aja rasanya kalau gak ikut" Farhan beralasan membuat putri berdecih kesal mendengarnya . Bukan hal itu yang ingin dia dengar .
"Anak muda di komplek ku gak gitu, sukanya pengajian" Kekeh putri menunjukkan senyum manisnya . Anak kompleks yang dimaksud anak-anak yang rajin datang di TPA sore.
"Di pukul apa di sambit sih? Masa dipukul di punggung? Di dorong kali"
"Ada lukanya kalau mau liat, Abi terlalu keras didik aku berada di kurung dan pengen memberontak" Farhan menghela nafas panjang , memalukan sekali menceritakan hal memalukan di depan istri .
"Ngapain aku cerita gak jelas sih" Farhan tunduk membuang muka.
"Pokoknya gak boleh marah atau kesel lagi sama Abi lagi "Putri mengelus rambut suaminya . "Jadi anak penurut gak ada salahnya kok , selagi Abi masih bimbing ke jalan yang baik"
Farhan tersenyum gemes , Putri menyentuh dada bidang suaminya , tepat di jantungnya , ia juga berdebar namun saat ini ia melepas belenggu suaminya yang mengikat dan membawanya ke dalam fase kebimbangan.
"Qalb, Berdamailah , A Farhan mau jadi orang baik, Jangan ganggu A Farhan lagi, A Farhan juga sayang sama Abi , Jangan ingetin A Farhan sama hal-hal yang sakit hati" Ucap Putri sambil mengelus pelan . Farhan terkekeh kecil melihat istrinya .
"Kamu ngapain sih Put?"
"Biar Damai A"
"Udah damai kok"
__ADS_1
"Mission completed !" Tersenyum lebar Putri, senyumannya menular karena A Farhan yang di depannya ikut tersenyum bersama .
"Makasih ya, Gak nyesal Aa ngikutin mau Abi"
"Abi yang mau? bukan Aa , Putri marah nih!"
"Iya, Abi yang maksa Aa buat nikah, kalau gak nikah nanti diusir dari rumah"
"Kenapa?"
"Lain kali ya, udah malam" Farhan menunjuk jam dindingnya , ia gak bisa bercerita lebih banyak hari ini. "Ya, udah habisin dulu minumnya , biar Putri yang cuci gelasnya sekalian" Putri meraih gelasnya dan menyeruput habis.
Tangannya menyodor untuk mencuci gelas suaminya. "Makasih ya" Ucap Farhan sembari memberikan gelasnya yang sudah kosong .
Farhan menunggu istrinya yang mencuci gelas "Udah?" tanya Farhan saat istrinya kembali . Farhan menghampiri istrinya dan menggenggam tangan istrinya .
Menaiki tangga bersama .Ceklek! Farhan berhenti di depan pintu . membuat langkah Putri ikut berhenti . "Kok berhenti?" Tanya Putri mengerutkan keningnya , jemarinya masih saling bertaut
"Putri.." Panggil Farhan lirih.
"A..apa boleh , A..aku minta hak sebagai suami malam ini "
Deg! Mata Putri berkedip berkali-kali memastikan pendengarannya . "A..aku gak maksa kalau Putri keberatan " . Putri . Masih mencerna ucapan suaminya . "Ah, aku minta maaf" , Farhan mengacak rambutnya frustasi , merasa bersalah, terlebih Putri masih sekolah .
"Putri .. putri mandi dulu kalau begitu"
Deg! Putri sedikit berlari menuju kamar mandi, meninggalkan Farhan yang speechless dengan jawaban istrinya.
-
-
-
Gimana suka gak ..
Jangan lupa tinggalkan jejak dan baca juga karya author yang lain
__ADS_1