
JKA . Wangi Tubuh
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Hari pertama ujian , suasana pesantren pagi ini begitu teduh . Aula pada sepertiga malam ini , lebih ramai dari biasanya . Bacaan surah juga terlantun indah nan lirih beberapa santri sembari menunggu azan Subuh tiba belum lagi jumlah santri yang kini sahur di tempat makan Asrama juga meningkat , beruntung ibu dapur juga mau di repotkan untuk menyiapkan sahur pagi hari ini .
Putri dan Iffah juga tak pernah absen sebagai penghuni aula di sepertiga malam ini, "Put, nitip ya?" Ucap Iffah tiba-tiba membuat Putri menoleh sembari berkata "*Mau kemana?"
"Batal hehe*" Iffah tertawa kecil malu mengakuinya.
"Pantasen ada yang Baubau gitu" Ledek Putri membuat Iffah cemberut kecil . temannya memang sangat menggemaskan.
Putri kembali pada bacaannya . Kantuk yang di mendera juga di hiraukan , ia menikmati malam ini . " Ya Allah beri Putri kemudahan dalam ujian" Doanya . Ia sedikit tidak fokus .
Selama ujian pula , A Farhan suaminya tak pernah menjenguknya , namun libur panjang akan menyapanya . Memikirkan itu putri tak bisa menyembunyikan senyumnya . Ia merindukan suaminya .
****
"Kerjakan dengan tenang dan jangan gaduh" Ucap pengawas yang kini memperhatikan ke depan . Semua santri fokus dengan pena dan kertas yang di bacanya . Mata pelajaran bahasa Indonesia selalu jadi pembukaan ujian .
"Ceritanya panjang banget" Gumam Putri mengantuk , ia menampar kedua pipinya berkali-kali . Dibacanya soal dan di garis bawahi inti pertanyaan , ia kembali membaca ceritanya .
"Oke bagus!"
Tiga puluh soal dengan waktu sembilan puluh menit menjadi teman setia santri Arrahman Ummah selama seminggu ini . Buku yang tak pernah lepas dari genggaman para santri yang lalu lalang .
"Hari ini terakhir!" Semangat santri lain membuat orang lain juga kesenangan . Ujian selalu menyenangkan .
Putri kini mulai di sibukkan dengan pena dan kertasnya . Ujian terakhir , satu pelajaran . Ini akan mudah karena fokus belajarnya tak terbagi . "Ayo kerjakan dan liburan!" Gumam Putri bersemangat . Pelajaran kali ini mudah . Baru tiga puluh menit saja sudah hampir kosong . Terlalu bersemangat .
"Ayo beli jajan" Ajak Vania yang sudah mengusul Putri yang keluar lebih awal . "Tunggu Iffah" Jawab putri membuat Vania mengangguk . Iffah memang sedikit lebih lama mengerjakannya , karena ia cenderung orang yang teliti .
Sepuluh menit lamanya, Iffah akhirnya keluar . Menyusahkan sepuluh orang di dalam kelas . "Ayo , maaf ya lama , tadi bingung banget mau pilih A atau B , Jawaban nomor lima apa?" Tanya Iffah dengan raut gugupnya . Vania langsung menyilamkan tangannya .
__ADS_1
"Hafalkan , Kerjakan , dan Lupakan" Ujar Vania membuat keduanya tidak setuju, ilmu tidak boleh di lupakan." Masa udah capek-capek di hafalin harus di lupakan" Iffah tidak terima . Putri Hanya tersenyum tipis .
"Bukan gitu Iffah sayang ... Kita makan dulu baru mikir dulu" Elak Vania saat pendapatnya di tolak, jika dengan orang lain pendapatnya selalu di terima , namun Vania sangat paham semua orang tidak bisa di sama ratakan dan ia sudah dekat dengan mereka jadi tak ada istilah sakit hati .
Namun belum sampai di kantin , perhatian mereka tertuju pada seorang lelaki yang lewat di depan kantin mereka ."*Kak Farhan itu!" Seru Vania keras membuat orang yang di sebut menoleh melemparkan seulas senyum .
Putri mendelik melihat suaminya yang datang begitu saja , tanpa kabar dan dari mana ? Apa dia baru saja ketemu dengan Ustad Firman ? Putri hendak menghampiri namun ia sedang bersama temannya , namun tanpa di hampiri pun . Farhan yang datang lebih dulu* .
"Habis ketemu Abi" . Ucapnya tiba-tiba membuat Putri sedikit mundur. Kantin cukup ramai dengan santri lainnya .
"Putri gak nanya"
Iffah dan Vania bisa saja pergi dari tempat
itu dan memberikan ruang untuk keduanya jika tangan Putri tidak menggenggam erat tangan sahabatnya.
"Ujiannya gimana? lancar? " Tanya A Farhan lagi membuat Vania panas melihat perhatian pria di hadapannya , terhadap Putri sang Istri.
"*Ekhm , Mungkin pertemuan di awali dengan salam du..."
"Wa'alaikum salam , A Putri mau beli jajan dulu*" Mata Putri mengedar ke banyak mata meliriknya, membuatnya harus mengakhiri pertemuan singkat kali ini .
"Bilang aja ke ibu kantin , kalian juga bilang aja dibayarin Farhan " Berbinar keduanya . "Akhirnya di traktir lagi" Ucap Vania yang sangat antusias . Ia bisa menghemat uang jajannya.
"*Jangan sungkan ya ,aku balik dulu kalau gitu".
"Nanti ke sini lagi*?" Tanya Putri penuh harap . Farhan hanya mengangguk kecil . "Insyaallah ya nanti ku usahain . Assalamualaikum" Jawab A Farhan yang di jawab serentak oleh tiga wanita di depannya . Farhan berlalu.
"Aku deg-degan diliatin banyak orang" Tertunduk Putri selepas kepergian suaminya . "Ya sudah ayo" Ucap Putri kemudian , ia juga sudah lapar , ingin tidur siang
"Eh Neng Sabil... Tadi Aa-nya ninggalin uang Lima puluh ribu , katanya uang jajan neng Sabil" Mengerjap mata Putri , mendengar nominalnya , memang bukan nominal uang besar , namun uang santri Lima puluh ribu bisa untuk uang jajan tiga hari sampai lima hari .
"Banyak juga ya ternyata, Ya udah buat bayarin Vania dan Iffah juga ya Bu" Ucap Putri yang di balas Anggukan oleh ibu kantin . Vania dan Iffah mulai berkeliling mencari jajanan yang menarik mata sedangkan Putri masih termenung . Pertemuan sebenarnya belum mengobati kerinduannya . "Pengen ngasih hadiah juga" Gumam Putri mengingat perlakuan suaminya sangat baik memperlakukan dirinya.
__ADS_1
"Cowok sukanya apa ya?" Pikir Putri lagi , melupakan lapar di perutnya . Ia merindukan suaminya ."Put, aku udah" Vania datang lebih awal . "Aku belum beli" Kekeh Putri dan bergabung masuk antrian jajanan , ia memilih antrian yang paling sepi . Hampir setengah jam ketiganya menghabiskan waktunya di kantin , urusan bayar membayar cukup membingungkan "Masih sisa" Putri menghitung uangnya yang masih cukup banyak .
"Beli Snack aja buat di kamar ya?" Putri meminta pendapat , ia tak mungkin menggunakan uangnya untuk sendiri , sementara suaminya meminta untuk mentraktir temannya juga . Iffah dan Vania setuju . Putri masuk di koperasi dimana jajanan kering di jual dan kembali dengan kresek ditangannya .
"Aku mau nanya dong?" Tanya Putri membuat rekannya terhenti sejenak "Apa" Tanya Vania cepat.
"*Kalau cowok suka ya apa?"
"Cewek*" Ceplos Iffah membuat Vania menceploskannya pelan .
"Mau ngasih hadiah? Sepengalamanku dan orang lain bisa baju, jam , sepatu atau farfum" Putri terdiam , ia masih belum yakin untuk memberikan hadiah untuk suaminya . Ia juga ingin menunjukkan rasa sayangnya .. "*Pengen ngasih hadiah tapi uangnya kudapat dari A Farhan juga gimana? .
"Pemberian yang udah kita berikan akan menjadi hak kita , jadi tetap aja kalau uang yang kamu dapat dari suamimu dan kamu mau kasih hadiah tetap aja itu pemberian darimu"
"Iya sih kerasa aneh aja"
"Mau beli apa emang*?" Putri terdiam mendengar pertanyaan Vania .
"Farfum? Aku suka wanginya A Farhan"
"Sabill.."
"Putri.."
Teriak Vania dan Iffah bersamaan , mereka kesal melihat putri berkata dengan santainya sedangkan fikiran dua sahabatnya udah berkelana jauh.
-
-
-
Sengaja nihh upload 2 bab soalnya mau upload ke karya satunya lagi .. hehehe jangan lupa ya baca karya yang lainnya juga. Dijamin gak kalah seru juga berjudul **The Ex's Betrayal
__ADS_1
Makasih**