Jodoh Karna Allah

Jodoh Karna Allah
UJIAN KELULUSAN 2


__ADS_3

JKA. Ujian Kelulusan 2


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Ujian kelulusan berlangsung selama 4 h'ari, suasana sekolah benar-benar hening. Santri kelas tujuh bahkan sebelas dilarang memasuki area sekolah guna kelangsungan ujian kelulusan. Murid selain kelas dua belas tentu saja menyambut hari dengan suka cita, mengistirahatkan diri, menyetrika dan bergosip bersama dengan rutinitasnya.


Kelas dua belas bahkan beberapa sudah mengemasi kamarnya, memang setelah ujian kelulusan liburan panjang menyapa mereka. Belum selesai ujian pun sebagian dari mereka pikirannya sudah dirumah. Tak ada waktu untuk berleha karena ujian masuk perguruan tinggi sudah mulai membayangi siswa kelas dua belas .


"Mamaku udah daftarin aku bimbel OG"


"Masa? ibuku juga , jangan-jangan nanti kita sekelas"


"Aku di kotaku bukan disini"


Bisik-bisik murid yang baru keluar dari kelas, mendengar pembicaraan itu Putri sedikit terdiam. 'Bimbel? Haruskah' Batinnya mulai bimbang , sejauh ini ia ragu dengan kemampuannya namun bimbel? Belajar saat ini dengan berbagai cara jitu ia tetap tidak bisa mengerjakannya. "Iffah kamu daftar bimbel?" Tanya Putri uang dibalas gelengan cepat oleh iffah. "Mahal, gak berani minta duit sama orang tua, mau pake yang online saja, lebih murah dirumah ada WiFi juga".

__ADS_1


"Kualitasnya sama kok" Tambah Iffah lagi, membuat Putri. Dirumahnya juga ada WiFi. "Nanti tetap kontekan ya" Ucap Putri mulai sedih. Ini perpisahan. Sebagian siswa kelas dua belas sore ini.


"Putri... Jangan gitu dong" Mata iffah langsung berkaca. Hatinya memang sangat lembut. Beberapa mata memandangnya merasakan kepedihan yang sama namun dengan gengsi yang berbeda . "Putri.. Iffah.. Huwaa... Bakal kangen aku pasti" Heboh Vania langsung menubruk keduanya. Suara cempreng Vania. Akan selalu jadi suara yang ia rindukan.


Tangis Vania yang paling kencang. Vania memang paling manja dan selalu bergantung pada keduanya. Tangis Vania kini menular pada mata-mata yang ikut memandangnya, perpisahan tak pernah indah. Liburan memang indah namun tidak dengan perpisahan. "Pokoknya kita kudu tetap akrab, jangan jadi penikmat stori nantinya" Tekan Vania mengusap sudut matanya.


"Alay bangat sih aku, padahal paling bandel, dan banyak ngelanggar peraturan tapi nangis paling kencang diantara kalian" Vania sudah menganggap mereka sebagai keluarga, tak lagi sebatas teman .


"Gak alay kok, malah bagus" Ujar Putri menyeka air matanya . "Udah yuk, ke asrama"


"Mampir ke kantin dulu mau pesan yang pedas-pedas" Ujar Vania yang paling cepat ceria. Moodnya mudah berubah. Itulah Vania .


Iffah dan Vania kini berebut dan berlari dengan sengit menuju antrian. Siapa cepat dia dapat. Putri dengan santai mengulurkan uang lima ribu 2 lembar pada Ceu Diah yang menjual kue cubit dan ceker pedas. Ceker dan Kuenya lima ribu Bu" Pesan Putri.


****

__ADS_1


Vania, orang yang paling keras tangisnya menjadi orang yang pertama pulang siang ini. "Padahal masih pengen sama kalian" Tangisnya lagi. "Udah ditunggu, nanti kita bakal sering kontekan kok, bikin grub kalau boleh" Ucap Iffah, Putri mengangguk setuju.


"Kepada Ananda Iffah Saidah Fajri di tunggu orang tuanya ditempat penjemputan" Pengumuman itu membuat Iffah dan Vania menoleh cepat kearah Putri "Huwaa, Putri sendirian dong" Iffah merasa gak enak .


"A Farhan masih kerja" Ucap Putri.


"Kepada ananda Putri Salsabila Firdaus ditunggu suaminya di tempat penjemputan" Pengumuman itu kembali terdengar dengan kata suami yang penuh penekanan.


Deg! Suami! Sontak sorakan dari berbagai kamar mulai mencie-ciekan.


"Bisa bareng begini, Ya udah ayo bareng" Ucap Putri akhirnya tersenyum senang. Rasanya bersama keduanya memang proporsi yang paling pas.


Vania yang akan membela dengan suara lantangnya .


Iffah yang akan beradu argument dengan sisi dewasanya.

__ADS_1


Dan Putri yang sebagai menengah keduanya .


~Bersambung .


__ADS_2