
JKA. Pulang Terlambat
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Senja mengapa, penggorengan sudah dicuci bersih, Putri berasil membuat makanan sore ini. Oseng jamur kemarin gagal kini sudah berasa tak lagi hambar . Dengan tempe mendoan dari resep internet. Ia tinggal menunggu suaminya pulang .
"Aku mandi dulu", Monolog Putri karena pakaiannya basah terkena air setelah mencuci alat masaknya, jam sudah menunjukkan pukul 4 kurang seperempat. Ia bergegas mandi, sebelum suaminya pulang .
Sedikit berdandan agar tak terlihat kusam. Dari yang dibacanya, suami pulang ke rumah setelah kerja dalam keadaan yang lelah dan seorang istri dianjurkan untuk berdandan atau tampil segar sehingga mengurangi kepenatan karena pekerjaan.
Sebuah panggilan masuk, Farhan menelponnya, nomernya sudah ada di kontaknya karena Farhan yang menyimpan tanpa Putri sadari .
"Assalamualaikum Put" Sapa Farhan saat panggilannya terangkat.
"Wa'alaikumsalam A, udah mau pulang?" Tanya Putri dengan antusias, ia sudah tidak sabar untuk memamerkan masakannya saat ini .
"Aa pulang telat ya, mau jenguk istrinya rekan kerja yang melahirkan" Ucap Farhan kemudian membuat Putri terdiam lama.
"Lama ga A?" Lirihnya
"Ga tahu juga kalau itu, duluan ya, udah ditunggu soalnya . Assalamualaikum"
"Wa'alaikumsalam"
Makanan yang sudah tersaji kembali ditutup dengan tudung saji, selera makannya bahkan hilang, ia sudah antusias memasak untuk kali ini. Namun suaminya justru akan pulang terlambat. Ia kembali ke kamarnya, menunggu di balkon rumahnya. "Kenapa aku harus kecewa" Tunduk putri mematut dirinya dari pantulan ponselnya. Ia bahkan sudah merias wajahnya walau tak terlihat jelas
Jam sudah menunjukkan pukul setengah tujuh malam , namun suaminya belum juga pulang, riasan wajahnya sudah terhapus oleh air wudhunya, senyum bahkan tak terlihat dari paras elok Putri. Ia murung, semakin lama menunggu lengkungan bibirnya semakin menurun .
"Harusnya ngasih tahu dulu kapan pulangnya" Keluh Putri lagi, makanannya sudah dingin dan tak bisa dipanaskan atau akan berbahaya bagi pencernaannya. Putri membiarkannya begitu saja, tertutup oleh tudung saji dan belum kembali tersentuh setelah ia selesai memasak .
Tik..tik..tik.. Bunyi detik jam dalam keheningan , mendengarnya saja sudah membuatnya kesal. Ia merasa sudah menunggu terlalu lama. Putri terbangun saat suara motor Farhan terdengar.
Belum sempat Farhan memegang genggam pintu, Putri sudah lebih dulu membukakan pintu untuknya. "Kenapa Aa baru pulang, Putri nungguin dari tadi" Ujar Putri gak sabaran. Farhan menyeka keringat dingin angin malam .
"Assalamualaikum" Sapa Farhan mengabaikan Omelan istrinya .
"Waalaikumsalam" Jawab Putri dengan nada ketusnya .
"Iya, maaf ya lama, tadi dipaksa ikut makan dulu tuan rumahnya" Jawab Farhan yang masih di depan pintu. Putri belum memberi jalan suaminya untuk masuk kedalam rumahnya, namun setelah mendengar suaminya sudah makan ia langsung minggir tanpa sadar .
"Hei kenapa murung gitu, nungguin lama ya?"
"Kenapa Aa gak ngabarin mau pulang jam berapa?" Cicit Putri pelan .
__ADS_1
"Ponselku mati bakterainya habis, bicara di dalam aja ya, dingin diluar" Kilah Farhan, kakinya pegal terus berdiri di depan pintu sedangkan kursi Sofanya bak melambai minta diduduki.
Farhan merangkul istrinya, "Putri dah makan?" Tanya Farhan yang tak dibalas, Farhan bergegas ke dapur, kerongkongannya terasa kering. Putri hanya duduk menatap kosong petak lantai, Fathan melirik tudung saji yang berada tak jauh dari dispensernya, piring sudah tertata dengan rapi.
"Dek putri masak ya?" Tanya Farhan membuka tudung saji dan mencicip makanannya. "Enak" Gumam farhan. Tapi perutnya sudah terisi karena makan malam bersama rekan kerjanya, Farhan kembali keruang tamu .
"Putri belum makan ya, Aa mandi dulu habis itu kita makan"
"Katanya udah makan" Pandangannya masih memilih menatap ke segala arah selain suaminya, perasaannya akan melemah jika harus menatap suaminya , ia juga tak mau sorot luka di matanya terbaca karena lelah menunggu .
"Belum kenyang , makan di rumah orang gak bisa banyak-banyak, jaga image"
"Beneran mau makan? Tapi udah dingin A"
"Udah ga papa, Emang kalau gak dimakan mau diapain? Mau dibuang lagi? Kan sayang" Ujar Farhan mengelus pelan pelan Surai rambut istrinya. Beruntung kali ini ia cukup peka dengan raut kesal istrinya .
Farhan bergegas ke kamarnya untuk menyegarkan tubuhnya dalam guyuran air dari keran yang mengucur dan kembali dalam pakaian santainya . "Aku mandinya cepetkan?" Tanya Farhan putri mengangguk kecil.
"Apa tumis kuahnya aja ya A? Barangkali udah gak enak soalnya udah dari sore "
"Masih enak kok, udah dicicip tadi, Ayo" Farhan menghargai sisi khawatir istrinya yang mencoba untuk menyenangkannya. Farhan mendorong pelan bahu istrinya bak bermain kereta-keretaan menuruni anak tangga , tak memberi izin istrinya untuk berbalik protes.
"Aa udah kenyang kan? Terus bohongi Putri"
Farhan mewadahi nasinya, tak terlalu banyak karena memang ia sudah cukup kenyang. "Putri gak makan?" Tanya Farhan saat istrinya cuman terdiam. "Besok mau buat sarapan apa?" Tanya Farhan yang mulai menyendokkan nasi kedalam mulutnya, Putri yang memang belum makan dan lapar pun ikut menginduk nasi dengan centong di tangannya . Porsi makannya tidak banyak.
"A, Putri kalau sarapan gak yakin bisa dimakan, takutnya nanti Aa gak sarapan, makanya tadi pagi putri ngajak Aa beli bubur ayam" Jujur putri memberi alasan, Farhan mengangguk kecil baru menyadari maksud istrinya. Putri gak usah capek-capek , biasanya kalau dirumah liburan ngapain aja?" Tanya Farhan disela kunyahannya membuat putri mendelik tak suka, makan sambil berbicara berpotensi tersedak.
"Putri gak ngapa-ngapain, beresin rumah terus main hp seharian" Jawab Putri.
"Disini juga putri santai aja, kalau ada yang ngajak main juga Aa gak keberatan"
"Masalahnya gak ada yang ngajak main A, teman putri rumahnya pada di luar kota" Balasnya lagi. Tinggal di pesantren banyak yang mengenal kepribadian dari berbagai daerah. "Aa gak tega ninggalin Putri terus".
Farhan memang sering menghabiskan waktu dengan teman-temannya, walau sekedar nongkrong dan sibuk dengan gadgetnya masing-masing, jadi ia tahu betul bagaimana rasanya terkurung sendirian di rumah yang cukup besar . "Liburan tiga Minggu ya?"
"Iya tiga Minggu"
"Bantuin Bibi disalin mau gak? Bibi pernah ngechat aku"
"Bibi? yang kemarin foto studio? Mau mau mau" Sahut putri cepat, ia cukup takjub hanya dengan memasuki salon. "Nanti kuantar jemput, Aa bakal bilang ke bibi kok cuman buat nemenin"
"Putri mau A" Jawabnya penuh antusias, dia sudah membayangkan membantu bibinya, terlebih dirinya yang sangat awam terhadap jenis makeup dan perawatan kulit , ia akan mencoba belajar banyak , setidaknya itu lebih baik daripada berdiam dirumah menanti suaminya pulang .
__ADS_1
"Besok Aa bilang ke bibi dulu" Ucap Farhan yang berhasil membuat sinar di wajah istrinya . Tak ada lagi murung yang sejak tadi terlihat jelas pada paras istrinya .
"Tapi nanti sore gak ada yang masak, masa beli terus? nanti boros dong" Khawatir Putri, Orang tuanya sudah mewanti agar tidak menghamburkan banyak uang suami, meskipun hingga kini Putri masih terus menerima uang saku dari orangtuanya.
"Kemarin juga sempat dibuang kan? nanti sekalian belajar masak bersama bibi, Aa gak nuntut Putri bisa ini itu, cuma Aa gak mau kamu kesepian di rumah . Putri ngertikan? Aa takut Putri salah paham nantinya" .
"Putri paham kok A" Jawabnya menyunggingkan senyum tipisnya .
"A, dapat salam dari ibu, katanya Aa harus jagain Putri dengan baik" Ucap Putri tiba-tiba. Ia memang menelpon ibunya sore tadi meminta bimbingan memasak secara video call. "Ibu nyariin Aku?"
"Iya"
"Baik-baikin aku ya, Aku kan pengen dilihat jadi suami yang baik" Kekeh Farhan yang dibalas cengiran oleh putri. Suaminya terlalu baik. Sejauh ini belum ada bentakan yang pernah didapatkan olehnya, padahal saat di telpon ibunya khawatir dengan usia muda keduanya yang cenderung labil.
Makan malam berakhir dengan senyum cerah keduanya, "Karena Putri dah masak , Aa yang nguci ya"
"Bareng aja"
"Aku Aja"
"Aa kan udah cape" Putri mendorong pelan suaminya agar duduk lagu, namun kalah tenaga dan berakhir mencuci bersama, Putri yang menggosok pake sabun dan Farhan yang membilasnya.
"Putri pintar ya hitung-hitungan, semuanya bisa habis tanpa tersisa, jadi gak ada yang terbuang" Puji Farhan melihat nasinya yang terserok habis dalam piringnya begitupula dengan lauknya. Putri gak menggubris, ia merasa suaminya telah meledeknya makan terlalu banyak .
"Alhamdulillah" Gumam Putri menyelesaikan cucian piringnya. Farhan mereggangkan tubuhnya. Tak bisa disangkal tubuhnya begitu pegal , penuaan dini, itu yang tengah dirasakan dirinya saat sendinya berbunyi kretek saat di renggangkan .
"Udah sekarang tidur" Ajak Farhan yang dibalas gelengan cepat oleh Putri.
"Abis makan gak boleh tidur A"
"Kenapa"
"Kata orang nanti bisa obesitas" Jawab putri yang terus menerus dapat teguran dari temannya saat berbaring setelah makan .
"Kenapa Aa suka bangat tidur sih, Putri kan pengen banget ngobrol sama Aa, Udahan Aa pulangnya sore, berangkatnya pagi , Putri liburnya juga gak lama" Keluh Putri membuat Farhan mengatupkan bibirnya rapat. Menahan tawanya , istrinya sedang merajuk, ingin berlamaan dengannya .
-
-
-
Sampai disini dulu yah .. Jangan lupa tinggalkan jejak 😉😉🤗🤗 Makasih
__ADS_1