Jodoh Karna Allah

Jodoh Karna Allah
KEBUTUHAN


__ADS_3

JKA. Kebutuhan


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Putri" Panggil Farhan membuat Putri menoleh, "Kenapa A?"


"Eum.. Penanggalan itu ... Potensi akuratnya tinggikan?"


Raut Farhan kini berubah khawatir, bukan karena takut tapi ia sadar istrinya sangat ingin kuliah.


"Logikanya sih seharusnya akurat" Sahut putri yang juga ragu, namun ia sudah menghitung berkali-kali. Seharusnya tak perlu jadi masalah . "Ini kok gamenya gede banget sampai satu setengah giga" Keluh Putri, mengalihkan perhatian suaminya


"Ah itu, soalnya grafiknya bagus banget, belum lagi senjatanya, pakaiannya, paket komplit pokoknya" Jelas Farhan sama sekali tak membuat istrinya paham. "Ya udah Putri beresin yang ini dulu, selagi nunggu downloadnya selesai" Putri yang baru saja hendak bangun langsung di tahan oleh suaminya .


"Aku aja ya, aku kan yang makan paling banyak" Kerling Farhan membuat Putri mengangguk setuju, ia melanjutkan lagi tontonan kartunnya, matanya terus mencuri pandang ke arah suaminya yang begitu perhatian hingga seulas senyum terukir.

__ADS_1


Farhan Dhiaurahman, entah bagaimana lelaki itu begitu sabar menghadapi istrinya, begitupula Putri yang terus mencoba untuk memantaskan diri agar usianya tak lagi jadi hambatan oleh dirinya. Suaminya selalu menganggap dirinya masih kecil dan belum cukup umur untuk tahu kerasnya hidup.


Farhan melirik tabungan yang ada di ponselnya. Menimang segala kebutuhan hidupnya. Berfikir keras untuk mengelola. Pengeluarannya cukup banyak hanya untuk makan, karena ia memberikan apapun yang ia mau. "A udah selesai nih downloadnya" Ucap Putri menunjukkan ponselnya. Sesuai yang diinginkan suaminya. kabar. Farhan dengan telentang mengajari istrinya bermain game . Setidaknya ia tak akan bosan jika di tinggal bekerja nantinya .


"Dah faham?" Tanya Farhan yang tak dibalas oleh Putri yang masih mencerna pembahasan suaminya . Ia akan main secara bar bar kali ini "Siap!" Putri meninggikan suara, sudah siap untuk bermain game. Kini jemarinya semakin lihai memainkan jari kirinya. Putri awalnya selalu menabrak setiap kali masuk ke dalam rumah namun kini ia sudah cukup handal. Permainan berlangsung sengit. permainan duo, hingga matahari semakin tinggi keduanya masih tenggelam dalam permainannya.


"Ya baterainya habis" Keluh Putri, padahal ia tengah semangat membidik lawan. ia tak memperhatikan kondisi baterainya. Farhan bernafas lega, Sedari tadi ia ingin berhenti namun Putri nampa tak memberi izin untuk berhenti. "Gimana seru?" Tanya Farhan merenggangkan tangannya, ia belum kalah namun memilih mengclose tab aplikasinya.


"Wah berasa pemain handal bisa jatuhin lawan" Farhan mengulum senyum, istrinya tak tahu jika yang ia tembak adalah bot .


"Kalo mau main solo atau berdua saja ya sama aku"


"Banyak yang ngomong kasar, takut Putri nanti terpengaruh" Ucapnya lembut membuat Putri mengangguk mengiyakan.


"Tapi seru bangat asli, Putri suka! Hah! Udah jam setengah dua belas?!" Putri terkejut melihat jam yang kini udah maju 3 angka sejak ia duduk bersama. Matanya mendelik maju sesekali menguceknya . Merasa pandangannya keliru. "Ga ingat waktu kan jadinya" Farhan akui itu kesalahannya membuat Putri lalai dengan waktu namun tak ada lebih menyenangkan untuk saat ini .

__ADS_1


"Mana, yang katanya mau belajar dengan rajin buat kuliah eum?" Tanya Farhan membelai lembut istrinya.


"Doain Putri lulus Aa, putri capek tahu, masa kalau kudu belajar lagi, mau senang-senang dulu"


"Ga boleh ketagihan juga bahaya"


"Iya Aa, aku charger hp dulu" Putri pergi ke kamarnya, mencharger ponselnya di atas meja.


Belum keluar kamar, pintu kamarnya kembali terbuka, suaminya masuk. "Ngapain nyusul?"


"pede banget" Farhan bergegas ke kamar mandi dan kembali dengan kaki, lengan, rambut, dan wajah basah. Suaminya habis wudhu.


"Oh hehehe" Putri tak bisa lanjut berkata, ia sudah cukup malu dengan tebakan yang salah. "Mau ku siapin bajunya?" Tanya Farhan yang dibalas gelengan. "Masak ya"


"Kan tidak belanja tadi pagi," Kelit Putri yang dibalas anggukan .

__ADS_1


"Kalau gitu masak nasi ya , biar saya yang beli lauknya" Putri diam sejenak hingga akhirnya mengangguk. Suaminya jarang memintanya memasak ataupun masak nasi . "Iya nanti putri masak nasi" Ucapnya yang dibalas senyum tulis oleh suaminya .


Begini dulu ya .. Jangan lupa tinggalkan jejak 😉😉


__ADS_2