
JKA. SUAMI PALING PENGERTIAN
-----------------------------------------------------------------
Putri memandang lesu lantai kamarnya, hatinya sudah merindukan suaminya, ia bahkan sering ke warung bibinya yang sedikit menanjak untuk mendapatkan sinyal, berharap ada pesan yang akan datang dari suaminya. Namun penantian hanyalah tentang menunggu yang tak pasti, Putri menunduk lesu. Tak ada satupun pesan yang ia terima
Jemarinya berusaha untuk mengetik, memberanikan diri untuk pengirim pesan, namun gengsi menahannya. Putri memandang lesu, ia memilih untuk pulang, hari sudah terlalu sore. "Makasih ya Bi" Ucap Putri kepada Bibinya yang di balas anggukan oleh Bibinya
Baru Lima langkah, sebuah pesan masuk memberi getar di sakunya. Farhan. Itu yang Putri inginkan, helaan nafas berat. Pesan dari grup sohibnya
Iffah: Aku single lagi gaes
Putri mendelik membaca pesan yang di kirim Iffah. Single lagi? Cerai? Umur pernikahannya sangat sebentar. 'Apa yang terjadi?' Putri bergegas menelpon Iffah. Ia sangat khawatir dan penasaran
"Hallo!" Teriak Putri tanpa sadar
"Fah, apa yang terjadi?" Putri khawatir
"Apa, nggak apa-apa kok, emang belum jodoh aja"
"Ada masalah ya?"
"Ada, tapi nanti aja ya aku ceritanya, kalau kita ketemu biar nggak jadi miss, rahasiain juga dari teman-teman"
"Iffah.. Kaget bangat aku tuh, tapi kamu beneran nggak apa? Be there, ingat ya" Putri merasa sesak mendengar kabar buruk dari temannya. Ia bahkan sangat penasaran dengan ceritanya. "Tapi Fah"
"Kamu tuh kalau penasaran, nggak bisa bangat ya di tunda" Iffah sedikit menceritakan kisah hidupnya
Lamaran yang berlangsung mendadak karena kehendak orang tuanya, perbedaan visi misi menjadi salah satu faktor lain yang menjadi alasan, namun kenyataan yang di tutupi, adanya orang ketiga yang memang sudah lama menjadi kekasih pria itu
__ADS_1
"Jadi sekarang nggak papa?"
"Nggak papa, mungkin Allah nakdirin aku buat kuliah dulu" Menjadi kuat di hadapan orang lain, tidak ingin membuat orang lain khawatir, itulah pribadi Iffah
"Tapikan tetangga paling julid pasti bikin kesel"
"Makanya buat itu aku mau merantau dulu, sesak ya dengar omongan buruk, padahal bukan kehendak ku juga hal seperti ini terjadi" Putri merasakannya dengan sangat, tidak mudah. Terlalu sulit untuk di hadapi
"Putri... Bisa minta tolong?"
******
Putri berjalan lesu menuju rumahnya setelah mengakhiri panggilan dengan Iffah. Langkahnya pelan memasuki rumahnya "Assalamualaikum- Aa!!" Putri lari kegirangan melihat Farhan yang kini duduk di ruang tamu dengan jamuan penuh di meja
Putri menghambur dalam pelukannya, memeluk erat
"Maafin Putri A, Maaf" Putri menunduk dalam pelukannya. Air matanya menetes begitu saja, "Hei ada Ibu" Farhan menepuk pelan bahu istrinya saat ibunya kembali dari dapur "Biarin Putri kangen"
"Aa dendam ya sama Putri? A, Putri udah minta maaf lho, maafin Putri" Mata Putri kembali berkaca. Farhan tak tahan untuk memeluknya "Gemes bangat sih" Cubit Farhan pada kedua pipi istrinya
"Jadi, sekarang udah mau pulang nih"
"Mau" Jawab Putri cepat. Ia sudah cukup menyesal memilih tinggal dan mendengar ucapan buruk dari tetangganya. "Aku diomongin orang-orang di sini, katanya mana suaminya? Berantem ya? Pasti suaminya nggak mapan makanya malah milih balik, Putri nggak suka di omongin" Farhan mengulum senyum mendengar kecerewetan yang sudah lama tak di dengarnya
"Lho, emang kenapa? Benar kan yang mereka omongin" Ucap Farhan. Dirinya memang masih kurang untuk bisa di sebut suami idaman. Dirinya masih terlalu kekanakan
"Aa!"
"Ah, maaf nggak maksud ngebentak Aa"
__ADS_1
"Aa mau jalan-jalan nggak? Putri mau pamerin Aa ke orang-orang"
"Kandungannya gimana? Sehat kan? Putri ga sakit kan?" Putri terdiam. Suaminya sangat perhatian terhadapnya. Ia bahkan tak menanyakan kabar suaminya, bukankah itu pertanyaan yang seharusnya di ucapkan saat pertama kali berjumpa sekian lama
"Putri sehat kok, sempat demam aja waktu itu karena banyak nangis" Senyum tipisnya muncul, ia hanya ingin mengatakan kejujuran kepada pria di depannya. Farhan membalas senyumnya
"Aa sehat?" Tanya Putri pelan, "Aa kurusan" Tangannya menyentuh wajah yang ia rindukan, "Kurusan dari mananya" Farhan menangkap dua tangan istrinya, ia juga sempat sakit, karena tekanan pikirannya, Farhan memang lebih muda sakit karena pikiran
" Syukur deh kalau sehat, mau jalan-jalan ke mana?" Farhan melongok ke jendela "Cuman ada sawah, tapi ga papa, mau?" Putri memaksa. Ia sudah sangat muak dengan ucapan tetangganya yang tak mendasar
"Ada yang bilang Aa jelek juga! Putri nggak terima" Tambah Putri lagi, tak memberi ruang untuk suaminya mengelak. Farhan tak punya pilihan selain mengikuti pilihan istrinya
Setelah berpamitan kepada ibunya, mereka keluar seperti maunya Putri. Udara sejuk menyapa. Sawah hijau membentang kanan kiri. "Gimana tetangga ngomonginnya? Kan sawah semua?" Tanya Farhan kebingungan. Putri yang mendengar hanya berdecak sebal
"Jadi nuduh aku bohong nih" Tanya Putri membuat Farhan terdiam. Hatinya menjadi lebih sensitif. "Ya udah kita mau ke mana?" Tanya Farhan akhirnya, alih-alih menyahuti pertanyaan istrinya, Farhan memilih mencari topik lain dan Putri menyadari itu
"Sepi ternyata, pulang aja deh, Putri di omonginnya juga pas lagi jagain warung" Putri tersenyum selebar mungkin. Ia berharap wajah masam yang ada di suaminya menghilang. Ekspresi suaminya hanya datar. "Aa pengennya anak kita laki-laki atau anak perempuan?" Tanya Putri. Pertanyaan yang membuat mata Farhan berbinar cerah, senyumnya mengembang. "Kalau rencananya sih maunya cowok, biar bisa jagain adek-adeknya nanti" Jawab Farhan menahan senyumnya, ia merasa malu mendengarnya
"Kuliah Putri gimana?" Tanya Farhan hati-hati, ia tahu usaha istrinya yang begitu ingin kuliah, buku tebal bahkan tak pernah lepas sebelum pengumuman Seleksi Nasional Masuk perguruan tinggi negeri "Sambil kuliah boleh kan A" Tanya Putri ragu sendiri dengan ucapannya. "Kan ini baru bulan Juni satu bulan, Agustus masuk pas usia tiga bulan, pas umur tujuh bulan udah libur lagi, nanti semester dua cuti" Jarinya bermain menunjuk pada suaminya, kapan ia masuk, kapan ia libur.
"Putri"
"Ga papa kok, asal bisa jaga diri, jaga kesehatan" Bohong! itulah Farhan yang harus membohongi istrinya, ia khawatir, namun untuk saat ini, ia harus mengiyakan atau istrinya kembali merajuk tak ingin pulang
"Putri bisa kok A, beneran boleh?"
"Iya, nanti Aa antar, biar nanti pas ospek dapat keringanan"
"Makasih A, Aa memang suami yang paling pengertian"
__ADS_1
###Bersambung