
JKA. Waktu Yang Tepat part 2
"Senyaman dek Putri aja , tapi Abi proposional kok, dulu pas aku mondok di sini juga kayak gak dianggap anak di kelas , tapi kalau udah di luar kelas nodong terus minta duit" ,
"Aku juga pernah dihukum sama Abi, berdiri di depan kelas selama lima belas menit karena telat masuk kelas, gara-gara sepatunya hilang" Kini putri yang mendengarkan kisah suaminya dengan intens, ia sangat menyukai cara bicaranya Aa Farhan .
"*Kok gak nurun ke anaknya?"
"Siapa dan apanya yang nggak?"
"Aa gak profesional" Celetuk Putri membuat Aa Farhan memberengut kesal. "Apanya yang nggak professional* ?" Ia tak mengerti dengan arah pembicaraan istrinya saat ini.
"Aa Nikah karna di suruh kan?" Tuduh Putri membuat Aa Farhan melengguh kesal. Kembali di ungkit , ia tidak menyukai itu, namun di hadapannya adalah istrinya yang masih berusia remaja, jadi sebagai orang yang dewasa yang lebih tua , tentu saja ia sadar posisinya dan harus mengerti istrinya .
"*Enggak Sayang"
"Tuh kan Enggak Sayang "
"Sabil*..."
"Eh? Bercanda Aa" Menunduk Putri merasa takut , memikirkan apa bercandanya sudah terlewat batas , namun pria di hadapannya hanya tersenyum tipis
"Putri juga gak marah kalau A Farhan bercanda sama Putri"
__ADS_1
"Emang ada yang marah sama putri?"
"*Terus kenapa?"
"Bentar lagi doa sore kan? Gak siap-siap? Nanti telat kena hukum lho" Tanya A Farhan membuat Putri menatap tak rela , apa pertemuannya sesingkat ini ? Harusnya dia tidak menyia-nyiakan waktu dengan perdebatan yang tidak penting . "Kenapa wajahnya jadi murung gitu? Nggak rela aku pulang yah*?" Tanya A Farhan dibalas anggukan oleh Putri.
"Aa kesini lagunya kapan? boleh kesini tiap hari deh ?" Bujuk Putri membuat A Farhan terkekeh kecil . "Besok gimana? boleh? " Tanya A Farhan meminta izin , setidaknya ia juga gak bisa seenaknya datang , kesibukan materi di pesantren selalu ada .
"*Boleh banget A"
"Kalau begitu besok aku datang"
"A Farhan nggak sibuk emang?"
"Ah, datang aja pas A Farhan ada waktunya* " Ia merasa nggak enak jika terlalu banyak menuntut pada suaminya , meski bukan sesuatu yang di larang namun suaminya juga punya kehidupan yang tak meluluh tentang dirinya .
"*Jangan nangis yah?"
"Siapa yang nangis"
"Minggu lalu ada yang nangis"
"Aa*..." Bujuk Putri agar suaminya agar berhenti mengungkitnya.
__ADS_1
"Eum?"
"Pimpin Doa dong , hehe jadi imam sekalian" Pinta Putri tak ingin suaminya pergi terlalu cepat . "*Iya kalau tempatnya masih kosong ya , sekarang istri Aa belajar yang rajin ya" Pinta A Farhan dengan eyesmilenya .
"Janji besok datang*" Janji kelingking putri terpahut dengan jari kelingking A Farhan , ia tak peduli jika ia akan jadi omongan orang setelah ini asal bahagia bersamanya, itu sudah cukup bagi Putri .
"Putri pamit A, Salim" Di kecupnya punggung tangan suaminya .
"Assalamualaikum"
"Wa'alaikum salam"
****
Lantunan doa kali ini, terdengar berbeda dari nada yang biasa terdengar oleh para santri "Suaranya bagus" Ucap dari bilik akhwat saat mendengar lantunan doa . Putri tersenyum suaminya benar-benar memimpin doa . Mesjid pesantren Arrahman ummah memang hanya satu untuk seluruh santri yang di sekat dengan papan yang menjulang tinggi .
-
-
-
Kasih konflik jangan? Makasih sudah mampir di ceritaku , Kegiatan dipesantren itu benar-benar murni nyata dan bagian nikah sama anak ustad itu cuma halunya author yang gak kesampaian juga he he he 😁😁😁
__ADS_1
Big lovyou Buat semua para setia yang selalu ready di ceritaku 😍😍😍 Sayang kalian semua 😘😘😘